No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

Ilustrasi No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius.

MOJOK.CONo Na tidak perlu pidato berapi-api, atau kisah heroik untuk membawa Indonesia ke panggung dunia. Mereka cukup membawa bunyi klakson telolet.

Ada banyak cara untuk menyiarkan kebudayaan Indonesia kepada dunia. No Na memilih salah satu yang paling tidak terduga: membunyikan klakson melalui single terbarunya, “honk!”.

Sepanjang klip, tidak ada simbol adiluhung kebangsaan. No Na lebih tertarik menghadirkan sesuatu yang jauh lebih banal: bunyi klakson, budaya jalanan, angkot, dan serpihan keseharian Indonesia yang selama ini mungkin tidak cukup resmi untuk disebut identitas nasional.

Namun, justru di situlah daya tariknya. No Na mempertemukan visual angkot dengan bunyi klakson yang mengingatkan publik pada fenomena “Om Telolet Om”. Sesuatu yang tadinya hanya akrab di jalan raya, terminal, dan linimasa media sosial, dikemas ulang menjadi musik pop modern.

Respons publik di ruang digital pun positif. Apalagi “honk!” dirilis pada 31 Juli 2026, menjelang perayaan tujuhbelasan. Lagu tersebut kemudian dibawakan No Na di panggung Head in the Clouds Los Angeles 2026.

Tanpa perlu berteriak bahwa inilah karya nasionalis, No Na berhasil membawa kebisingan jalanan Indonesia ke panggung internasional.

“honk!” No Na dan film Merah Putih: One for All

Fenomena tersebut menarik jika diletakkan berdampingan dengan apa yang terjadi setahun sebelumnya.

Menjelang peringatan HUT ke-80 RI pada Agustus 2025, publik diramaikan oleh kontroversi film animasi Merah Putih: One for All. Karya yang sejak awal memanggul beban simbolik nasionalisme itu justru dihujani kritik, terutama karena kualitas visual dan penggarapannya yang dinilai serampangan.

Tentu saja kedua karya tersebut tidak sepenuhnya sebanding. Yang satu merupakan lagu pop, sedangkan yang lain film animasi bertema kebangsaan. Namun, baik lagu honk! dan film Merah Putih: One for All membuka percakapan yang sama: identitas Indonesia tidak otomatis menjadi kuat hanya karena sebuah karya dijejali bendera, persatuan, kepahlawanan, dan berbagai simbol nasionalisme.

Sebaliknya, sesuatu yang tampak remeh seperti klakson telolet justru dapat terasa sangat Indonesia.

Indonesia memang tidak selalu perlu dikemas secara resmi untuk dikenali sebagai Indonesia. Kadang-kadang, semakin keras sebuah karya berteriak tentang nasionalisme, semakin terasa artifisial pula hasilnya. Sementara itu, sesuatu yang lahir dari keseharian justru dapat menghadirkan Indonesia dengan lebih alami.

“Honk!” mungkin tidak sepatriotik Merah Putih: One for All. Namun, lagu itu terasa lebih dekat dengan Indonesia yang sungguh-sungguh dijalani masyarakat.

Identitas Indonesia bukan sesuatu yang sudah selesai

Dalam Cultural Identity and Diaspora, Stuart Hall menjelaskan bahwa identitas budaya bukan sesuatu yang sudah selesai atau paripurna. Identitas tidak hanya berbicara tentang siapa kita, tetapi juga terus bergerak dalam proses menjadi.

Artinya, identitas Indonesia tidak harus selalu ditemukan dalam bentuk-bentuk yang sudah diresmikan negara. Ia dapat muncul dari kebiasaan masyarakat, bahasa sehari-hari, makanan, kendaraan umum, musik populer, sampai bunyi klakson di jalan raya.

Persoalannya kemudian adalah siapa yang berhak menentukan sesuatu dapat disebut Indonesia atau tidak.

Selama bertahun-tahun, negara memiliki posisi dominan dalam menentukan simbol nasional. Kita mengenal Indonesia melalui bendera, lagu kebangsaan, pakaian adat, rumah tradisional, tarian daerah, dan upacara yang hampir selalu ditampilkan dengan suasana khidmat.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, Indonesia tentu jauh lebih luas daripada daftar simbol yang tercetak di buku pelajaran.

Indonesia juga hidup dalam tulisan di belakang truk, suara pedagang keliling, dangdut koplo, angkot yang penuh stiker, meme politik, sampai bunyi klakson yang diminta anak-anak di pinggir jalan.

No Na menangkap Indonesia yang semacam itu. Bukan Indonesia sebagai barang pajangan, melainkan Indonesia yang berisik, bergerak, jenaka, dan dijalani setiap hari.

Dari imagined community menjadi remixed community

Benedict Anderson menyebut bangsa sebagai imagined community: sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya tidak saling mengenal, tetapi mampu membayangkan diri sebagai bagian dari kelompok yang sama.

Pada masanya, surat kabar dan berbagai medium komunikasi massa mempunyai peran penting dalam menciptakan pembayangan tersebut. Jutaan orang yang tidak pernah bertemu dapat membaca kabar yang sama, membicarakan peristiwa yang sama, lalu merasa menjadi bagian dari dunia yang sama.

