MOJOK.CO – Disiplin memang penting. Namun ketika disiplin di sekolah dibangun dengan rasa takut, kita mungkin sedang menciptakan kepatuhan sesaat sekaligus kehilangan karakter yang ingin dibentuk.
Pelibatan unsur militer dalam pendidikan bukan lagi sekadar wacana. Dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat, anggota TNI dan Polri dilibatkan untuk memberikan pembinaan kedisiplinan kepada para siswa.
Kini, pemerintah bahkan mempertimbangkan sekitar 1.000 taruna Akademi Militer (Akmil) untuk masuk Sekolah Rakyat. Tujuannya untuk memberi materi yang membentuk kemandirian dan karakter, serta menanamkan budaya disiplin. Tahun lalu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengirim siswa dengan perilaku bermasalah ke barak militer untuk menjalani pembinaan.
Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa persoalan pendidikan dapat dijawab dengan pendekatan yang lebih tegas dan terstruktur. Namun, ketika sekolah mulai mengadopsi logika militer, pertanyaan yang jauh lebih penting justru muncul: benarkah masalah utama yang sedang dihadapi anak-anak Indonesia adalah krisis kedisiplinan?
Persoalan utama remaja Indonesia di sekolah itu bukan soal kedisiplinan
Data nasional justru memperlihatkan bahwa tantangan terbesar generasi muda Indonesia bukan semata persoalan kedisiplinan, melainkan krisis kesehatan mental. Temuan penting dari survei nasional Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dirilis oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Kementerian Kesehatan RI mengungkap fakta menyentakkan: satu dari tiga remaja Indonesia (34,9%) mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Bahkan, sebanyak 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria klinis gangguan mental yang membutuhkan intervensi profesional. Kondisi riil ini diperkuat oleh hasil skrining berskala besar pada program Cek Kesehatan Gratis (CKG) oleh Kementerian Kesehatan RI sepanjang periode 2025–2026.
Melalui pemeriksaan terhadap 7 juta anak, Kemenkes mendeteksi adanya 363.000 anak menunjukkan gejala depresi serta lebih dari 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan.
Mengingat data CKG merupakan hasil skrining awal dan bukan sebuah diagnosis klinis final, angka fantastis ini menjadi alarm dan sinyal darurat bahwa ruang kelas kita hari ini sedang diisi oleh anak-anak yang menanggung beban psikologis yang berat.
Dalam situasi seperti ini, menghadirkan pendekatan yang identik dengan komando, intimidasi, atau hukuman fisik patut dipertanyakan efektivitasnya. Pendidikan membutuhkan strategi yang memperkuat ketahanan psikologis, relasi yang suportif, dan kemampuan regulasi diri, bukan sekadar kepatuhan yang lahir dari rasa takut.
Persoalan ini tidak dapat dipandang semata sebagai krisis disiplin di sekolah, melainkan sebagai tantangan yang menyangkut cara kita memahami hakikat manusia dalam proses belajar.
Pendidikan bukan sekadar mengoreksi perilaku yang tampak di permukaan, tetapi membentuk kesadaran, karakter, dan mekanisme batin yang mengarahkan seseorang untuk memilih berbuat benar, bahkan ketika tidak berada dalam pengawasan.
Disiplin bukan sekadar reaksi terhadap tekanan
Dalam fisika, kita mengenal Hukum III Newton: setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Tentu manusia bukanlah benda yang tunduk secara literal pada Hukum III Newton.
Namun, sebagai metafora ilmiah, hukum aksi-reaksi mengingatkan bahwa tekanan eksternal sering kali memunculkan respons yang berlawanan ketika tidak disertai perubahan dari dalam diri. Hal serupa sering terjadi pada pendidikan yang hanya mengandalkan hukuman. Tekanan mungkin mampu menghasilkan kepatuhan sesaat, tetapi belum tentu melahirkan pengendalian diri.
Psikologi menjelaskan bahwa perilaku yang muncul karena ancaman hukuman lebih banyak digerakkan oleh motivasi eksternal (controlled motivation), bukan kesadaran internal. Menurut Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, perubahan perilaku yang bertahan lama justru tumbuh ketika individu memiliki kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan yang terpenuhi.
