Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Ilustrasi Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COMenjadi penderita asam lambung atau GERD di Indonesia itu ibarat jadi penonton di konser dangdut, tapi kupingnya alergi kendang. Tersiksa lahir batin. 

Ibaratnya, tiap jengkal tanah di Indonesia itu penuh dengan penjual ayam geprek dengan sambal koreknya yang level mampus. Sementara, kami ini cuma bisa duduk di pojokan sambil megangin ulu hati yang rasanya kayak lagi dibakar pakai las karbit. 

Penderitaan kami makin lengkap dengan adanya anjuran, makan buah biar sehat.

Cangkemmu!”

Buat orang normal, buah itu asupan vitamin. Buat kami penderita asam lambung? Buah itu bisa jadi “bom waktu” yang siap meledakkan isi perut kapan saja.

​Sebagai mahasiswa S2 jurusan information technology (IT) angkatan 2024, menghadapi logika koding yang error adalah masalah yang harus dituntaskan. Sebagai pekerja pabrik garmen ketelitian menghitung Standard Minute Value (SMV) tiap lini produksi adalah rutinitas harian. Maka, stres adalah sarapan saya. 

Bayangkan, dari pagi sampai sore saya harus memastikan efisiensi operator garmen tetap optimal. Begitu matahari tenggelam, bukannya istirahat, saya harus kuliah sampai pukul 10 malam. 

Sisa energinya? 

Dipakai buat kencan sama dataset tesis tentang Ensemble Tree sampai subuh. Kombinasi antara deadline revisi dari dosen pembimbing dan target output pabrik sukses membuat lambung saya sering melakukan demo besar-besaran.

​Jeruk dan nanas bagi penderita asam lambung adalah musuh yang menipu

​Di area produksi garmen yang panasnya minta ampun, godaan paling besar adalah minuman dingin yang segar. Melihat teman kerja menenggak es jeruk nipis atau makan nanas potong itu adalah cobaan iman yang jauh lebih berat daripada nungguin proses compile kodingan yang nggak kelar-kelar. 

Jeruk dan nanas itu kelihatannya seperti malaikat penyelamat di tengah gerahnya pabrik. Tapi bagi pejuang GERD atau asam lambung, mereka adalah agen rahasia yang dikirim untuk merusak katup kerongkongan (LES).

​Kandungan asam sitrat dalam jeruk dan pH rendah pada nanas itu jahat banget bagi kami. Jurnal-jurnal medis yang hobi banget nakut-nakutin kami itu bilang, buah-buahan ini bisa bikin otot katup lambung kita jadi “letoy”. 

Begitu katup itu kehilangan harga dirinya, cairan asam langsung naik ke atas dengan penuh kemenangan. Rasanya panas, perih, dan bikin mual-mual sepanjang hari. 

Pernah suatu pagi saya harus presentasi soal optimasi lini produksi di depan atasan, tapi di saat yang sama, cairan asam di perut lagi “party” naik-turun. Mau muntah nggak enak, mau lanjut bicara tapi ulu hati melilit. Rasanya pengen resign jadi manusia saja saat itu juga.

Baca selanjutnya

Bagi orang lain cokelat itu ningkatin mood, bagi saya dia pengkhianat

Bagi orang lain cokelat itu ningkatin mood, bagi saya dia pengkhianat 

​Begadang ngerjain tesis itu butuh asupan biar nggak gampang emosi liat bug yang nggak ketemu-ketemu. Pilihan paling gampang biasanya cokelat. Manis, enak, dan katanya bisa bikin mood naik. 

Tapi ini adalah pengkhianatan paling besar dalam sejarah hidup saya. Cokelat itu mengandung zat namanya methylxanthine. Namanya saja sudah mirip nama penjahat di film sci-fi, dan tugasnya memang sejahat itu: bikin otot katup lambung “mager” alias malas gerak.

​Saat katup lambung mager, asam lambung dengan bebasnya silaturahmi ke kerongkongan. Jadi, alih-alih dapet pencerahan buat logika Random Forest atau Gradient Boosting, saya malah dapet bonus sensasi terbakar di dada (heartburn). 

Mahasiswa IT yang harusnya pusing mikirin akurasi model prediksi, malah berakhir pusing nyari sisa antasida di laci meja kerja jam 2 pagi. Sungguh ironis, saya berusaha memprediksi output produksi, tapi nggak bisa memprediksi kapan lambung sendiri bakal “meledak”.

​Dilema alpukat dan diet influencer yang menyesatkan

​Lalu ada alpukat. Di dunia kesehatan, alpukat adalah “emas hijau”. Tapi buat kami yang lambungnya ringkih, lemak di alpukat itu beban hidup yang berat banget buat dicerna. 

Lambung kami butuh waktu berabad-abad cuma buat memprosesnya. Akibatnya, katup lambung tertekan dan akhirnya menyerah. Saya pernah sok-sokan pengen hidup sehat ala influencer dengan sarapan alpukat biar kuat kerja di pabrik. Eh, yang ada malah mual-mual sepanjang hari karena asam lambung naik.

Bikin ​kerja nggak fokus. Mau menghitung efisiensi lini produksi, malah jadi menghitung berapa kali bolak-balik ke kamar mandi buat narik napas karena perut begah. Belum lagi kalau kita sok-sokan makan apel hijau atau buah beri yang rasanya masam, kadar asamnya sukses bikin lambung saya merasa dizalimi oleh tuannya sendiri. 

Niat hati ingin punya badan ideal dan otak encer buat mengerjakan tesis, yang didapat malah sensasi mual yang bikin kepala pusing tujuh keliling. Hidup kita sebagai pekerja pabrik dan mahasiswa sudah penuh tekanan, eh, pilihan makanan pun harus yang “lempeng-lempeng” saja.

​Berdamai dengan asam lambung demi gelar magister dan buruh pabrik teladan

​Pada akhirnya, penderita asam lambung seperti saya harus tahu diri. Hidup dalam “Siklus Setan” kerja pagi, kuliah malam, begadang tesis adalah resep sempurna buat bikin GERD kumat permanen. 

Kalau memang belum bisa tobat sepenuhnya dari godaan sambal tomat, cokelat, atau jeruk segar, ya minimal jangan dimakan pas mau begadang. Itu namanya cari penyakit di atas penyakit. Kita ini sudah capek ngurusin target SMV pabrik dan revisi dosen, nggak usah ditambah drama lambung yang melilit setiap pagi.

​Solusinya? Ya terpaksa berdamai dengan buah-buahan yang rasanya membosankan dan hambar seperti pisang, melon, atau pepaya. 

Hidup tanpa tantangan rasa itu memang menyedihkan, kawan. Tapi ya daripada bangun pagi dalam kondisi mual-mual sampai lemas, lebih baik kita mengalah pada lambung. 

Pesan saya buat sesama pejuang GERD: kalau perut sudah kerasa chaos, nggak usah banyak drama atau sambat di medsos. Langsung saja ke dokter. 

Nggak usah nunggu hidayah lewat video TikTok, karena algoritma internet nggak bakal bisa bikin ulu hatimu berhenti kerasa perih. Tetap semangat buat pejuang tesis dan buruh pabrik, semoga gelar magister kita dapat, dan lambung kita tetap selamat.

Penulis: Heni Candra Kirana
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mahasiswa Double Degree di UGM dan Kampus Swasta, Tetap Bertahan Meski Asam Lambung Menyerang dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Exit mobile version