Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ketika Iman Islam dan Sains Bertemu

Muhammad Iqbal oleh Muhammad Iqbal
8 Mei 2019
A A
Hikayat-2019 - Mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Hikmah merupakan pembendaharaan yang dicari orang yang memiliki iman. Maka itu, di mana pun ia ditemukan, orang beriman berhak mendapatkannya. Ini sains.

Muhammad Abdus Salam (1926-1996), peraih Nobel di bidang fisika pada 1979 ditahbiskan sebagai “ilmuwan konvensionalis”, karena pandangannya bahwa sains bersifat universal, sedangkan penerapannya dipengaruhi oleh pelbagai faktor budaya.

Iklan

Abdus Salam tidak memercayai adanya pelbagai masalah metafisika serius dalam sains modern yang menuntut sebuah konstruksi ulang terhadap bangunan sains modern.

Salam mendasarkan pandangannya kepada Al-Quran yang secara berulang-ulang mendesak orang beriman untuk mengamati, merenungkan, merefleksikan, memahami, dan belajar dari alam semesta.

Ketimbang dengan hanya belasan ayat seputar hukum (fikih), Al-Quran mengandung ratusan ayat kauniyah yang mendorong orang beriman agar mempelajari alam dengan mendayagunakan anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah Swt. kepada manusia, yakni akal (nalar) mereka.

Salam selanjutnya berupaya menyigi bahwa Al-Quran, spirit belajar dalam Islam, dan refleksi rasional merupakan tiga sumber yang luar biasa bagi pembentukan peradaban, termasuk perkembangan sains-sains pada masa keemasan Islam.

Perkara inilah titik pertikaian serius di kalangan sejarawan sains karena kebanyakan pakar Barat sangat memperhitungkan warisan dan nilai penting Peradaban Yunani, sementara ilmuwan muslim tradisionalis, termasuk Seyyed Hossein Nasr dan Muzaffar Iqbal, meremehkan arti penting pengaruh Hellenistik—utamanya pasca-gerakan penerjemahan—dan justru lebih memperhitungkan faktor-faktor internal (Masood 2006: 187-8).

Perdebatan ini bukanlah perhatian utama Salam, sebab dia hanya ingin menunjukkan bahwa Peradaban Islam benar-benar mengembangkan tradisi keilmuan yang asli (genuine), terutama pasca tahun 1000 M (atau sekitar itu) tatkala metode berubah corak menjadi eksperimental dan sains menjadi berkarakter modern.

Salam menyoroti beberapa karya dan metode-metode Ibn al-Haitsam, yang menurutnya adalah seorang pelopor optik dalam pengertian modern.

Selain itu, Salam juga menganggap Al-Biruni sebagai pemikir yang pandangannya semodern dan sama-sama tidak berciri Abad Pertengahan, seperti sosok Galileo yang baru muncul enam abad kemudian.

Dia mengutip Al-Biruni untuk menunjukkan seberapa tajam perbedaan metode Al-Biruni dengan Aristoteles, yang merupakan personifikasi metode kuno. Salam kemudian menyimpulkan dengan mengutip dua sejarawan sains, Briffault dan Sarton, yang mendukung pandangannya, bahwa sains di kalangan muslim, setidak-tidaknya pasca 1000 M, sudah bisa dikatakan modern karena telah didasari metode eksperimen.

Salam juga menyatakan: “Pencapaian yang utama dan yang paling menonjol Abad Pertengahan adalah lahirnya semangat eksperimental, dan itu sangat berutang budi pada kontribusi ilmuwan muslim abad ke-12.”

Dalam upayanya mengukuhkan pandangan mengenai universalitas ilmu pengetahuan dan metodenya, Salam bertanya: “Apakah sains pada Abad Pertengahan sudah benar-benar menjadi sains ‘Islami’?”

Dia pun menjawab sendiri, bahwa semua cerita para ilmuwan muslin nan masyhur pada Abad Pertengahan, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn al-Haitsam, dan Ibn Sina menunjukkan bahwa, selain karena mereka adalah muslim, tidak ada yang khas Islami dari pencapaian dan prestasi mereka.

