Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jangan Berteman dengan Dosen Pembimbing Skripsi di Facebook, Serius Jangan!

I Wayan Agus Wiratama oleh I Wayan Agus Wiratama
3 Maret 2021
A A
Jangan Berteman dengan Dosen Pembimbing Skripsi di Facebook, Serius Jangan!

Jangan Berteman dengan Dosen Pembimbing Skripsi di Facebook, Serius Jangan!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jangan kira berteman dengan dosen pembimbing skripsi di Facebook itu bikin kamu jadi mahasiswa tepat deadline. Tidak. Sama sekali tidak.

Buat kamu, mahasiswa yang punya keinginan (((mulia))) berteman dengan dosen pembimbing skripsi di Facebook, terutama kalau kamu adalah mahasiswa-bangkotan-tua-bangka-semester-entah-sudah-berapa, ingat satu nasihat gratis dari saya ini: jangan!

Iklan

Sudah, sudah, nggak perlu tanya kenapa. Anggap saja nasihat ini adalah pesan khusus dari dosen penguji skripsi yang tak bisa kamu tawar lagi.

Berteman dengan dosen pembimbing skripsi di media sosial itu sangat-sangat-sangat rawan. Berisiko dan rawan bikin kamu kena teror tidak hanya di ruang privat, tapi ter-publish seantero universe.

Teman saya mengalaminya, dan buat kamu mahasiswa yang sedang dalam tahap tersebut, bersyukurlah sudah membaca tulisan ini karena tak perlu melakukan kebodohan yang sama. Biarkan orang lain yang melakukannya, dan kita cukup mengambil hikmahnya.

Semua diawali dari suatu hari yang cerah, hidup seorang mahasiswa (yaitu teman saya) yang kebetulan masih memiliki hati, suci, bersih, dan niat mulia.

Hal itu ditandai dengan kebiasaan teman saya yang selalu berusaha membuka ruang silaturahmi selebar-lebarnya, termasuk ke dosen-dosennya di Facebook. Barangkali karena ia ingat bahwa silaturahmi dengan banyak dosen konon bisa memanjangkan usiamasa studinya.

Teman saya ini, benar-benar add friends satu-satu dosennya di Facebook. Sebagian besar di- approve. Dan di situlah nasib celakanya bermula. Ia tak sadar, salah satu dosen yang ia add termasuk dosen yang kemudian jadi pembimbing skripsinya.

Apesnya lagi, di hari random lainnya, teman saya ini mengumumkan bahwa bukunya telah terbit. Ia posting lah kabar bahagia itu di Facebook. Menurutnya, proses menulis buku itu penuh perjuangan, maka wajar kalau kabar bahagia itu perlu sedikit dirayakan—setidaknya—dengan teman-temannya di Facebook.

Kebodohan berikutnya pun terjadi: teman saya dengan polosnya menandai teman-teman Facebooknya.

Mungkin karena tak sabar untuk mendapat like dan komentar atas keberhasilannya menerbitkan buku, ia jadi tak sadar dengan kesembronoannya. Awalnya, reaksi yang muncul adalah riuh komentar memberi selamat dan pujian atas usahanya.

Teman saya membalas komentar itu dengan gembira seperti sebuah pesta. Meski sesekali berpikir keras, “Duh, ini gimana caranya ya biar mereka sekalian pesan buku saya?”

Berhari-hari kemudian, hapenya dibanjiri notifikasi. Setiap ada komentar, teman saya akan berpikir sejenak untuk membalas dengan sabar. Mencoba membribik teman-temannya supaya mau pesan bukunya sekalian, bukan cuma kasih selamat-selamat doang tapi nggak beli.

Sampai kemudian…

…hari pembalasan itu pun tiba.

Muncul sebuah komentar yang seolah menikam jantung dan kehormatannya sebagai mahasiswa. Reaksi pertama yang ia rasakan adalah bingung, pusing, malu, dan rasanya ingin kabur dari dunia yang fana ini. Teman saya ini benar-benar lupa kalau sudah berteman dengan dosen pembimbing skripsinya di Facebook.

