Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Iman Tanpa Syarat dari Kacamata Al-Ghazali

Ulil Abshar Abdalla oleh Ulil Abshar Abdalla
8 Mei 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kita layak mengingat kembali statemen al-Ghazali, “tak ada suatu yang lebih sempurna melebihi bentuk dunia yang ada saat ini.”

Ciri wujud yang menempati hierarki yang tinggi dalam tangga “maratib al-wujud” adalah kemampuannya untuk bertindak (al-fi‘l). Tindakan adalah konsekwensi wujud yang memiliki kemampuan untuk mengetahui dan berkehendak. Manusia adalah wujud yang demikian itu.

Tindakan biasanya lahir karena didahului oleh fase sebelumnya yang bersifat mental, dan karena itu tak tampak di luar: yaitu, pengetahuan (al-‘ilm) dan kehendak (al-iradah).

Tentu saja, binatang juga bisa bertindak, dan karena itu ia memiliki martabat wujud yang lebih tinggi dari, misalnya, tumbuh-tumbuhan atau bebatuan. Tetapi tindakan binatang secara kualiatif berbeda dari tindakan manusia.

Meskipun dilandasi oleh kehendak juga (mungkin kehendak dalam tingkatnya yang primitif, awal sekali), tindakan binatang jelas tidak dilandasi oleh pengetahuan. Sementara tindakan manusia didasari oleh kedua hal itu.

Dalam hal ini, tindakan manusia boleh dikatakan agak mirip dengan tindakan Tuhan. Sebab tindakan Tuhan juga berasaskan dua hal tersebut: al-iradah dan al-‘ilm.

Sekali lagi, menegaskan kembali apa yang sudah saya tulis sebelumnya, kemiripan semacam ini dimungkinkan karena memang ada “nafkhah ilahiyyah” (tiupan Tuhan) dalam penciptaan manusia. Karena itu, manusia kemudian semacam Imago Dei, citra-nya Tuhan – istilah yang biasa dipakai dalam teologi Kristen.

Hanya saja, dari segi derajat dan martabat, tindakan manusia tentu saja berbeda dan jauh berada di bawah derajat tindakan Tuhan. Tindakan manusia bersifat derivatif, dalam pengertian berasal dari, dan dilandaskan pada tindakan Tuhan. Tindakan Tuhanlah yang memungkinkan manusia bertindak. Tindakan Tuhan adalah syarat-kemungkinan (condition of possibility) bagi tindakan manusia.

Mari kita ikuti penjelasan al-Ghazali mengenai tindakan Tuhan ini:

“Wa-annahu subhanahu wa-ta‘ala la maujuda illa wahuwa haditsun bi-fi‘lihi, wa-fa’idlun min ‘adlihi, ‘ala ahsan al-wujuhi wa-akmaliha wa-atammiha wa a‘daliha… wa la-yutashawwaru al-zulmu mina-l-Lahi”—dan sungguh tak ada sesuatu yang maujud (ada) kecuali terjadi secara temporal (haditsun) melalui tindakan Tuhan, dan memancar dari keadilan-Nya, seturut dengan bentuk yang paling indah, sempurna, lengkap, dan adil; tak ada kezaliman dalam tindakan Tuhan.

Di sini kita berkenalan dengan gagasan yang amat penting dalam akidah Islam: keadilan dalam af’al atau tindakan Tuhan. Tindakan Tuhan adalah tindakan dalam bentuknya yang paling sempurna, paling adil.

Meskipun pada pemahaman manusia yang terbatas tampak ada tindakan Tuhan yang seolah-olah tak adil, bahkan jahat (seperti bencana yang menewaskan ratusan ribu nyawa), tetapi jika diselami lebih jauh, akan tampak keadilan Tuhan di sana.

Kita layak mengingat kembali statemen al-Ghazali: laisa fi-l-imkan abda‘u mimma kan; tak ada suatu yang lebih sempurna melebihi bentuk dunia yang ada saat ini—dengan segala penderitaan di dalamnya.

Lagi-lagi di sini kita berhadapan dengan “misteri agung” yang tak mudah dipahami kecuali oleh mereka yang diberikan “insight”, mata batin yang tajam oleh Tuhan. Inilah masalah “teodisi” yang memang akan terus menjadi teka-teki manusia hingga kapanpun.

Iklan

Ujian terberat untuk memegang doktrin keadilan Tuhan ini adalah pada saat seseorang berhadapan dengan “situasi liminal”—penderitaan ekstrem yang melebihi kemampuan normal.

Menghadapi situasi ini (semoga Allah menjauhkan kita darinya!), sikap yang dianjurkan Islam, terutama dalam perspektif akidah Asy‘ariyyah, adalah menaruh kepercayaan yang tanpa syarat (un-conditional faith) terhadap keadilan Tuhan.

Iman yang tanpa syarat berarti: seseorang percaya total bahwa tindakan Tuhan, walau tampak “tidak fair” di permukaan, adalah adil jika dilihat dalam “the grand scheme of things”, gambar besar peristiwa.

Ketika menghadapi situasi liminal semacam ini, seseorang bisa memilih di antara dua alternatif ini: atau bersikap nihilistik total, atau menaruh kepercayaan total bahwa apapun yang terjadi adalah karena suatu “tujuan” baik. Yang terakhir itu adalah sikap iman yang tanpa syarat.

Sementara sikap yang nihilistik lain memandang hal ini secara berbeda: segala hal terjadi murni karena “chance,” kebetulan, “random,” seperti dadu yang dilempar ke papan permainan—tak ada tujuan, nihil hikmah.

Jika seseorang sedang tertimpa musibah, itu karena apes saja, karena ia sedang mendapatkan “undian” yang sial. Sikap nihilistik semacam ini menggambarkan “tawakkal yang negatif,” sementara sikap beriman “tawakkal yang positif.”

Anda, tentu saja, boleh memilih jalan yang nihilistik. Tetapi, jelas, itu bukan jalan seorang beriman.


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2020 oleh

Tags: al-ghazaliihyaWisata Akidah
Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla

Cendikiawan muslim.

Artikel Terkait

Kolom

Masa Depan Agama-agama Dunia

23 Mei 2020
Kolom

Argumen Keberadaan Tuhan untuk ‘New Atheists’

22 Mei 2020
Kolom

Kita Tak Bisa Lagi Beragama secara Solipsistik

21 Mei 2020
Kolom

Masih Relevankah Doktrin Politik Sunni pada Masa Ini?

20 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.