LinkedIn Swindler Bakal Nangis Darah! Personal Branding Pasti Hancur dan Kamu Dibenci HRD Sedunia

Silakan cek nomor kalian masing-masing di aplikasi tersebut. Penamaannya pasti beragam. Nah, bisa dibayangkan, pemberian label bagi LinkedIn Swindler akan seserampangan apa? Siap-siap untuk nangis darah, dasar kamu penipu!

LinkedIn Swindler Bakal Nangis Darah! Personal Branding Pasti Hancur dan Kamu Dibenci HRD Sedunia MOJOK.CO

Ilustrasi LinkedIn Swindler Bakal Nangis Darah! Personal Branding Pasti Hancur dan Kamu Dibenci HRD Sedunia. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COSebagai HRD, karyawan, sekaligus mas-mas biasa, saya ingatkan, konsekuensi dari pelaku LinkedIn Swindler itu berat dan sulit dihilangkan.

Sebagai platform media sosial para pekerja, LinkedIn memang cukup ideal bagi kalangan profesional untuk saling terhubung satu sama lain. Mulai dari para pencari kerja yang mencari info lowongan kerja, sampai HRD yang melakukan proses screening kandidat sekaligus membagikan info lowongan kerja. Semuanya bisa terhubung di LinkedIn. Bahkan, kalau mau membaca cerita yang menjual kesedihan berkedok motivasi pun, kini bisa dengan mudah ditemukan di platform yang, konon, terbilang cukup powerful di kalangan profesional.

Namun, sama seperti media sosial pada umumnya, LinkedIn sulit luput dari cerita yang membikin semesta internet heboh. Ya gimana, ya. Selama user-nya manusia, disadari atau tidak, suka atau nggak, akan selalu ada bahan cerita dalamnya.

LinkedIn yang tak luput dari kejahatan

Baru-baru ini, misalnya. Istilah LinkedIn Swindler (penipu) mulai ramai digaungkan di linimasa Twitter. Dalam hal ini, tentu saja para pengguna Twitter yang kemampuan mengetiknya bisa melebihi kecepatan cahaya dalam melakukan penelusuran, meminjam istilah Tinder Swindler yang ceritanya sempat heboh di Netflix itu.

Istilah LinkedIn Swindler pun nggak ujug-ujug muncul begitu saja. Singkat cerita, ada pengguna LinkedIn yang di profilnya beken betul pengalaman kerjanya. Sudah mondar-mandir ke beberapa perusahaan ternama sebagai QA/software engineer, bahkan sudah ada di level manajer.

Sampai di sini, kita sepakat bahwa sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan hal tersebut. Yang menjadi persoalan, kemudian muncul banyak komentar bahwa yang bersangkutan tidak bisa bekerja, kerjaannya kacau, dan nggak becus. Berbanding terbalik dengan apa yang dia  tampilkan di profil LinkedIn. Nggak sedikit juga yang menyalahkan pihak HRD saat melakukan proses seleksi alias ngedumel, “Kok bisa-bisanya HRD kena tipu dan mau ngerekrut kandidat kayak gitu?”

Sebentar, sebentar. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal utama yang bisa didiskusikan lebih dulu.

Mengenal bluffing dan risikonya

Di ruang lingkup pekerjaan, kejadian serupa juga dikenal dengan istilah bluffing. Secara harfiah, arti dari bluffing adalah ‘menggertak’. Cara ini biasa digunakan oleh sebagian pelamar kerja saat mencantumkan beberapa pengalaman kerja atau posisi sebelumnya di CV. Tujuannya, tentu saja agar CV terkesan mewah dan bisa menarik perhatian HRD.

Sebetulnya, dari sisi pelamar kerja (atau pekerja itu sendiri) bluffing nggak akan bikin pusing dan jadi senjata makan tuan selama yang dicantumkan di CV adalah pengalaman yang betul-betul sudah dilalui. Sehingga, mulai dari wawancara kerja sampai dengan praktiknya, pekerja bisa menunjukkan kemampuannya secara maksimal, sesuai yang dicantumkan di CV.