Bodohnya lagi, entah sudah berapa purnama ia tidak pernah membelai tugas skripsinya dan sudah berapa biji chat dosen pembimbingnya yang ia abaikan.

Dalam kolom komentar postingan yang membahagiakan itu akun dosen pembimbing skripsinya muncul begitu saja. Komentarnya singkat, dingin, dan membawa kesan horor tingkat dewa: “Kapan bimbingan?”

Iklan

Dunia seolah berhenti bergerak, lautan mendadak tenang tak berombak, angin tak lagi berembus, dan Matahari seolah berhenti kasih diskonan. Sepi, sunyi, dan mencekam.

Komentar teman-temannya pun berhenti semenjak dosen itu nimbrung. Seperti tombol bel buruh pabrik agar balik kerja lagi dari jam istirahat. Semua teman-temannya yang tadi begitu riuh di kolom komentar pada kabur. Teman saya ditinggal sendiri menghadapi “pengadilan” dadakan dari dosen pembimbing skripsinya itu.

Postingan itu mendadak jadi seperti gedung kosong, sepi, sunyi, dan seolah bikin komentar si dosen pembimbing menggema seantero negeri. Nyaring dan terasa berulang kali muncul di kepala.

Kapan bimbingan, kapan bimbingan, kapan bimbingan.

Seperti yang saya katakan tadi, membalas komentar temannya saja ia perlu menjelajahi samudra isi kepalanya, apalagi membalas komentar dari dosen pembimbing yang sudah ia cuekin entah berapa lama. Keringat dingin dan barangkali sedikit pipis sudah mulai keluar pelan-pelan dari teman saya karena saking takutnya.

Saya yang kebetulan melihat postingannya, cekikikan melihat komentar dosen pembimbing itu. Lantas saya chat ia secara personal lewat WhatsApp, “Pestamu dibubarin Pak Kos, ya?” dengan tiga emoticon ketawa miring 45 derajat ke kanan.

Dan, chat saya tidak dibalas. Mungkin tenaga dan pikirannya sudah habis untuk memikirkan mau balas apa ke dosen pembimbing skripsinya di postingan Facebook itu.

Akhirnya, ia membalas komentar itu, “Maaf, Pak. Skripsi saya masih dalam proses.”

Hm. Normatif sekali.

Padahal kalau saja draf skripsinya itu sudah diprint dalam bentuk kertas, saya yakin skripsinya itu sebenarnya sudah tertimbun jutaan tahun dan jadi fosil. Hm, cukup berbakat jadi politisi juga teman saya ini.

Beberapa hari kemudian, saya tahu, teman saya ini hilang dari peredaran dunia per-medsos-an gara-gara komentar dosbing (dosen pembimbing) skripsinya. Bahkan tak cuma medsos, chat WhatsApp dari teman-temannya pun tak dibalas.

Benar-benar pria baik yang malang. Malang sekali.

Meski begitu, jika ada pesan yang paling pas untuk teman saya, barangkali ya cuma gubahan potongan sajak Chairil Anwar ini:

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

 

Ah, hatiku yang tak mau memberi.

Mampus kau, dikoyak-koyak komen dosbing skripsi!

BACA JUGA Jangan Tulis Nama Pacar di Skripsi, Pokoknya Jangan! atau tulisan soal SKRIPSI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2021 oleh

Tags: dosen pembimbing skripsiFacebookMahasiswaskripsi
I Wayan Agus Wiratama

I Wayan Agus Wiratama

Penulis buku kumpulan cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu” (Mahima Institute Indonesia). Aktif di Teater Kalangan. Tinggal di Singaraja, Bali.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Saat anak bangga jadi mahasiswa abadi (tak kunjung lulus kuliah karena sibuk organisasi hingga lupa skripsi) ternyata bikin orang tua terbebani MOJOK.CO

Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani

4 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.