Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kiamat Trump

Kukuh Purwanto oleh Kukuh Purwanto
2 Februari 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sedari dulu saya percaya kalau kiamat akan terjadi hari Jumat, persis dengan waktu penciptaan alam semesta dan manusia pertama. Tepatnya, kiamat bakal jatuh pada salah satu hari Jumat di tahun 2099 tepat pukul 10.10, ketika orang-orang masih segar bugar.

Keyakinan saya tak tergoyahkan oleh ramalan-ramalan kiamat yang lain, yang ditulis berdasarkan asumsi ngawur dan paranoia semata. Namun, pada suatu sore ketika pilek dan meriang melanda, sebuah artikel di media daring membuat saya harus menilik ulang keyakinan saya tersebut.

Iklan

Artikel itu mengulas pelbagai kebijakan presiden anyar AS Donald Trump yang membuat bandul Jam Kiamat berdetak mendekati pukul dua belas malam, waktu yang diyakini sebagai akhir dunia—yah, orang boleh menaksir kiamat di jam berapa pun, kan? Jam Kiamat itu menunjukkan bahwa kiamat bakal datang dua setengah menit lagi!

Diluncurkan kali pertama pada tahun 1947, jam simbolis yang dikelola oleh The Bulletin of the Atomic Scientists di Universitas Chicago ini telah mengalami perubahan waktu sebanyak 20 kali. Perubahan terakhir, yang diakibatkan oleh Trump, merupakan perubahan terburuk kedua sejak tahun 1953, ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet memiliki hobi mengetes peralatan nuklirnya.

Meskipun hanya jam simbolis, yang berarti dunia pada kenyataannya memiliki waktu lebih lama dari dua setengah menit untuk menulis surat perpisahan, perubahan jarum jam ini meresahkan. Jarumnya tak bisa sembarangan diputar-putar seperti jam kodian; dibutuhkan konsultasi dengan dewan lain yang berisi para pemenang Nobel dan diskusi-diskusi panjang nan runyam untuk mengatakan bahwa dunia sedang di ambang malapetaka.

Lantas, seburuk apa kebijakan Trump sehingga membuat Jam Kiamat mendekati tengah malam?

Donald Trump adalah presiden terpilih Amerika, kita tahu itu. Yang kita terlambat tahu adalah ketidaksamaan perangai Trump dengan perangai politisi yang selama ini kita kenal, terutama politisi Indonesia.

Politisi Indonesia, siapapun dia, gemar menghambur-hamburkan janji ketika kampanye dan mendadak lupa secepat mungkin ketika telah terpilih. Itu penyakit lama, sebab janji politik bukanlah utang, melainkan keniscayaan belaka. Bagi politisi Indonesia, kampanye tanpa gombalan tak bisa disebut kampanye.

Masalahnya, Donald Trump bukan orang Indonesia, dan ia lebih lama berkecimpung di dunia bisnis ketimbang politik. Dibentuk oleh mentalitas pebisnis yang mengutamakan keuntungan dan integritas di atas segalanya, Trump mulai menepati janji-janjinya saat masa kampanye.

Ia berjanji akan membangun tembok pembatas antara Amerika dengan Mexico, dan ia menepatinya di minggu-minggu awal masa kepemimpinannya. Sebagian besar rakyat Amerika menganggap itu janji konyol untuk sekadar menarik perhatian publik, dan tak pernah berharap Trump, sesinting apapun dia, bakal memenuhi janjinya tersebut.

Namun, kenyataan berkata lain. Rakyat Amerika yang belum pulih dari kekagetan berskala nasional akibat kemenangan Trump harus menerima kabar ini: presiden baru mereka telah meneken keputusan pembangunan tembok pembatas yang biayanya ditanggung seluruhnya oleh Mexico.

Apa keuntungan dari pembangunan tembok pembatas tersebut?

Oh, banyak. Selain mengurangi penyelundupan narkoba dan manusia, pembangunan tembok itu akan mensejajarkan nama Trump dengan Kaisar Shi Huang Ti di buku sejarah mana pun. Meski tembok bikinannya kalah panjang hingga lima ribuan kilometer, Trump jelas menang telak dalam hal pembiayaan: Kaisar Shi Huang Ti harus merogoh koceknya sendiri, bukannya meminta bangsa Mongol dan suku-suku nomaden yang menjadi musuhnya untuk membiayai pembangunan Tembok Besar Cina.

Dari situ kita tahu bahwa Trump adalah sosok yang cerdas, meski sedikit sinting. Anda juga bisa disebut cerdas bila mampu memaksa tetangga untuk membiayai renovasi rumah Anda, atau sekurang-kurangnya membayat cicilan kulkas Anda. Cerdas tak hanya perkara nilai berapa yang Anda dapat di kertas ulangan.

Namun, bukan kebijakan pembangunan tembok itu yang membuat Jam Kiamat mendekati tengah malam, melainkan kebijakan yang ini: Trump melarang masuk penduduk berkewarganegaraan Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman ke Amerika Serikat.

Logika Trump sederhana: ketujuh “negara Islam” itu ia anggap sarang teroris. Tapi, berhubung mencari tahu mana yang teroris dan mana yang bukan teroris di antara sekian juta penduduk adalah tindakan yang melelahkan, maka lebih gampang bila menganggap seluruhnya sebagai teroris, sehingga larangan itu berlaku untuk semua orang dari sana.