Kini medium pembayangan tersebut berubah. Infrastruktur budaya digital bekerja dengan logika berbeda dari media konvensional.

Di ruang digital, identitas nasional tidak hanya dikumandangkan dari atas. Ia juga dikreasikan bersama-sama. Satu orang membuat meme, orang lain menyebarkannya, orang ketiga membuat video reaksi, sedangkan orang keempat mengubahnya menjadi parodi. Algoritma kemudian mempertemukan semuanya dengan jutaan pengguna lain.

Jika Anderson menyebut bangsa sebagai imagined community, ruang digital membuat Indonesia berkembang menjadi apa yang dapat kita sebut sebagai remixed community: kebersamaan yang terus diproduksi ulang melalui lagu, meme, parodi, dan video pendek.

Dalam komunitas semacam ini, yang terpenting bukan hanya siapa yang pertama kali menciptakan sebuah simbol. Yang jauh lebih menentukan adalah siapa yang mampu mengolahnya menjadi makna baru.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari logo resmi HUT ke-81 RI. Pemerintah melibatkan masyarakat dalam pemilihan logo melalui jajak pendapat terhadap lima karya finalis yang sebelumnya telah melewati proses seleksi dan kurasi.

Namun, ketika logo resmi itu bersilaturahmi ke ruang digital, ia tidak berhenti sebagai produk pemerintah. Publik mengolahnya kembali menjadi berbagai parodi dan satire mengenai persoalan sosial, ekonomi, dan politik.

Ada yang mengubah angka 8 menjadi tubuh politisi tambun dan mengontraskannya dengan tubuh kerontang rakyat pada angka 1. Ada pula yang menggubah angka 8 menyerupai borgol, sedangkan angka 1 menjadi peluru. 

Tak kalah jenaka, muncul desain angka 81 berbentuk ompreng lengkap dengan sendok garpu. Juga, desain angka 81 hasil kombinasi kartu domino. Hampir seluruhnya merupakan satire terhadap berbagai masalah sosial, ekonomi, dan politik yang tengah diperbincangkan publik.

Di titik itulah masyarakat merebut kembali hak untuk menafsirkan simbol nasional.

Nasionalisme dan kritik terhadap pemerintah tidak harus ditempatkan sebagai dua kutub yang berlawanan. Seseorang dapat mengkritik pemerintah justru karena peduli dan merasa mempunyai negara ini. Satire tidak selalu menunjukkan kebencian terhadap Indonesia. Ia justru dapat menjadi tanda bahwa masyarakat masih ingin terlibat dalam percakapan tentang masa depan Indonesia.

Nasionalisme tidak harus selalu tampak patriotik, contohnya No Na

Karena itu, pengertian kita mengenai nasionalisme perlu diperluas. Nasionalisme tidak bisa terus-menerus dibayangkan dalam bentuk yang seragam, resmi, dan saklek.

Bangsa ini juga dibangun melalui hal-hal yang tampak remeh. Melalui pengalaman sehari-hari yang membuat jutaan orang merasa akrab meskipun tidak saling mengenal.

Di tengah kecemasan mengenai generasi muda yang dianggap tidak lagi mencintai tanah air, kita mungkin perlu mengambil jeda. Nasionalisme generasi yang tumbuh di ruang digital tentu berbeda dari generasi yang dibesarkan oleh perang kemerdekaan dan masa formatif republik.

Generasi hari ini tidak selalu mengekspresikan keindonesiaan melalui upacara, slogan, atau lagu perjuangan. Mereka dapat menemukannya dalam musik populer, meme, video pendek, tren media sosial, dan berbagai tanda kebudayaan yang terus diolah bersama.

Fenomena “honk!” menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada keberhasilan sebuah lagu. Ia memperlihatkan bahwa identitas nasional semakin sering muncul dari bawah: dari praktik keseharian, lalu bergerak melalui jaringan digital menuju ruang global.

No Na mengemas suara klakson musikal dan dinamika transportasi urban Indonesia ke dalam video musik yang beredar luas di platform digital. Identitas lokal tersebut kemudian dibawa ke panggung internasional melalui penampilan “honk!” di Head in the Clouds Los Angeles 2026.

Realitas akar rumput kini mempunyai daya tawar di pentas global. Dunia mungkin tidak memahami seluruh konteks di balik angkot dan klakson telolet. Namun, justru melalui kekhasan itulah sebuah karya dapat menarik perhatian.

Indonesia tidak selalu harus dikemas sebagai Indonesia untuk dapat dikenali sebagai Indonesia. Semakin bebas masyarakat mengolah dan menciptakan kembali berbagai tanda kebudayaannya, semakin hidup pula identitas tersebut.

Sebab, identitas Indonesia bukan produk final dan nasionalisme adalah percakapan yang belum selesai. Suara yang paling Indonesia pun tidak selalu datang dari pidato kenegaraan setiap Agustus.

Kadang-kadang, ia muncul dari musik, meme, angkot, dan bunyi klakson: honk!

Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: 3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai

Exit mobile version