Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jualan Buku Karya Sendiri via Online dan Dibayar Pakai: Lah, Bukannya Gratis?

Kim Al Ghozali oleh Kim Al Ghozali
16 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pembeli buku yang pura-pura bodoh dan bertanya balik, “Lho bukannya gratis?” itu ada. Eksis di dunia yang fana ini. Sialnya, yang sedang ditanya itu saya.

“Minat baca masyarakat kita memang rendah, tapi minat minta buku gratis sangat tinggi,” begitu seorang teman penulis berseloroh, menggambarkan betapa antusias dan doyannya sebagian masyarakat kita saat minta buku gratisan. Bahkan, antusiasme ini mungkin lebih tinggi ketimbang minta traktir nonton bioskop, misalnya.

Iklan

Biasanya hal semacam ini dialami oleh seorang penulis yang bukunya baru terbit dan melakukan promosi secara online. Di sana selalu saja ada orang nyeletuk-berkomentar: “Buat aku gratis ya,” atau, “Minta dong,” atau, “Teman sendiri masa beli,” tanpa perasaan malu. Baik orang itu kenal dekat atau hanya sebatas teman di media sosial, dan parahnya biasanya mereka adalah orang-orang yang tak punya track record yang bagus soal budaya literasi.

Dari kejadian seperti ini, rasanya tidak salah kalau saya mengambil kesimpulan sementara bahwa masyarakat kita jangan-jangan bukan tak berminat membaca. Bukan. Masyarakat kita sebenarnya punya minat baca, sayangnya tak berminat untuk beli buku.

Barangkali karena membeli buku bukan termasuk membeli barang yang pemakaiannya dikategorikan praktis semacam membeli pulsa untuk kuota internet atau membeli bedak yang bisa langsung dipakai dan efek atau manfaatnya bisa dirasakan seketika.

Saya tak tahu apa yang ada di benak orang-orang semacam ini. Mungkin ketika ada orang menerbitkan buku, mereka berpikir orang yang menerbitkan buku itu sudah otomatis berkecukupan dan mendapatkan limpahan rezeki dari bukunya secara langsung. Atau dianggap penulis tidak keluar modal sama sekali, sehingga dengan enteng meminta jatah atau mencicipi percikan karya tersebut.

Baiklah, masih mending jika penulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor yang tak perlu rogoh kocek untuk biaya cetak—biayanya ditanggung penerbit dan penulis dapat 10 eksemplar dari penerbit sebagai bukti terbit. Nah, 10 buku yang didapatkan secara gratis itu masih bisa dibagikan secara gratis.

Kalau yang menerbitkannya pakai jalur self publishing? Yang secara teknis semua biayanya ditanggung si penulis gimana? Mulai dari membayar tukang lay out, tukang sampul, editor sampai biaya cetak. Jangankan mendapatkan untung atau balik modal, tekor sampai gulung karpet iya.

Di satu sisi, memang perlu kita mafhum—meski ucapan meminta buku gratis itu kadang menyakitkan—atas keawaman beberapa orang mengenai fakta di balik proses sebuah buku diterbitkan.

Bahwa untuk mengembalikan modal satu buku yang diberikan secara gratis, seorang penulis harus menjual beberapa eksemplar buku. Itu merupakan perkara yang sangat perlu bagi pembaca-pembaca buku gratisan ini.

Atau mungkin mereka berkaca pada kesuksesan penulis-penulis yang tajir dari karyanya. Katakanlah macam Tere Liye, Habiburrahman El Shirazy, atau Andrea Hirata yang konon dengan royalti bukunya bisa untuk beli es cendol buat berenang keluarga satu kelurahan. Oke deh, mereka ini pengecualian. Lah, bagaimana dengan penulis buku puisi atau penyair yang nggak laku-laku amat karyanya?

Padahal buku puisi merupakan salah satu buku yang agak sulit diperdagangkan. Dalam arti bukan barang yang bisa dijadikan komoditas dan nilai jualnya bisa begitu populer layaknya novel atau kumpulan cerpen. Kalaupun ada yang laku keras, saya kira tidak banyak buku puisi yang bisa selaku genre buku lainnya.

Saya sendiri tahu ada banyak sekali penyair yang tertatih-tatih dalam menjual buku puisinya, terutama yang dijual secara pribadi baik online maupun offline, atau melalui acara-acara bedah buku. Bagi buku puisi, laku 300 eksemplar itu sudah masuk kategori karomah. Itu pun tidak dalam jangka waktu yang pendek semisal seminggu atau sebulan. Kalau buku puisi hanya laku 70 eksemplar dan yang minta gratisan 80 orang, apa tidak bolong modalnya, Pak Eko?

Soal menjual buku karya sendiri secara online saya punya pengalaman sendiri. Selain sering menerima celetukan “minta gratis”, buku saya beberapa kali dibeli orang tapi tidak dibayar. Dibeli tapi tidak dibayar artinya gratis, hanya saja narasinya “membeli”.