Sebaliknya, bagi pelamar kerja yang bluffing secara serampangan, apalagi tidak diimbangi kemampuan mumpuni, alih-alih menarik perhatian HRD dan atasan, malah berpotensi membikin keduanya jengkel nggak karuan. Dan hal ini bisa saja terjadi kepada para LinkedIn Swindler di mana pun berada.

Susahnya jadi HRD

Apakah HRD menjadi pihak utama yang patut disalahkan saat LinkedIn Swindler diterima bekerja di suatu perusahaan?

Bisa iya, bisa juga tidak.

Pertama, apakah HRD sudah melakukan background check ke perusahaan sebelumnya? Jika sudah, artinya bola ada pada perusahaan sebelumnya. Apakah sudah memberi penilaian secara fair atau hanya sembarang.

Kedua, untuk posisi tertentu, HRD atau user bisa melakukan tes dari sisi teknis saat proses seleksi berlangsung agar bisa uji kompetensi secara langsung.

Ketiga, HRD sebetulnya bisa saja melakukan analisis sederhana saat mengecek CV atau profil LinkedIn kandidat yang dimaksud. Melalui posisi atau jabatan yang didapat selama bekerja, misalnya. Namun, kemungkinan human error akan tetap ada. Bisa saja meleset. Itulah kenapa, kroscek tetap harus diutamakan.

Pada titik yang paling menyebalkan, fenomena bluffing profil LinkedIn maupun LinkedIn Swindler, punya celah untuk berjalan beriringan dengan terciptanya profil alter ego dari para penggunanya. Dan digunakan untuk tujuan tertentu yang bisa jadi menjurus kepada hal tidak menyenangkan. Sebagai suatu platform, lagi-lagi LinkedIn akan menjadi tumbalnya dan dianggap sama saja dengan platform media sosial lainnya.

Melalui CNBC Indonesia, dalam sebuah pernyataan, pihak LinkedIn mengakui ada peningkatan kasus penipuan. Sejak Juli hingga Desember 2021, menurut laporan LinkedIn, 96% dari semua akun palsu, 11,9 juta yang dihentikan saat pendaftaran, dan 4,4 juta yang dibatasi secara proaktif, sudah dihapus. Kata Grace Yuen, juru bicara Global Anti-Scam Organization, “Mereka mungkin mengklaim bahwa mereka lulus dari universitas terkenal, lalu mereka mengatakan bahwa mereka di bidang keuangan atau investasi. Terkadang bahkan mereka berpura-pura berada di industri yang sama denganmu.”

Gimana? Sudah makin akrab atau relate dengan contoh kasus sekaligus fenomena LinkedIn Swindler?

Konsekuensi yang akan diterima LinkedIn Swindler

Sebagai HRD, karyawan, sekaligus mas-mas biasa, tentu saya merasa apa yang dilakukan oleh pelaku LinkedIn Swindler tidak perlu terjadi. Sebab, ada beberapa konsekuensi yang, siap atau tidak, suka maupun tidak, harus diterima.

Pertama, personal branding di LinkedIn akan buyar seketika. Apalagi jika kasus sampai viral, tersebar di internet, dan jadi bahan rujak warganet. Dampaknya adalah sanksi sosial yang awet sepanjang zaman. Beberapa pihak pasti ragu akan kebenaran profil yang tercantum di LinkedIn, CV, atau media lain yang digunakan saat melamar pekerjaan.

Kedua, pemberian nama di aplikasi yang menyediakan layanan identifikasi nomor telepon asing atau orang tidak dikenal (seperti GetContact atau True Caller) bisa jadi akan serampangan. Ini adalah celaka yang kesekian. Sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua aplikasi yang dimaksud saat ini menjelma sebagai media personal branding digital. 

Nggak percaya? 

Silakan cek nomor kalian masing-masing di aplikasi tersebut. Penamaannya pasti beragam. Nah, bisa dibayangkan, pemberian label bagi LinkedIn Swindler akan seserampangan apa? Siap-siap untuk nangis darah, dasar kamu penipu!

BACA JUGA Menyusun CV dan Memakai LinkedIn Seharusnya Diajarkan di Bangku Kuliah dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Seto Wicaksono

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version