Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kenapa Mudik Lebaran Nggak Difatwa Haram Sekalian?

Iqbal Aji Daryono oleh Iqbal Aji Daryono
14 April 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kekuatan populis yang mampu ngontrol masyarakat kita dalam waktu cepat itu ya organisasi agama. Bikin fatwa mudik Lebaran haram misalnya.

Sebagai warga Muhammadiyah, saya bangga dengan sikap PP Muhammadiyah terbaru yang menyatakan bahwa tidak mudik Lebaran tahun ini merupakan jihad kemanusiaan.

Landasannya nggak usah dibahas, lah. Sampeyan semua sudah pada tahu. Ini masa genting, segala kemungkinan terburuk mesti secepatnya dicegah dengan melibatkan sebanyak mungkin pihak.

Dan, salah satu pihak yang paling strategis sekaligus sangat powerful dalam menjalankan kendali atas masyarakat luas ya otoritas keagamaan.

Anda yang selama ini hobi bersikap sinis kepada otoritas-otoritas keagamaan mungkin tidak akan setuju, dan menganggap pola seperti itu omong kosong. Namun, kalau kita mau melihat realitas sosiologis masyarakat Indonesia, kekuatan populis yang mampu mengontrol massa dalam jumlah besar dan dalam waktu cepat ya agama dan pemegang otoritas agama.

Otoritas tersebut bisa jadi jalan pintas efektif untuk menggerakkan jutaan orang, daripada sekadar seruan-seruan moral Pak Jokowi yang setiap saat muncul di layar tipi jaringan Indihom di rumah saya, apalagi sekadar video kartun iklan layanan masyarakat yang menampilkan Pak Airlangga Hartarto dan Pak Muhadjir Effendi itu.

Sayangnya, seefektif apa pun, tetap saja saya melihat para penggenggam otoritas keagamaan itu masih terbebani dengan rasa pekewuh dan malu-malu. Coba kita lihat saja bahasa yang dipakai.

Untuk urusan salat Jumat, misalnya, PP Muhammadiyah bulan lalu masih juga menggunakan kata “mengimbau”. PP Muhammadiyah mengimbau umat muslim, khususnya warga Muhammadiyah, agar tidak melaksanakan salat Jumat dulu di masjid selama masa serbuan wabah COVID-19 ini.

Wow! Mengimbau! Dan namanya imbauan, maksimal kan ya sebatas “Alangkah baiknya bila kita semua…”.

Konsekuensi logisnya, ini cuma soal level kualitas, bukan soal garis tegas antara maslahat dan tidak maslahat, apalagi soal merusak dan tidak merusak. Padahal, yang kita hadapi sekarang ini lebih serius daripada perkara bagus-bagusan yang tercermin dalam istilah “imbauan” dan “alangkah baiknya”.

Begini maksud saya. Agama, dalam hal ini Islam, punya tingkatan-tingkatan hukum atas sesuatu. Ada wajib, sunnah (dianjurkan), mubah (boleh), makruh (lebih baik dihindari), dan haram (terlarang keras).

Dari kelima tingkatan itu, rasanya yang namanya imbauan itu setara dengan sunnah saja, dan “imbauan agar tidak” ya setara makruh.

Tak terkecuali untuk sikap tidak mudik Lebaran, yang disebut jihad kemanusiaan itu. Tidak mudik itu disetarakan sunnah, dan mudik itu disetarakan makruh. Dan karena mudik itu cuma setara makruh, maka kalau Anda menghindarinya ya Anda dapat pahala, tapi kalau Anda tetap ngotot melakukannya Anda tidak berdosa. Ya, tidak berdosa. Alias aman-aman saja.

Dalam khazanah obrolan hukum Islam, contoh kasus makruh yang paling lazim disebut adalah makan jengkol. Makan jengkol itu bau dan bisa bikin orang lain terganggu, maka hukumnya makruh. Tapi kalau Anda tetap makan, ya nggak dosa, wong cuma makruh.

