Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lepas Hijab tapi Justru Merasa Lebih Beriman

Novia Aisyah Ashari oleh Novia Aisyah Ashari
9 April 2021
A A
Lepas Hijab tapi Justru Merasa Lebih Beriman

Lepas Hijab tapi Justru Merasa Lebih Beriman

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Memutuskan untuk lepas hijab secara personal di Indonesia, bakal jadi persoalan komunal. Harus siap diadili.

Tulisan saya ini nantinya mungkin akan terasa nantangin bagi banyak orang—terutama bagi laki-laki muslim di Indonesia. Tapi, bagaimanapun ini pengalaman spiritual yang saya rasakan dan saya rasa perlu untuk membagikannya.

Iklan

Akhir tahun lalu saya memutuskan lepas hijab. Bukan karena biar bisa memakai baju lengan sabrina ataupun biar bisa memakai floral dress dan berbagai model baju yang cute lainnya.

Saya lepas hijab secara sadar, melewati pergulatan batin yang cukup lama, dan saya belajar tentang berbagai perspektif berhijab. Pergulatan itu akhirnya bikin saya dipertemukan literatur soal aurat yang kontesktual dan mendengarkan pendapat para cendekiawan muslim.

Singkat pengalaman, saya awalnya membaca perspektif dari Prof. Quraish Shihab dan menonton berbagai tayangan video yang menayangkan pendapat beliau soal aurat perempuan.

Proses belajar saya tersebut lalu membawa saya menuju berbagai cendekiawan lain yang punya sensitivitas kontekstual Islam serta pemahaman gender, seperti Lailatul Fitriyah, Nong Darol Mahmada, Kiai Husein Muhammad, hingga keluarga Gus Dur.

Dari merekalah kemudian saya memahami bahwa Tuhan mengapresiasi elastisitas berpikir manusia sehingga perspektif soal aurat perempuan pun sebetulnya tidak monokrom, eh, monoton alias tunggal.

Saya tahu pengalaman belajar ini juga bentuk privilese yang mungkin tidak semua perempuan dapat mengaksesnya, jadi saya hormati siapapun yang tidak sepemikiran dengan saya.

Ketika saya memutuskan menanggalkan hijab, saya tidak sedikitpun memiliki keraguan atas agama ini.

Saya juga kemudian tidak merasa “telanjang” dan “ditelanjangi” dengan penampilan baru saya karena secara pribadi menyadari bahwa saya tidak membutuhkan simbol apapun untuk menikmati keintiman saya dengan Tuhan.

Sekali lagi ini perspektif saya. Pengalaman spritual saya. Kamu jelas bisa berbeda. Dan itu tak mengapa.

Di samping karena saya memiliki perspektif hijab yang berbeda dari kebanyakan orang (setidaknya di lingkungan saya), saya juga ingin lebih berempati pada perempuan yang tidak berhijab. Itu sedikit alasan saya yang lain soal keputusan lepas hijab ini.

Saya sangat melek akan hal itu. Perempuan berhijab lebih punya privilese di Indonesia belakangan ini. Setidaknya itu yang saya rasakan setelah sebelumnya saya memakai hijab dan kini menanggalkannya.

Dengan cukup jelas, saya mengetahui ada ketidakadilan justifikasi yang didapat teman saya yang berhijab dibandingkan saya serta kawan saya yang tidak berhijab.

Iklan

Tanpa bermaksud misoginis, perempuan berhijab seringkali direduksi kesalahannya, walaupun terkadang terhitung fatal. Contoh termudah adalah, ketika perempuan berhijab melakukan tindak kejahatan, orang-orang cenderung komen, “Padahal berhijab.”

Memangnya kenapa? Memangnya hijab bikin kejahatan jadi nggak mungkin dilakukan oleh pemakainya? Dan ketika seseorang tidak pakai hijab melakukan hal kebaikan, yang terjadi juga terjadi dalam kadar sebaliknya, “Kurang nutup aurat aja padahal.”

Saya pikir itu hanya gejala yang berlangsung sebentar saja, terutama ketika tren hijab muncul. Tapi belakangan ini, stigma itu justru semakin mengerucut. Bahkan ketika ada seorang koruptor yang perempuan, bakal jadi pemandangan “lumrah” kalau ia mendadak pakai hijab untuk mereduksi kesalahannya.

Kembali lagi ke pengalaman spiritual yang saya alami. Sebelumnya saya mengatakan bahwa saya tidak memiliki keraguan apapun atas agama ini ketika mulai melepaskan hijab kepala.

Saya juga merasakan ada kesombongan yang pada akhirnya terlepas dari diri saya sekarang. Sebelumnya, saya merasa punya privilese dari Tuhan bahwa Dia lebih mencintai kami yang berhijab daripada perempuan lain yang tidak berhijab.

Dulu saya juga berpikir bahwa seberat apapun kelalaian kami, Tuhan tidak mungkin mengingatkan kami seberat perempuan yang tidak berhijab. Lingkungan saya yang konservatif memang menanamkan itu pada saya.

Ketika saya lepas hijab, pemikiran tersebut benar-benar terbantahkan karena Tuhan sering memberi saya kejutan. Terutama ketika menyaksikan orang-orang di sekitar saya yang gualaknya nggak ketulungan ketika tahu keputusan saya ini.

Anehnya, saya justru merasa dilindungi oleh-Nya dari orang-orang kayak gini. Orang-orang yang justru kelihatan cuma melampiaskan amarahnya doang, ketimbang benar-benar menasihati atau merangkul.

Dan kini saya tinggal jauh dari lingkungan saya yang konservatif itu, dan justru semakin merasakan bahwa perlindungan terbesar saya adalah diri-Nya semata.

Mungkin sebagian perasaan terlindungi saya yang dulu adalah perasaan palsu yang terbentuk dari rasa sombong. Tapi, entah kenapa saya merasa jauh lebih dekat dengan-Nya ketika kini saya lepas hijab.

Terutama ketika jauh dari orang-orang galak yang seolah memegang hak beragama di tangannya sendiri. Atau ketika makin banyak orang yang “menyerang” keputusan saya lepas jilbab.

Semakin banyak yang nyerang, hal itu jutru menambah keyakinan saya lepas jilbab. Semakin saya yakin bahwa tafsir menutup aurat pasti tak sekaku dan semaskulin itu. Maklum, karena yang “mencaci” keputusan saya ini kebanyakan memang lelaki.

Saya tidak bilang bahwa lepas hijab dapat membuat seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan ya, ini semua hanya ada dalam pengalaman empirik personal saya. Dan karena hubungan ini intim, setiap orang pasti punya ceritanya masing-masing.

Saya hanya merasakan dengan sangat pekat bahwa kini saya jauh lebih bersandar dan menikmati keimanan saya, walaupun tanpa adanya penutup di kepala. Anomali ini, biarlah saya nikmati sendiri.

Saya sudah duga bahwa tidak sedikit yang akan menghakimi saya karena pengakuan ini. Tapi itu tak mengapa, lagian siapa sih saya di hadapan hakim netizen yang mulia, terhormat, dan saya sayangi ini?

BACA JUGA Lepas Jilbab Bisa Sama Beratnya dengan Pindah Agama di Negeri Ini dan tulisan soal Hijab lainnya.

Terakhir diperbarui pada 1 April 2022 oleh

Tags: auratGus DurHijabJilbablepas hijabperempuanQuraish Shihab
Novia Aisyah Ashari

Novia Aisyah Ashari

Lahir di Malang, tinggal di Jakarta Barat.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO
Esai

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.