ADVERTISEMENT

Dilema Dokter di Kota Kecil: Pasien Konsultasi Dokter via WhatsApp, Apoteknya Malah Tutup Lebih Cepat

Dilema Dokter di Kota Kecil: Pasien Konsultasi Dokter via WhatsApp, Apoteknya Malah Tutup Lebih Cepat MOJOK.Co

MOJOK.CO – Konsultasi dokter via WhatsApp di kota kecil punya dilema tersendiri. Sebagai dokter, saya masih menerima keluhan pasien tengah malam, sementara apotek sudah tutup sejak pukul sembilan.

Sebagai seorang dokter, saya selalu mengira bahwa salah satu ujian kesabaran tertinggi manusia adalah mendiagnosis pasien degnan keluhan “masuk angin”, tetapi setelah diperiksa rekam jantungnya ternyata menunjukkan tanda serangan jantung. 

ADVERTISEMENT

Namun, saya mungkin salah. Setelah sekian lama berkecimpung di dunia telemedisin, saya menyadari mungkin saya keliru.

Kesabaran itu ternyata berubah wujud menjadi dilema batin akut ketika gawai bergetar. Berbunyi dan memunculkan notifikasi WhatsApp pada pukul sebelas malam. 

Ujian itu terasa semakin berat tatkala saya bermukim, sekaligus melayani pasien, di sebuah kota yang apoteknya sudah kompak menutup pintu besinya sejak pukul sembilan malam. 

Jangankan mencari apotek 24 jam, mencari tukang martabak yang belum mencuci wajannya saja sudah menjadi sebuah kemewahan di jam segitu.

Konsultasi dokter via WhatsApp, jam praktik yang tak mengenal tutup

Mari kita bicarakan realitas konsultasi medis di daerah non-metropolitan dengan jujur dan terbuka. Saya tidak menggunakan aplikasi telemedisin mutakhir berbintang lima yang diiklankan di televisi oleh para selebritas. 

Jalur konsultasi saya jauh lebih organik, sangat merakyat, dan berisiko tinggi mengganggu jam istirahat atau me time saya. Ya, jalur itu bernama WhatsApp.

Tidak jarang pula, ruang praktik itu bergeser secara sporadis ke meja warung kopi atau coffee shop langganan. Sedang asyik menyeruput espresso atau kopi saring, tiba-tiba ada kenalan yang menepuk pundak. 

Awalnya basa-basi menanyakan kabar, lalu ujung-ujungnya bergeser menjadi, “Dok, numpang tanya sebentar, ini anak saya dari sore mencret berlendir, bagusnya dikasih apa ya?” 

ADVERTISEMENT

Di bawah temaram lampu kafe indie dan iringan musik akustik, saya harus melakukan anamnesis kilat tanpa stetoskop.

Jalur VIP ini tentu saja hanya saya berikan kepada pasien yang sudah kenal, yang pernah duduk di hadapan saya di ruang praktik resmi. Yang rekam medisnya setidaknya sudah saya hafal di luar kepala. 

Namun, ikatan personal ini justru membuat beban moral saya menjadi dua kali lipat lebih berat.

Ketika dokter harus hafal rak obat minimarket

Ketika seorang Ayah mengirim pesan panik karena anaknya tiba-tiba muntah hebat disertai demam tinggi pada tengah malam, saya tidak bisa sekadar menjawab ala kadarnya layaknya robot pembalas pesan otomatis. Saya tidak bisa semena-mena meresepkan obat lalu mematikan data seluler dan kembali tidur. 

Saya tahu riwayat anak itu dan kecemasan orang tuanya. Namun, di saat yang sama, apa gunanya sebuah diagnosis yang sangat presisi jika tidak ada satu pun apotek yang buka untuk menebus resepnya?

Di saat apotek 24 jam hanyalah mitos atau privilage eksklusif warga yang tinggal di kota-kota besar, satu-satunya urat nadi penolong di jam sebelas malam adalah pendar lampu neon dari gerai Indomaret, Alfamart, atau Alfamidi terdekat.

Sebagai dokter, pada momen-momen kritis seperti itu, alih-alih berfokus meracik dosis dalam secarik kertas resep yang presisi, saya justru dipaksa bermetamorfosis menjadi seorang navigator ritel. 

Otak saya tidak lagi murni mencari padanan farmakologi di buku panduan medis, melainkan memindai tata letak etalase di depan meja kasir minimarket.

Apakah sediaan parasetamol sirup merek X sedang kosong di Alfamidi? Apakah obat mag cair merek Y biasanya diletakkan di rak nomor dua dari bawah di Indomaret depan SPBU, bersisian dengan rak minyak rambut dan pisau cukur?

Pasien menolak ke IGD, dokter dalam posisi serbasalah

Semakin mejadi dilema, ketika kondisi pasien ternyata membutuhkan penanganan yang jauh lebih spesifik. Kombinasinya menjadi sangat membuat frustrasi ego klinis saya. 

Dari deskripsi gejala yang dikirimkan via teks dan foto, saya tahu pasti bahwa pasien ini sudah tidak bisa lagi ditangani sekadar dengan obat minum simptomatik. Kondisinya murni kegawatdaruratan medis.

“Pak, tolong bawa bapak ke IGD rumah sakit sekarang ya. Ini gejalanya mengarah ke usus buntu akut, tidak bisa ditunda sampai besok pagi,” ketik saya dengan nada yang saya buat setegas mungkin.