Nah, mudik Lebaran di masa corona ini cuma disetarakan dengan makan jengkol, Sodara!

Sementara itu, kita sama-sama sudah paham bahwa risiko mudik Lebaran massal tahun ini adalah tersebar luasnya virus sampai taraf tak terkendali.

Para pemudik bisa menjadi carrier virus dari kota lalu menyebarkannya ke kampung halaman, dan ribuan bahkan jutaan pemudik bisa menyebabkan tumbangnya korban dalam jumlah yang berlipat-lipat lebih menyeramkan daripada yang selama ini kita bayangkan.

Betul, ini sudah perkara risiko kematian massal. Kalau sudah begini, sebagaimana Majelis Tarjih Muhammadiyah pernah menjatuhkan fatwa haram untuk rokok, semestinya tak perlu juga malu-malu dan takut-takut jika lembaga yang sama, bersama MUI, syukur-syukur Bahtsul Masail NU sekalian, menyatakan dengan tegas: “Mudik di masa wabah Corona haram hukumnya!”

Iklan

Kenapa tidak? Sekali lagi, bukankah nyawa ratusan ribu orang yang sedang dipertaruhkan?

Itu tadi baru pertimbangan rasionalnya, kenapa mudik Lebaran yang berisiko menciptakan ratusan ribu kematian itu layak difatwa haram. Pertimbangan lain, ya memang bahasa-bahasa keras begitu sangat diperlukan untuk menciptakan efek psikologis yang jelas ke hadapan massa yang sangat luas.

Bahkan saya sendiri tidak keberatan kalau tiba-tiba muncul narasi-narasi lain yang lebih galak, dengan memanfaatkan emosi massa, hanya demi tujuan kilat agar publik luas dengan mudah bisa lebih terkendali.

Misalnya, rasanya keren juga jika Pak Amien Rais naik panggung lagi dan mengobarkan ghiroh Perang Badar.

“Perang melawan COVID adalah Perang Badar! Siapa saja yang tak tahan di rumah lalu nekat mudik, dia ibarat prajurit pengecut yang cinta dunia dan takut mati, lari terbirit-birit dari medan pertempuran!”

Bisa juga dilanjutkan dengan, “Hari ini kita akan tahu siapa yang berada di kubu Partai Allah dan siapa di Partai Setan. Partai Allah dihuni mereka yang tetap tabah meringkuk di rumah masing-masing, dan Partai Setan berisi mereka yang dengan cueknya mudik Lebaran!”

Dahsyat, kan? Saya yakin, meskipun sebagian di antara Anda tertawa, narasi-narasi seperti itu di gelaran politik terakhir terbukti efektif dan ditaati jutaan orang. Nah, sekaranglah saatnya kalimat-kalimat agung yang membuat dada menggelinjang itu digunakan untuk manfaat yang lebih nyata, demi kemaslahatan segenap rakyat Indonesia.

“Lah, gimana dengan kami yang tak punya apa-apa lagi di kota, sudah jadi korban PHK, tak ada lagi makanan tersisa, dan artinya kami malah cari mati kalau nggak mudik, Buosss? Mudik bagi kami adalah upaya mengungsi untuk menyelamatkan nyawa juga!”

Oh, kalau itu jelas.

“Terkait para penghuni kota yang tak lagi punya sumber penghidupan, haram hukumnya bagi pemerintah untuk menelantarkan mereka! Haram! Haram! Haram! Dosa besar! Pemerintah akan dibenamkan ke kerak neraka jika mengabaikan mereka!”

BACA JUGA Dua Jenis Mudik dan Perlukah Mudik Dilarang? atau tulisan Iqbal Aji Daryono lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2020 oleh

Tags: Amien RaiscoronaCOVID-19Lebaranmudik lebaran
Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono

Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.

Artikel Terkait

Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.