MOJOK.CO – Baby Boomer punya persoalan ketika berhadapan dengan AI. Gen Alpha, malah bersenang-senang dan jadi ketergantungan.
Kalau ditanya siapa yang paling nyaman dengan AI, kebanyakan orang akan menebak bahwa anak muda adalah jawabannya. Tetapi, survei Numerator terhadap 5.000 responden di 2026 justru mematahkan asumsi itu.
Temuan ini sebenarnya mengungkap bahwa respon terhadap AI tidak linear berdasarkan usia. Generasi muda tidak otomatis lebih menerima, generasi tua tidak otomatis lebih menolak. Cukup menjelaskan pro-kontra penggunaan AI yang terjadi saat ini.
Namun, fokus masalah bukan pada temuan awal ini, melainkan temuan lanjutan bahwa 66% Baby Boomer kesulitan membedakan konten AI dan konten riil. Tumbuh dan beradaptasi di era “no pic = hoax” membuat visualisasi dan suara yang meyakinkan terasa cukup sebagai bukti, bahkan jika dirasa too good to be true.
Tidak hanya Baby Boomer, Gen Alpha yang generasinya paling berjauhan ini menghadapi tantangan yang berbeda. Keduanya tidak menghadapi kerentanan yang sama. Arah dan akar masalahnya jauh berbeda.
Baby Boomer dan Gen Alpha, dua risiko berbeda
Seorang Baby Boomer membuka media sosialnya dan menemukan video seorang petani tua yang bercerita tentang perjuangan hidupnya. Gambarnya jernih, suaranya menyentuh, ceritanya terasa nyata.
Ia kemudian langsung membagikannya tanpa tahu bahwa tidak ada satu pun elemen dalam video itu yang benar-benar ada. Inilah yang disebut Boomer Trap.
Gambar atau video AI yang menampilkan pekerja sederhana, pemandangan indah, atau kisah yang menyentuh hati. Generasi Baby Boomer merespons dengan cepat secara emosional, berbagi tanpa mempertanyakan keasliannya. Terkadang jatuh dalam jurang scam.
Di ujung lainnya, Gen Alpha justru tumbuh bersama AI. Survei PwC terhadap lebih dari 1.000 anak usia 7-14 tahun menemukan bahwa 38% remaja usia 13-14 tahun sudah menggunakan AI untuk bersenang-senang. Bagi generasi ini, teknologi memang sudah ada dari awal dan bukan hal baru.
AI bagi mereka belum menjadi ancaman, bukan pula sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Yang mereka tolak bukan konten AI-nya, melainkan konten yang terasa membosankan atau tidak relevan.
Baby Boomer lebih rentan karena tidak memiliki kerangka untuk memverifikasi konten AI.
Gen Alpha, sebaliknya, justru tumbuh dengan kesadaran teknologi yang lebih tinggi dan sudah bisa memilah konten secara intuitif.
Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kedekatan mereka dengan AI memunculkan risiko berbahaya yang berbeda: ketergantungan pada jawaban instan, menurunnya kebiasaan berpikir kritis, hingga kecenderungan terlalu mempercayai sistem yang sebenarnya juga bisa salah.
Misalnya, penelitian The Dark Side of AI in Indonesian Education (2025) menyebut bahwa penggunaan AI yang berlebihan pada Generasi Alpha berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis karena anak terbiasa memperoleh jawaban instan dari ChatGPT dan sistem AI lainnya. Penelitian tersebut juga menyoroti risiko ketergantungan terhadap AI dalam proses belajar.
Label AI membantu atau membingungkan?
YouTube baru saja mengumumkan sneak peek dari dua pembaruan untuk AI generated content pada 27 Mei 2026. Label AI dipindah ke posisi yang jauh lebih terlihat.
Langsung di bawah video untuk konten panjang, dan overlay untuk Shorts. Rilis baru tersebut juga digadang akan menyediakan deteksi otomatis untuk pelabelan konten AI, bahkan jika creator tidak mengungkapkan penggunaan AI di dalam pembuatan videonya.
Tiktok dan Facebook pun sebenarnya serupa. Sudah sejak lama menerapkan sistem deteksi & label AI, namun posisinya tidak sejelas pembaruan tersebut. Artinya? Berbagai platform sudah mulai sadar tentang kekhawatiran orang-orang terkait konten AI.