Bahkan sebaliknya, kehidupan pribadi mereka sebenarnya sangat tidak Islami. Salam juga menambahkan bahwa menurut Ibn al-Haitsam, “Kebenaran hanya tampil dalam wujud material yang dicerap oleh persepsi indrawi. Sebab itulah Al-Haitsam dicap sebagai orang sesat sehingga hampir dilupakan sama sekali di dunia muslim.”

Pervez Hoodbhoy—seorang penganut pandangan Abdus Salam yang meyakini universalitas dan objektivitas sains, yang juga penulis sebuah buku anti-ortodoksi perihal tema itu dengan kata pengantar dari Salam, Islam and Science (1991)—melangkah lebih jauh dengan memilih lima pemikir terbesar pada masa keemasan (Al-Kindi, Al-Razi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan Ibn Khaldun) dan secara provokatif menyebut mereka semua sesat karena tidak memegang keyakinan ortodoks serta tidak memasukkan nuansa atau ruh agama dalam karya-karyanya (Hoodbhoy 1991).

Klaim ini hanya bisa kita anggap benar apabila keyakinan agama tidak memengaruhi program dan metodologi penelitian yang dilakukan para pemikir itu. Sebab, pelbagai interpretasi dan pandangan para filsuf selalu dipengaruhi oleh pandangan filsafat dan iman individu yang bersangkutan.

Satu hal yang penting dicatat di sini ialah bahwa Salam menganggap sains modern lebih kompatibel dengan Islam. Dia bahkan berargumen bahwa para ilmuwan muslim pada dasarnya menciptakan metode eksperimental, sedangkan sains modern, di mana pun dikembangkan, selalu memiliki wajah dan ciri yang sama. Karena beberapa hal inilah, Salam menolak gagasan sains Islami.

Iklan

Dia mengacu kepada budaya-budaya oriental, yang tidak tergoda oleh slogan-slogan yang berasal dari sains “Jepang”, “Cina”, ataupun “India”. Budaya oriental, menurutnya mengakui bahwa terlepas dari pilihan disiplin-disiplin ilmu yang akan diteliti dari berbagai masyarakat yang berbeda, tapi hukum, tradisi, dan metode sains tetap bersifat universal.

Budaya oriental tidak memandang bahwa mengadopsi sains dan teknologi dari “Barat” akan menghancurkan tradisi budaya mereka sendiri. Mereka tidak menghina pelbagai tradisi mereka sendiri lantaran merasa inferior.

Abdus Salam mengutip sebuah hadist untuk memperkuat filosofinya, “Hikmah merupakan pembendaharaan yang dicari orang beriman. Maka itu, di mana pun ia ditemukan, orang beriman berhak mendapatkannya.”

Lantas, bagaimana iman dan sains modern bisa bertemu? Salam pada dasarnya menemukan beberapa keterbatasan sains dan memiliki pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya berada di luar jangkauan jagat ilmiah.

Sebagaimana yang dia katakan, bahwa sains telah mencapai keberhasilan dengan membatasi dirinya hanya pada jenis-jenis penelitian tertentu. Contohnya, doktrin penciptaan dari ketiadaan (nothing) menurut Salam bersifat metafisis sehingga bukan merupakan lahan sains, dan di sinilah pertimbangan keagamaan sangat dibutuhkan.

Salam menegaskan, “Keimanan saya sendiri [adalah] didasarkan pada pesan spiritual abadi Islam, sesuatu yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh ilmu fisika.”


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2019 oleh

Tags: #hikayatAbdus SalamAristotelesimanIslamsains
Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal

Editor Marjin Kiri. Dosen IAIN Palangka Raya. Sejarahwan ngoyot.

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran Ryu Hasan MOJOK.CO

Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran dr. Ryu Hasan

3 Juli 2025
Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid

Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid

30 Maret 2025
Dakwah Kreatif ala Miko Cakcoy Lewat Wayang, Jembatani Tradisi dan Agama di Era Modern

Dakwah Kreatif ala Miko Cakcoy Lewat Wayang, Jembatani Tradisi dan Agama di Era Modern

15 Maret 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.