Kisah di Balik Layar Aktor Film Indonesia, Balada Mereka yang Menyandang Status Second Layer

Saya punya banyak cerita lucu, menarik, serta inspiratif dari film Indonesia. Suatu saat akan saya ceritakan ke kalian semua.

Kisah di Balik Layar Aktor Film Indonesia, Balada Mereka yang Menyandang Status Second Layer MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah di Balik Layar Aktor Film Indonesia. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COAda banyak kisah menarik dari balik layar film Indonesia. Salah satunya soal dinamika kehidupan para aktor dan aktris second layer.

Istilah second layer actor kali pertama saya dengar dari almarhumah Ria Irawan. Ketika itu, dengan gaya bercanda, dia menyemangati saya yang karier keaktorannya di dunia film Indonesia kok gitu-gitu aja nggak ada progres. Selalu saja saya ini jadi aktor pembantu atau aktor pelengkap yang menemani tokoh utama di dalam menjalankan roda bergulirnya sebuah kisah film. Akhirnya saya pun sering juga memakai istilah second layer actor dan keterusan sampai sekarang. 

Dalam sebuah wawancara, seorang sutradara yang juga produser terkenal Indonesia pernah memberikan sebuah pernyataan bahwa dia tidak pernah membeda-bedakan status aktor di film Indonesia. Mana itu aktor utama, aktor pendukung, aktor pelapisnya pendukung, figuran dengan dialog, atau figuran tanpa dialog yang diambil gambarnya dari kejauhan. Menurut dia, semua itu sama-sama penting. Karena mereka itu adalah aktor. Tidak ada itu aktor nasional, atau aktor daerah, atau aktor lokal. Dan aktor itu ya aktor saja, semua akan setara. 

Ya tapi kan itu kan hanya katanya. Apakah kenyataannya benar demikian?

Sebagai seorang aktor yang juga pernah merasakan jadi figuran, saya akan meng-counter pernyataan tersebut. Apa yang dikatakan oleh produser sekaligus sutradara di atas saya maklumi. Itu hanya jawaban diplomatis seorang filmmaker ketika berhadapan dengan media agar dirinya bisa menjadi media darling yang memancarkan aura positif.

Hal demikian ini setara dengan pidato pernyataan pejabat publik yang bilang bahwa kini perekonomian masyarakat sudah merata, tidak ada lagi jarak yang jauh antara si miskin dan si kaya. Atau pernyataan tentang membaiknya tingkat ekonomi masyarakat dan sudah berhasil menekan angka kemiskinan dan pengangguran, padahal nyatanya angka pengangguran masih tinggi, dan jurang kemiskinan masih lebar menganga. 

Apa yang dilakukan oleh pejabat publik dan produser sutradara itu saya maknai sebagai pernyataan yang berbunga-bunga penuh rasa manis madu. Itu hanyalah sebuah gaya bahasa untuk menyenangkan hati banyak orang.  

Sekali lagi saya tekankan, terkadang seseorang memang perlu memberikan vibrasi positif tentang apa saja. Apa lagi kalau bukan dia ingin menjadi media darling yang dicintai publik.

Padahal kenyataannya ada pula yang menganggap figuran di film Indonesia itu bukan aktor. Jelek-jelek begini, saya dulu juga pernah juga lho menjadi figuran. Di sebuah film yang tidak perlu saya sebutkan judulnya.

Saya dibayar Rp100 ribu perhari ketika menjadi figuran yang pakai dialog sederhana. Kalau dialognya agak rumit, biasanya berkisar Rp200 ribu sampai RP300 ribu. Sementara figuran yang sama sekali tidak ngomong, ya cuma Rp50 ribu. Tapi itu kan dulu, di zaman saya masih kuliah. 

Saat ini umur saya 40 tahun. Sekarang, zaman memang sudah berubah, ada laju inflasi yang ikut juga mendongkrak harga-harga. Hari ini, ketika tulisan ini ditulis, minimal honor figuran film Indonesia adalah Rp150 ribu.

Sementara itu, honor artis yang menjadi aktor atau aktris utamanya berkisar antara puluhan sampai ratusan juta. Belum lagi yang terjadi di lapangan medan tempur persyutingan, sangat mungkin terjadi perbedaan fasilitas hospitality. Saat menunggu giliran syuting misalnya, para pemain utama akan ditempatkan di ruang ber-AC yang sediakan kasur dan kursi empuk. Ada camilan, keranjang buah, dan minuman dingin bersoda yang bisa dicomot setiap saat. 