Namun apakah sudah efektif? Singkatnya, untuk saat ini belum.
Dua kekhawatiran muncul bersamaan. Pertama, jika video AI tidak terdeteksi dan beredar tanpa label, sebagian pengguna mengkonsumsinya sebagai konten “nyata” tanpa sadar.
Kedua, jika video asli justru terdeteksi sebagai AI dan terlabel secara keliru, kepercayaan penonton terhadap creator pun ikut terdampak. Dua skenario yang sama-sama merugikan, dari dua sudut pandang berlawanan.
Label AI adalah langkah yang tepat bagi platform untuk membantu Baby Boomer. Update Youtube menyelesaikan masalah visibilitas. Terdapat satu detail menarik pada pengumuman update Youtube.
Pada update terbaru, penambahan label tidak mengubah cara video direkomendasikan dan juga tidak memengaruhi monetisasi creator. Sangat disayangkan bahwa tidak ada alasan kuat atau konsekuensi untuk menyadarkan creator terkait pentingnya transparansi dan pelabelan AI.
Akhirnya, sebagian konten AI akan tetap beredar tanpa label.
Gap yang perlu dikelola bukan hanya soal teknologi deteksinya. Ada gap yang lebih dalam. Gap literasi yang berbeda untuk dua generasi yang berbeda.
Solusi hadapai gap literasi Baby Boomer dan Gen Alpha
Untuk Baby Boomer, label AI adalah alat bantu yang tepat. Tetapi, alat bantu hanya bekerja jika penggunanya tahu cara membacanya.
Yang dibutuhkan adalah literasi konteks. Memahami bahwa label kecil itu bermakna. Bahwa suara yang terdengar alami, bisa jadi sintetis, dan bahwa wajah yang tampak nyata, bisa jadi rekaan semata.
Caranya praktis dan tidak mahal. Program literasi media di tingkat komunitas, konten edukasi pendek di platform yang mereka gunakan, hingga peran keluarga yang lebih aktif.
Namun, ancaman yang dihadapi Gen Alpha mungkin justru lebih berbahaya. Jika Baby Boomer rentan tertipu oleh konten AI, dampaknya biasanya bersifat sesaat, yaitu salah informasi, salah persepsi, atau bahkan menjadi korban penipuan.
Pada Gen Alpha, risikonya lebih mendasar. Ketika AI selalu tersedia untuk menjawab, merangkum, dan bahkan mengambil keputusan sederhana, kemampuan untuk mempertanyakan, menganalisis, dan membangun penilaian secara mandiri perlahan bisa melemah.
Mereka mungkin mampu mengenali bahwa sebuah gambar dibuat AI, tetapi belum tentu terbiasa bertanya apakah informasi di balik gambar tersebut layak dipercaya.
Untuk Gen Alpha, solusinya berbeda. Bukan kemampuan mendeteksi. Hal itu sudah mereka miliki. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menilai.
Mendeteksi tanpa menilai hanya menghasilkan ketidakpedulian. Kurikulum sekolah perlu mengintegrasikan berpikir kritis terhadap konten digital, bukan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi dalam pembelajaran sehari-hari sehingga etika penggunaan teknologi juga terbangun sedari dini.
Label AI bukan musuh, tapi siapa yang bertanggung jawab?
Label AI bukanlah musuh. Justru menjadi bagian dari solusi dan bentuk penggunaan teknologi yang etis.
Yang perlu dilengkapi sekarang adalah ekosistem di sekelilingnya, literasi yang memadai, deteksi yang lebih rapat, dan sistem insentif yang mendorong kejujuran bukan sekadar mengakomodasi kelalaian dan ketidakpedulian.
Dalam dunia teknologi, sistem yang baik dirancang bukan untuk pengguna yang paling melek teknologi, melainkan untuk yang paling membutuhkannya.
Infrastrukturnya sudah dibangun sedemikian rupa, namun perencanaan etika penggunaan dan literasinya belum. Dan selama gap itu masih ada, label sebaik apapun tidak akan bekerja sendiri.
Siapa yang bertanggung jawab menutup gap itu? Ini pertanyaan yang perlu kita balik dan renungkan bersama.
Penulis: Rebecca La Volla Nyoto
Editor: Agung Purwandono
Baca Juga: Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’ dan tulisan Esai menarik lainnya