Iklan

Dalam menjual buku sendiri secara online, saya mengikuti cara beberapa teman penulis dalam proses transaksinya. Ketika saya promosi buku di Facebook, Instagram atau Twitter lalu mendapat tanggapan ada orang yang berminat dan mau membeli, biasanya saya langsung chat via inbox untuk menanyakan alamatnya sekaligus memberi harga buku beserta ongkos kirimnya.

Lalu saya kirim buku ke alamat yang sudah diberikan itu. Saya tak pernah meminta buku saya untuk dibayar duluan atau si pembeli mentransfer uang terlebih dahulu seperti halnya transaksi online umumnya. Saya pikir ini cara menjual buku sendiri yang paling ramah dan bersahabat. Baru kemudian setelah si pembeli mengabarkan bukunya sudah sampai atau ketika saya cek online di website jasa pengiriman barang buku sudah diterima, saya hubungi kembali si pembeli dan memberikan foto nota pembayaran.

Orang yang paham biasanya langsung menanyakan nomor rekening saya. Tapi tentu ada juga pura-pura bodoh dan bertanya balik, “Lho bukannya gratis?”

Saya jawab, saya sedang jualan dan itu sudah jelas sejak saya promosi sampai saat saya inbox. Dia masih ngeyel dengan jawaban, “Si Anu juga dapat ‘kan?”—kebetulan memang ada seorang tokoh publik yang berfoto dengan buku saya dan saya posting di media sosial.

“Si Anu juga membeli,” kata saya. Tapi karena memang dasarnya mungkin bermental gratisan, dia tak menjawab lagi inbox saya dan juga tidak transfer uang.

Ada pula yang meminta dikirimi buku secara gratis dengan modus ingin mengulas atau bikin resensinya. Namun karena saya tahu itu memang cuma modus, maka meskipun buku sudah dikirim tentu ulasannya tak muncul-muncul juga. Oqe, baeqla~

Cerita ini adalah bagian dukanya menjual buku sendiri secara online. Sedangkan bagian menyenangkannya tentu ada juga, meski nggak sering. Yah, namanya juga suka-duka, maka selalu beriringan.

Misal, ketika menjual buku seringkali saya menerima uang pembayaran “yang tidak-tidak”. Beberapa dari teman yang saya kenal, beberapa dari yang sebatas saya kenal. Ketika membeli satu eksemplar buku yang harganya 40 ribu sekian rupiah beserta ongkos kirimnya, tak jarang ada yang mentransfer duit sampai dua ratus ribu rupiah.

Tentu saja saya keberatan dengan transaksi macam ini. Saya komplain ketika mereka menunjukkan bukti transfernya, namun malah dijawab, “Itu rezekimu. Terima saja.”

Wah, saya bisa apa, selain mengucapkan terima kasih? Lalu berpikir, mungkin ini gantinya buku-buku saya yang sudah kadung kena tipu gratisan.

Namun tentu ada pula yang tidak saya beratkan, karena memang ada yang tak menunjukkan bukti transfer, tapi di kemudian hari ketika saya cek buku tabungan, tiba-tiba sudah ada rekam transfer di luar ketentuan saya atas harga buku yang saya jual. Lagi-lagi saya tak bisa berbuat apa-apa karena sudah lupa siapa yang bertransaksi di hari atau tanggal sekian.

Saya pikir pengalaman menjual buku karya sendiri juga dialami oleh banyak penulis lainnya. Saya tahu, adalah hak setiap manusia untuk mendapatkan bacaan yang bermutu, hanya saja jangan lupakan juga hak penulis yang mau bersusah payah melakukan riset, belajar menulis bertahun-tahun,  lalu memproses penerbitan bukunya sendiri dari nol sampai jatuh ke tangan pembaca.

Kalau kita tidak bisa menghargai buku orang secara intelektual atau pemikiran (dengan mengulasnya atau mendiskusikannya), setidaknya hargailah jerih payahnya dengan membeli bukunya—atau sekalian tidak sama sekali tanpa nyeletuk “gratis”—toh, penulis setidaknya juga butuh uang rokok atau kopi selama proses menulis.

Budaya membaca itu memang penting, tapi budaya membeli buku jauh lebih penting lagi. Sebab kalau semakin banyak orang yang membayar pakai “lah, bukannya gratis?”, mana bisa buku diproduksi? Lalu kalian mau baca apa kalau buku sudah tidak bisa lagi diproduksi? Daun?

Terakhir diperbarui pada 15 September 2018 oleh

Tags: Andrea HirataBukubuku onlineeditorFacebookgratisgratisanhabiburrahman el shirazyInstagramjualan bukulay outMinat Bacaminat baca rendahonlinepenerbitanself publishingTere Liyetwitter
Kim Al Ghozali

Kim Al Ghozali

Artikel Terkait

Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO
Ragam

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.