Namun, balasan yang muncul di layar sering kali adalah kalimat klasik yang sukses membuat dada saya sesak.

“Aduh, jangan ke rumah sakit dulu lah, Dok. Takut disuruh opname. Belum lagi BPJS kami kayaknya nunggak dua bulan ini. Tolonglah Dok, kasih resep obat dari warung saja dulu buat nahan sakitnya semalaman ini, besok pagi baru kami urus rujukan ke puskesmas.”

Penolakan semacam ini benar-benar menempatkan saya di posisi yang serbasalah. Sebagai seorang dokter yang disumpah untuk menyelamatkan nyawa, saya tahu betul bahaya fatal dari menunda penanganan gawat darurat. 

Usus buntu yang pecah bisa berujung pada sepsis dan kematian. Namun, mengabaikan mereka dan membiarkan sebuah keluarga panik tanpa memberikan solusi apa pun di tengah malam juga bukan pilihan yang bijaksana.

Alhasil, lagi dan lagi, etalase minimarket menjadi benteng pertahanan terakhir yang sesungguhnya sangat rapuh. Saya terpaksa menekan idealisme medis saya dalam-dalam. 

Saya harus memutar otak mencari padanan Obat Bebas yang berlogo lingkaran hijau atau Obat Bebas Terbatas yang berlogo lingkaran biru di minimarket. 

Tujuannya cuma satu, sekadar meredakan gejala sementara sambil merapal doa panjang agar kondisi pasien tidak memburuk sampai matahari terbit.

Konsultasi dokter via WhatsApp: Solusinya adalah obat di minimarket

Di tengah segala kompromi medis yang melelahkan tersebut, belakangan ini saya sedikit bernapas lega melihat negara akhirnya merespons realitas lapangan ini. Jika pada masa lalu penjualan obat di ritel modern sering dianggap sebagai area abu-abu yang minim pengawasan, regulasi terbaru dari Kementerian Kesehatan dan BPOM perlahan mulai menata jalur krusial tersebut.

Aturan mengenai tata cara peredaran obat di sarana ritel modern ini seolah mempertegas sebuah fakta sosiologis yang tidak bisa dibantah. Bahwa minimarket memang telah berevolusi menjadi ujung tombak pertolongan pertama di tengah masyarakat kita.

Melalui aturan terbaru terkait peredaran obat, pemerintah secara tidak langsung mengakui bahwa minimarket memang ujung tombak pertolongan pertama di masyarakat. Mereka kini diizinkan dan diatur secara definitif untuk menjual Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas dalam kemasan siap jual.

Tentu saja, prosedurnya tidak sebebas membeli kuaci atau kacang atom. Ada pedoman tegas yang mengikat. 

Minimarket dilarang keras menjual Obat Keras berlogo merah. Mereka tidak boleh membuka kemasan primer atau mengecer obat sasetan sesuka hati. 

Yang paling penting, mereka harus menyimpan obat dalam kondisi suhu yang terjaga dan terpisah dari produk makanan yang berbau menyengat. Ini adalah langkah rasional yang patut diapresiasi agar khasiat obat penurun panas tetap terjaga dan tidak terkontaminasi aroma sabun cuci piring atau kapur barus.

Menyingkirkan sejenak idealisme demi arahan pasien datang ke minimarket

Sebagai praktisi medis, posisi ini memang sering kali menempatkan saya dalam pusaran dilema yang tiada ujung. Di satu sisi, secara keilmuan, saya sadar betul bahwa remaja yang bertugas sebagai kasir minimarket bukanlah apoteker berseragam putih yang bisa menjelaskan efek interaksi obat dengan runut.

Namun di sisi lain, realitas lapangan selalu punya cara untuk membungkam keangkuhan akademis. Ketika sebuah pesan balasan masuk pada pukul dua dini hari berbunyi, “Alhamdulillah Dok, panasnya sudah turun setelah minum obat yang dibeli dari minimarket depan, anaknya sekarang sudah bisa tidur nyenyak,” semua pemakluman teoretis itu runtuh seketika.

Obat berlogo hijau dan biru yang mejeng di dekat meja kasir itu rupanya bukan sekadar barang dagangan pencetak omzet ritel. Di kota kabupaten yang penduduknya enggan ke rumah sakit dan apoteknya terlalu cepat terlelap, obat-obatan itu adalah penyambung napas sementara bagi mereka yang sedang dihajar rasa sakit.

Maka, untuk saat ini, biarlah melalui konsultasi dokter via WhatsApp itu, saya menyingkirkan sejenak idealisme meresepkan kombinasi obat rumit itu tiap kali gawai saya berbunyi di tengah malam atau saat keluhan medis menyela obrolan santai di warung kopi. 

Biarlah saya terus mengasah kemampuan menghafal etalase obat di minimarket. Karena pada akhirnya, instruksi medis paling krusial sekaligus paling menyelamatkan nyawa bagi pasien saya bukanlah bahasa Latin yang tertulis rapi di kertas resep,melainkan arahan sederhana yang sangat membumi:

“Pak, tolong ke minimarket depan rumah sekarang ya. Coba cari obat X berlogo biru yang kotaknya warna merah, posisinya ada di rak sebelah permen karet.”

Penulis: Rifan Eka Putra Nasution
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2026 oleh .

Rifan Eka Putra Nasution

dr. Rifan Eka Putra Nasution, M.Si adalah penulis dan pembicara kedokteran dan kesehatan sekaligus penikmat kopi.