Sementara itu, untuk figuran harap bersabar karena harus menunggu di ruangan biasa non-AC dan hanya ditemani sebotol Aqua 600ml serta segenggam arem-arem. 

Terkadang ada juga pembedaan dalam hal makan siang atau makan malam, yang satu makan prasmanan yang lain makan nasi kotak. Atau di area hospitality yang lain, ketika memilihkan penginapan ketika syuting di luar kota misalnya. 

Ada kalanya produser, sutradara, dan artis utama akan diinapkan di hotel bintang lima. Lalu, kru produksi film yang levelnya chief, akan berada di hotel bintang tiga, bersama para aktor dan aktris pendukung. 

Sementara itu, kru level akar rumput akan ditidurkan di losmen yang kamarnya tanpa AC. Lalu figuran tidur dimana? 

Nah, kalau syuting di luar kota, jika membutuhkan banyak figuran, biasanya tim produksi melalui talent coordinator akan mencari penduduk sekitar. Jadi bisa berhemat tidak perlu menanggung biaya kamar hotel buat puluhan, bahkan ratusan figuran. Para warga sekitar lokasi akan dikumpulkan dan dilatih sebentar sebelum syuting untuk menjadi figuran sebuah film Indonesia. Nggak susah kok jadi figuran. Sumpah, deh!

Tapi harap dicatat ya, itu tidak berlaku untuk semua produksi film Indonesia. Ada juga production house atau rumah produksi film yang memegang prinsip sama rasa sama rata. Tidak ada sistem pembedaan kelas atau golongan. 

Semua pemain utama, pemain pendukung, dan kru bisa jadi akan ditempatkan di hotel yang sama. Begitu juga dengan makan minum dan logistik yang lain. Jika saya ketika di-calling sebagai aktor, dan terlibat di sebuah produksi film model begini, sudah pasti saya akan angkat topi dan menaruh rasa hormat setinggi-tingginya. 

Pada umumnya, para aktor pendukung atau biasa disebut sebagai supporting talent yang bertugas untuk mendukung atau menemani tokoh utama untuk menjalani roda cerita dalam sebuah film, akan dipilih oleh sutradara karena dia akan membantu memperkuat keberadaan si aktor utamanya. Jadi tidak boleh, apabila si aktor pendukung ini justru auranya melebihi si aktor utama. Kalau sudah begitu maka si sutradara akan sama saja melakukan bunuh diri secara kreatif. 

Misalnya nih contoh kasus, ada tokoh A dan tokoh B. Si A tokoh utama yang sebelumnya adalah bintang film besar dengan jumlah follower yang banyak, lalu sementara si B adalah aktor tokoh pendukung, yang belum terlalu terkenal. 

Pada praktiknya, bisa jadi saat proses syuting di lapangan, ternyata si B ini mainnya jauh lebih bagus dari bintang utamanya. Istilah kerennya, akting si B telah menelan akting si A. Atau si aktor B telah mencuri panggungnya si bintang film A.

Anda harus tahu, kalau itu sudah terlanjur terjadi saat syuting, maka di meja editing, proses penyelamatan itu terjadi. Porsi akting si B dikurangi, dihapus, atau bakal dipilihkan shot dari kamera yang agak jauh. Jadi, eksistensi akting si tokoh utama akan terselamatkan dan tidak akan terganggu oleh aksi si tokoh supporting yang daya ledaknya lebih besar itu.

Ini bukan masalah akting bagus dan mana yang lebih bagus. Ini semua demi mengamankan dan menyelamatkan film yang sedang diproduksi. Jadi, sebagai supporting actor, kami ini sudah ikhlas jika aksi kami yang berupa hafalan dialog-dialog panjang atau scene berat hasil kerja keras dan latihan berbulan-bulan harus digunting di meja editing. Yang penting filmnya tetap jadi, laris, dan disukai ratusan ribu atau jutaan penontonnya. Sebagai supporting actor, kami ikhlas dan tidak akan protes. 

Anda tahu aktor Hollywood yang bernama Brad Pitt, kan? Dalam wawancara dengan majalah Esquire beberapa tahun yang lalu, Brad Pitt bercerita bahwa dia mengawali karier dari bawah. 

Dia menjadi seorang figuran dulu, tukang lewat tanpa dialog. Seorang sutradara yang dia tidak mau menyebut namanya lantas menghentikan adegan begitu melihat sosok figuran yang berpotensi naik kelas itu. Dia lalu menyuruh Brad Pitt membunyikan dialog, dan nampaknya berhasil mencuri perhatian sang sutradara. 

