Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Joey Alexander di Antara “Musiccarry vs Musicmercy”

Fransisca Agustin oleh Fransisca Agustin
24 Februari 2016
A A
Joey Alexander di Antara "Musiccarry vs Musicmercy"
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di Eropa, hak cipta musik begitu dihargai. Saking dihargainya, semua job dari konser gemerlap ribuan penonton sampai job paling amatir di kampus pun ditagih royalti. Per lagu. Oleh karenanya, Anda harus menyetor semua daftar lagu yang dibawakan. Kecuali kalau Anda membawakan lagu sendiri atau kalau job-nya gratisan–tapi nanti bukan “job” dong namanya, melainkan kerja bakti.

Sementara itu, kalau pihak penyewa lalai bayar tagihan royalti, datanglah surat panggilan sidang pengadilan. Akibatnya, tidak ada lowongan job reguler, karena jatuhnya akan jadi kemahalan. Musik gathering perusahaan atau pernikahan pun biasanya hanya akan menampilkan musik klasik yang sudah public domain sehingga bebas royalti. Kecuali perusahaan besar dan pasangan tajir yang sanggup membayar artis asli. Kalau sudah begitu, jangan harap tamu bisa request lagu idola, apalagi penuh waktu seperti organ tunggal.

Iklan

Imbas lainnya dari itu semua: “guru besar” kita semua–Profesor YouTube–tidak bisa diakses!

Pernah suatu ketika ada teman orang Indonesia di Jerman yang mengunduh serian jadul Friends, selang beberapa hari kemudian ia didatangi surat tagihan bayar royalti sebesar ratusan Euro. Tentu saja itu semua bikin sesak setengah mati.

Lalu, apa jadinya kami semua, para pemusik kelas tongkol ini, tanpa Prof. YouTube?

Ngomong-ngomong soal YouTube, dua tahun lalu saya sudah mendengarkan si “anak ajaib” Joey Alexander via–ya darimana lagi selain–YouTube. Namun, karena otak kecil saya kurang bisa mencerna alunan jazz dengan sempurna tanpa merasa kembung, saya pun hanya mendengarkan lagu Blackbird (The Beatles) yang dibawakannya.

Dan, tentu saja, saya lalu terbengong-bengong, meski bukan yang pertama dan juga bukan yang terakhir.

Menurut pemahaman musikalitas saya dan beberapa rekan musisi lain, Joey Alexander bermain dengan minimalis, rapi, groove-nya enak buangeeddhh, bass-nya mencengangkan, sentuhan blues-nya kena, rasa dinamikanya pun makjleb. Dan seterusnya… Dan seterusnya…

Pasca melihat “anak ajaib” tersebut, kami, para pemusik lainnya ini, kemudian merasakan sesuatu yang campur aduk antara ngiler dan minder. Kami merasa seperti butiran debu semata sambil bertanya-tanya: apakah ada artinya yang kami lakukan selama ini?

Perasaan takjub karena Joey Alexander masih membekas di dalam diri saya ketika pada suatu hari, saya menghabiskan waktu di teras belakang rumah sambil mencecap ngopi tubruk dan mendengarkan kicauan burung-burung gereja. Di antara suara-suara burung mungil itu, ada juga burung kenari, kutilang, perkutut, dan juga ayam bekisar yang parade nyanyiannya seolah tengah dilombakan. Apakah kemudian suara burung gereja sia-sia belaka?

Ada mobil Mercy yang super empuk dan mampu berlari kencang. Ada pula mobil Carry yang meski butut tapi juga banyak jasanya. Jadi angkot di desa, misalnya, untuk mengangkut mulai dari orang sampai sayuran, kambing atau domba, hingga duren dan buah-buahan lainnya. Bayangkan bagaimana ruwetnya kalau yang menjadi angkot adalah Mercy. Tentu tak akan berguna banyak bagi khalayak.

Kalau Anda pernah naik gunung, Anda pasti pernah merasakan bahagia tak terkira ketika sudah sampai jalan raya dan menemukan tumpangan gratis. Sebobrok apapun mobilnya, perasaan lega itu pasti akan muncul. Lagi-lagi, coba bayangkan bagaimana kalau Anda keukeuh hanya meunggu tumpangan Mercy? Saya pribadi, sih, kalau ujug-ujug nemu Mercy putih terang ketika tengah mengarungi savana di Gunung Bromo, pasti akan langsung lari terbirit-birit.

Iklan

Setelah berlagak menjadi filsuf dadakan di sore hari tadi itu, saya kemudian menyadari: di dunia yang fana ini, semuanya memiliki peran masing-masing. Ada pemusik yang ditakdirkan jadi Mercy, ada yang jadi Carry, Kijang, Karimun, juga Fuso, misalnya. Atau mungkin Mercy yang lebih merakyat: Mercy 3 pintu, 30 kursi.

Anda sendiri ingin menjadi yang mana?

BACA JUGA Kenapa Dedi Mulyadi Sampai Kalah dari Ridwan Kamil pada Pilgub Jabar? dan tulisan Fransisca Agustin lainnya.

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2021 oleh

Tags: carryjoey alexanderKonser MusikmercyMusik
Fransisca Agustin

Fransisca Agustin

Artikel Terkait

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026

6 Juli 2026
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Unpad: riset kampus bukan sekadar untuk lulus. MOJOK.CO

Sarjana di Indonesia Banyak tapi Riset Ilmiahnya Nggak Guna

13 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.