Anak yang hanya patuh karena diawasi cenderung kehilangan kepatuhan ketika pengawasan itu hilang. Sebaliknya, anak yang belajar mengatur dirinya akan tetap disiplin meskipun tidak ada yang mengawasi. Dengan kata lain, disiplin sejati lahir dari regulasi diri (self-regulation), bukan dari ketakutan.
Sekolah sering menanggung gejala, padahal akar persoalan ada di rumah
Ketika seorang anak berulang kali melanggar aturan sekolah, perhatian publik biasanya langsung tertuju pada perilaku anak itu sendiri. Padahal, perilaku sering kali merupakan gejala, bukan sumber masalah.
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan orang tua merupakan salah satu prediktor paling kuat terhadap perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam National Institutes of Health memperlihatkan bahwa keterlibatan orang tua, kehangatan relasi keluarga, serta pola komunikasi di rumah memiliki hubungan yang konsisten dengan prestasi belajar, motivasi, hingga kesehatan mental anak.
Sayangnya, kehidupan modern menghadirkan tantangan baru. Tidak sedikit orang tua hadir secara finansial, tetapi semakin jarang hadir secara emosional. Kesibukan pekerjaan, distraksi teknologi, dan tekanan ekonomi membuat interaksi berkualitas di dalam keluarga semakin berkurang.
Akibatnya, sekolah sering kali menerima anak-anak yang membawa berbagai luka psikologis yang tidak terlihat. Ketika perilaku bermasalah muncul, tanggung jawab bergeser dari rumah ke sekolah.
Ketika sekolah merasa kewalahan, solusi berikutnya diarahkan kepada institusi yang lebih represif. Rantai pemindahan tanggung jawab inilah yang patut diputus. Karena sejatinya, sekolah tidak dapat menggantikan fungsi keluarga.
Pendidikan tidak sama dengan komando
Dalam Islam, pendidikan selalu dimulai dari pembentukan hati sebelum pembentukan perilaku.
Al-Qur’an menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pribadi yang berhasil mendidik karena kelembutan akhlaknya.
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menyampaikan prinsip pendidikan yang juga didukung psikologi modern.
Hubungan yang hangat membangun rasa aman (psychological safety). Dari rasa aman itulah muncul kepercayaan, motivasi, dan kemauan untuk berubah.
Sebaliknya, lingkungan yang didominasi rasa takut memang mampu menciptakan kepatuhan, tetapi sering kali gagal membangun karakter. Anak belajar menaati aturan bukan karena memahami nilai di balik aturan tersebut, melainkan karena takut terhadap konsekuensinya.
Kondisi seperti ini tidak menghasilkan kesadaran moral, melainkan kepatuhan yang bergantung pada pengawasan.
Yang perlu diperbaiki bukan hanya murid di sekolah, melainkan ekosistemnya
Persoalan kedisiplinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti metode pembinaan siswa. Yang perlu dibangun adalah ekosistem pendidikan yang sehat.
Sekolah perlu memperkuat layanan konseling, meningkatkan kapasitas guru dalam memahami perkembangan psikologis remaja, serta menjadikan pendidikan karakter sebagai proses yang berlangsung setiap hari, bukan sekadar slogan.
Pada saat yang sama, negara juga perlu berinvestasi pada pendidikan keluarga. Pelatihan parenting, literasi kesehatan mental, pendampingan keluarga, hingga program penguatan relasi orang tua-anak jauh lebih strategis dibandingkan sekadar menghadirkan pendekatan koersif di sekolah.
Sebab rumah adalah sekolah pertama. Jika fondasi di rumah rapuh, sekolah hanya akan terus memperbaiki retakan yang tidak pernah selesai.
Militer memiliki peran yang sangat mulia dalam menjaga kedaulatan bangsa. Namun sekolah memiliki mandat yang berbeda: menumbuhkan manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri.
Karena tujuan akhir pendidikan bukanlah menghasilkan anak-anak yang sekadar patuh ketika diperintah, melainkan manusia dewasa yang tetap memilih berbuat benar bahkan ketika tidak seorang pun sedang mengawasinya.
Penulis: Nur Hidayat
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