Brad Pitt lantas dipindah untuk mengisi pemain pendukung yang lebih penting. Brad Pitt telah mencuri panggung. Kemudian, di projek selanjutnya, dia naik level menjadi supporting actor. Tak lama, dia mulai dipercaya mendapatkan posisi aktor utama. Dan berkat ketampanan, kerja keras, kecerdasan, dan kesempurnaan fisiknya, jalan dan sinar Brad Pitt sebagai bintang besar Hollywood semakin melesat tak terbendung.

Sekedar sharing ya. Ada suatu fase dalam hidup saya ini juga pernah merasa beruntung menjadi seorang aktor. Saat itu tahun 2016. Saya diberi kepercayaan untuk bermain sebagai salah satu aktor pendukung yang penting di film berjudul Kartini, yang disutradarai Hanung Bramantyo. 

Buat saya pribadi, sebagai seorang aktor pendatang baru, saya yang bukan siapa-siapa ini tiba-tiba akan bermain dengan aktor-aktor besar Indonesia yang sudah punya nama, macam Dian Sastro, Christine Hakim, Reza Rahadian, dan lain-lain. 

Ibarat main bola level klub Eropa, saya ini adalah seorang pesepak bola yang datang dari sebuah klub medioker semenjana, lantas tiba-tiba direkrut untuk main di klub raksasa el Galacticos Real Madrid.

Walau saya hanya bermain sebagai salah satu aktor pendukung, tapi kalau filmnya film di layar lebar dengan production value sebesar Kartini, tentu saja vibe-nya sangat besar untuk menunjang karier keaktoran saya selanjutnya. 

Kebetulan, saya ini ditunjuk oleh Hanung Bramantyo menjadi kakaknya Kartini yang antagonis. Saking pengin dibikin antagonis, sangar, dan menyebalkannya, saya di film itu sampai dipasangi kumis palsu kayak Pak Raden. 

Sejak awal, saya sadar memang punya aura menyebalkan yang kental dalam diri saya. Itu sebabnya saya yang diajakin sama Mas Hanung. Peran saya sebagai Raden Sosrobusono, Kakak Kartini yang sangat patriarki. 

Waktu itu saya sok banget, deh, gayanya. Setiap datang ke lokasi syuting, saya datang naik motor dengan memakai kaca mata hitam. Lalu, jalan lenggak-lenggok sok merasa paling ganteng sendiri. Setiap menyapa orang di lokasi, kaca mata hitam saya tidak pernah saya copot. Sok berasa Leonardo Di Caprio deh pokoknya. 

Mungkin saya terlalu berlebihan saat itu. Saya sok merasa menjadi bintang. Padahal sejatinya saya ini belum apa-apa. Saya jadi malu sendiri sekarang. Tapi untungnya kan yang penting performance saya di depan kamera tidak mengecewakan buat sutradara dan produser. 

Buktinya, adegan saya dengan hafalan dialog-dialog panjang tidak banyak yang di-delete saat editing. Walau ada juga sih adegan scene lucu di mana saya menjadi badutnya, tetap saja dihilangkan. Padahal, pas proses syutingnya lucu banget, lho. Bahkan Bu Christine Hakim sampai ngakak ngguling-guling. Saya akan ceritakan detailnya di lain kesempatan. Janji, deh.

Buat saya pribadi, saya cukup tahu diri bahwa ada kalanya dalam sebuah proyek film Indonesia, kami ini cuma aktor second layer. Apalagi saya. 

Saya ini juga bukan seorang bintang film. Saya lebih memilih disebut aktor film saja. Dan aktor-aktor level second layer seperti saya ini, jumlahnya ada ribuan di Indonesia. Supporting actor yang suatu saat, entah kapan, bisa saja menjadi tokoh utama sebuah film. 

Sebagai juru cerita dan penulis, saya ini tentunya masih menyimpan banyak cerita tentang dunia keaktoran atau cerita sejarah tentang asal muasal kawan-kawan aktor yang pernah saya kenal dan wawancara. Saya ini kebetulan suka menggali cerita awal debut seorang aktor, perkembangan kariernya, termasuk proses kreatifnya. Saya paling rajin mewawancarai mereka semua di saat sela-sela syuting. 

Saya punya banyak cerita lucu, menarik, serta inspiratif dari film Indonesia. Suatu saat akan saya ceritakan ke kalian semua.

BACA JUGA 40 Film Indonesia Favorit dalam Satu Dekade dan kisah menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Giras Basuwondo

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version