Kebijakan itu, menurut para ilmuwan di The Bulletin of The Atomic Scientists, sama belaka dengan meminta musuh-musuh Amerika untuk mengarahkan moncong rudalnya ke Amerika. Dan Trump tampaknya bukanlah tipe presiden yang akan bersikap santun sambil berkata “Mohon sabar, ini ujian” ketika perang benar-benar terjadi.

Kalau perang besar meletus, ujar para ilmuwan itu, maka dunia akan tamat, bahkan sebelum Dajjal dan Empat Pengendara Kuda Hari Kiamat sempat beraksi.

Iklan

Adalah benar bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menghancurkan dirinya sendiri, dan itu dibuktikan dengan perlombaan senjata nuklir yang berlangsung sejak era Perang Dunia Kedua. Perang besar itu diakhiri oleh dua butir bom atom bikinan Amerika, yang tiap butirnya menewaskan sekurang-kurangnya tiga puluh ribu orang dan menghancurkan satu kota.

Itu yang Anda tahu. Yang belum Anda tahu adalah dunia memiliki sekitar dua puluh ribu senjata nuklir saat ini, yang daya hancurnya membuat Little Boy dan Fat Man, dua bom atom pemungkas PD II, tampak seperti petasan saja. Kalau 20 kilo ton TNT bisa menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki seperti itu, maka apa yang terjadi bila sebuah rudal berhulu ledak 50 megaton, standar normal rudal hari ini, meledak?

Amerika, konon, memiliki tujuh ribu rudal; itu cukup untuk menghancurkan satu benua bila ditembakkan ke target yang berbeda-beda, dan mampu membuat kawah sedalam lebih dari lima belas ribu kilometer andai terus ditembakkan ke titik yang sama. Dan Trump duduk berdekatan dengan tombol ketujuh ribu rudal tersebut.

Maka, wajar bila Jam Kiamat digerakkan menuju tengah malam. Kekhawatiran mengenai pelbagai potensi tindakan Trump menjadi penyebabnya. Meskipun dunia dan seisinya kelak hancur juga, Trump mampu mempercepat prosesnya, dan pelbagai kebijakan yang ia ambil akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ia, sadar atau tidak, mengarah ke sana.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Jangan beri saya usul untuk mendemo Kedutaan Besar Amerika di Jakarta. Trump sudah didemo rakyatnya sendiri dan sejauh ini terbukti tak berhasil—mengapa pula kita harus mendemo dia kalau tahu bakal gagal? Lagi pula, Jakarta sedang disibukkan oleh demo yang lain; Jakarta tak butuh tambahan satu demonstrasi lagi.

Alangkah eloknya bila kita menyelesaikan apa-apa yang belum selesai sebelum kiamat ala Trump tiba. Anda yang selama ini mendadak meriang tiap hendak menyatakan cinta, misalnya, segeralah mengubah sikap. Belilah puyer dan tenggaklah sebelum Anda bertemu gebetan tercinta, sembari ingat-ingatlah bahwa belum ada yang berhasil menyatakan cinta saat kiamat tiba.

Anda yang masih menganggur, ucapkanlah puji syukur. Simpanlah berkas lamaran Anda baik-baik di dalam lemari dan mulailah menekuni hal lain yang tak melibatkan pas foto dan stopmap dan daftar riwayat hidup. Anda tentu tahu bahwa ketika kiamat terjadi, dan itu sebentar lagi, tak ada lowongan yang tersedia hingga jangka waktu yang lama.

Nah, kalau saya, ya, saya percaya bahwa Trump bukanlah pembawa kiamat. Dan kehancuran alam semesta terjadi masih lama sekali, tepat di hari Jumat di tahun 2099 jam sepuluh lebih sepuluh pagi. Dan itu pun tak terjadi di Indonesia karena—mungkin Anda belum tahu—Indonesia tak berada di alam semesta.

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2017 oleh

Tags: featuredmuslim banperang nuklirtembok meksikotrump
Kukuh Purwanto

Kukuh Purwanto

Artikel Terkait

populisme trump

Apa itu Populisme yang Disebut-sebut Menjadi Ancaman Demokrasi?

25 Februari 2023
perang nuklir mojok.co

Indonesia Siapkan SDM Nuklir, Waspadai Perang Nuklir Rusia vs Ukraina

16 Oktober 2022
donald trump

Sisi Lain Donald Trump yang Membuat Amerika Layak Ditertawakan, Eh, Dihargai.

21 Januari 2021
capitol hill

Kreativitas Netizen Tanah Air dalam Menyamakan Aksi Penyerbuan Capitol Hill dengan Aksi Massa di Indonesia

8 Januari 2021
Dominasi Presiden Zodiak Gemini Mungkin Alasan Kenapa Indonesia Jadi Kek Begini

Dominasi Presiden Zodiak Gemini Mungkin Alasan Kenapa Indonesia Jadi Kek Begini

7 Juni 2020
rasisme, trump, polisi, pembunuhan mojok.co

George Floyd Meregang Nyawa di Tangan Polisi dan Naiknya Sentimen Ras Sejak Trump Menjabat

28 Mei 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.