Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jalan Tol Cipali dan Pedagang Kecil Pantura yang Dicampakkan

Kokok Dirgantoro oleh Kokok Dirgantoro
21 Juli 2015
A A
Jalan Tol Cipali dan Pedagang Kecil Pantura yang Dicampakkan

Jalan Tol Cipali dan Pedagang Kecil Pantura yang Dicampakkan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Para pemudik dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Timur tentunya bersorak-sorak bergembira ketika tol Cikopo-Palimanan dibuka. Ruas 116,75 km ini adalah jalan tol terpanjang di Indonesia. Memotong jarak tempuh lebih kurang 40 km, dan menghemat waktu tempuh 1,5-2 jam perjalanan.

Semua bersuka cita. Saya, sebagai neolib yang dididik kapitalis sejak dalam pikiran, juga turut berbahagia. Arus barang dari dan ke Jatim-Jateng ke Jakarta dan sekitarnya maupun sebaliknya jadi makin efisien, dan waktu tempuhnya relatif bisa diprediksi.

Iklan

Mungkin pengaruh ramadan dan keseriusan saya menjalankan One day one Juz (walau hanya bertahan tiga hari), terjadilah keajaiban dalam pemikiran saya. Saya mendapat bisikan gaib, bahwa ternyata, pembangunan infrastruktur besar ini tak ubahnya mencampakkan mantan. Seperti meninggalkan kekasih yang selama ini menemani  hari-hari yang berat saat mudik beberapa tahun lalu.

Kekasih yang dicampakkan itu bernama ekonomi rakyat kecil.

Apa hubungannya? Bukankah karena tol, perekonomian akan makin efisien? Sebentar. Sabar. Jangan buru-buru mengambil keputusan seperti situs berita abal-abal.

Selama ini arus lalu lintas Pantuta telah memberi penghidupan bagi ribuan usaha kecil yang terserak dari Cikampek hingga Cirebon. Mereka mendapat berkah dari belanja orang-orang lewat yang jumlah kendaraannya puluhan ribu setiap hari.

Diperkirakan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) exit Cikampek berkisar 15 ribu kendaraan. Saat mudik jumlahnya bisa mencapai 50 ribu di arus puncak. Jika setiap kendaraan yang lewat belanja Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, maka untuk LHR biasa akan ada potensi ekonomi Rp 1,5 miliar sampai Rp 3 miliar per hari. Saat musim mudik, jumlah potensi belanja mencapai Rp 7,5-15 miliar. Ini saya melakukan penyederhanaan, kalau dihitung lebih rinci, sebuah bus yang berhenti di jalur pantura akan memberikan dampak besar belanja penumpang. Dari sekedar beli makanan kecil, minum, buah, minyak angin hingga yang paling kecil: numpang kencing.

Sementara Tol Cipali, diperkirakan akan memiliki LHR 25 ribu dengan titik tertinggi jelang lebaran mencapai 75 ribu kendaraan. Betapa luar biasa potensi ekonomi dari kendaraan tersebut.

Sayang seribu sayang, potensi tersebut tak dinikmati oleh usaha kecil pantura. Nasibnya mirip banget dengan pacar lama yang ditinggalkan.

Padahal dulu, sebelum ada Cipali, orang-orang selalu menunggu exit Cikampek untuk beli peyeum, rambutan, mangga, makan di restoran Padang, jajan sate, dan masih banyak lagi. Kini bablas. Kepala mendongak sombong sembari menginjak pedal gas di tol. Tak peduli lagi dengan usaha kecil yang dulu kerap saling sapa, membantu kita menghapus dahaga atau makan saat berbuka H-4 hingga H-1.

Ada berapa tempat usaha, pengasong, pedagang yang berharap dari lalu lintas Pantura Cikampek-Cirebon? Ya musti research dulu. Ayo cari donor dan sponsor, haha.

***

Cipali memiliki delapan tempat peristirahatan. Cukup banyak. Siapa yang akan mengisi tempat istirahat tersebut? Siapa yang memiliki cukup modal untuk mengakses lokasi dengan potensi ekonomi demikian melimpah setiap hari?

Yang pasti, waralaba modern pasti berebut. Mereka punya modal, punya standar, dan sudah memiliki rekam jejak. Dengan mudah mereka bisa berhitung berapa modal yang akan keluar untuk biaya sewa, produk fast moving apa yang menjanjikan volume penjualan tinggi dan margin bagus, butuh berapa waktu untuk break even point.

Lalu bagaimana dengan puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu orang, yang bergantung hidup dari arus lalu lintas Pantura? Akankah dianggap kelompok usaha tak bermodal dan tak layak dapat akses masuk rest area? Bagaimana asongan tahu, telor asin, kacang yang dengan lincah meliuk-liuk masuk bus antarkota di exit Cikampek dan Simpang Jomin? Akankah mereka dianggap pemalas yang tak punya produktivitas?

Semoga setidaknya dipikirkan satu-dua rest area dibangun khusus untuk mereka. Diatur kepemilikannya dengan sewa harian sesuai pendapatan. Ditata keamanannya dan terintegrasi dengan tempat ibadah yang besar, parkir luas dan SPBU.

Rasanya harus ada upaya keras menyelamatkan usaha kecil yang terlindas pembangunan. Jangan cuma bisa berseru: rejeki sudah diatur Gusti Allah.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2018 oleh

Tags: CikampekCipaliLebaranMudikPalimanan
Kokok Dirgantoro

Kokok Dirgantoro

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Ironi silaturahmi Lebaran bersama keluarga

Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial

23 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.