Gerakan Kiri Kekimcil-kimcilan

MOJOK.COLenin punya istilah untuk kelompok ekstremis kiri, yakni “kiri kekanak-kanakan”, atau kalau dalam istilah saya “kiri kekimcil-kimcilan”.

Di Indonesia, akhir-akhir ini terjadi semacam gerakan pemaksaan kehendak dalam ranah agama. Berbeda sedikit: haram, kafir, bid’ah. Korbannya dari mulai para ulama yang dikafir-kafirkan, sampai para penjual makanan yang dipaksa tutup di bulan Ramadan dengan cara kekerasan.

Sebetulnya gerakan fasistik seperti ini, tidak hanya didominasi oleh gerakan keagamaan, tetapi juga oleh gerakan kiri, atau mudahnya gerakan orang-orang yang ingin membebaskan rakyat dari belenggu penindasan.

Mereka bisa jatuh dalam mental seakan paling benar, paling keren, paling berhak mengaku kiri. Sementara yang lain tersesat, korup, kolaboratoris, parlementaris, gradualis, dan macam-macam tuduhan yang lain.

Padahal jika dilacak benar, orang yang gemar menuduh seperti itu, belum tentu punya perilaku politik yang baik, belum tentu punya tabiat moral yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dulu, Lenin punya istilah untuk orang-orang seperti itu yakni “kiri kekanak-kanakan”. Tapi supaya punya konteks kekinian dan keindonesiaan, saya memberi istilah berbeda: kiri kekimcil-kimcilan. Hakikatnya: sama.

Supaya mudah dimengerti, dan mudah untuk memindai, berikut ini ciri-ciri orang atau lembaga yang punya watak “kiri kekimcil-kimcilan”.

Dia yang benar, yang lain sesat

Dalam hal mengambil pilihan isu, strategi perjuangan, dan bentuk organisasi, orang atau lembaga yang kena penyakit “kiri kekimcil-kimcilan” ini merasa paling benar sendiri.

Padahal pilihan isu, strategi, dan bentuk organisasi selain berdasarkan atas analisis situasi, juga berdasarkan atas kapasitas, letak, dan domain lembaga tersebut.

Pada era seperti ini, zaman kapitalisme mutakhir, ada ratusan isu yang harus direspons. Semua orang atau lembaga bisa fokus pada isu masing-masing, sesuai dengan konteks lokal dan kelembagaan: perempuan, buruh, ekologi, pertanian, pemberantasan buta huruf, ekonomi mikro, pemberdayaan masyarakat adat, penyadaran sejarah, dll. Banyak sekali.

Seseorang atau sebuah lembaga tidak bisa memaksa atau menyalahkan isu yang diambil oleh orang atau lembaga lain.

Demikian juga dalam berbagai strategi advokasi. Ada beragam cara. Semua sesuai dengan konteks, level, dan proses yang telah dijalani. Ada kiat-kiat bernegosiasi dengan situasi. Tidak perlu dikafir-kafirkan, eh, disalah-salahkan.

Yang paling tahu strategi yang tengah dijalani sebuah lembaga adalah lembaga itu sendiri. Tidak usah sok tahu. Sebab risiko dan apapun yang bakal terjadi, dialah yang akan menanggungnya.

Main fitnah, suka desas-desus, hobi ngerumpi

Karena punya pemahaman bahwa lembaga lain adalah salah dan lembaganya yang paling benar, maka metode propaganda yang dilakukan biasanya lewat fitnah, desas-desus, dan rumpian kosong.

Hobi sekali ngomongin kejelekan lembaga lain. Konsisten sekali memfitnah teman sendiri. Adol jare kulak jare. Mendengar dari orang, tidak diverifikasi, diolah sendiri, digoreng, diedarkan ke mana-mana sebagai sajian gosip.

Padahal di dalam strategi besar sebuah perang, ada adagium: perkecil musuhmu, perbanyak kawanmu. Lembaga yang berpotensi untuk diajak berkolaborasi mestinya diapresiasi. Bersinergi.

Kalau ada masalah: didatangi. Tabayun. Kalau ada waktu senggang: bersilaturahmi. Bukannya malah dijelek-jelekkan dan difitnah. Kalau seperti itu yang terjadi, maka yang terjadi justru: memperkecil kawan, memperbanyak lawan.

Bodoh pakai kuadrat.

Selalu meninggalkan sampah persoalan

Dengan tabiat politik seperti itu, maka wajar jika di mana-mana orang atau lembaga yang punya watak “kiri kekimcil-kimcilan”, akan selalu menyisakan persoalan. Pohon yang kuat tumbuh di atas tanah yang subur.

Lembaga yang baik dibangun dengan pondasi moral yang kokoh. Maka sebetulnya mudah melihat, menerka, memindai, lembaga atau orang yang punya sifat seperti itu.

Bagaimana rekaman jejaknya di masa lalu. Siapa saja yang jadi korban. Pernah menipu siapa saja. Sampah apa saja yang ditinggalkan. Dan lain-lain. Truk sampah akan mudah meninggalkan jejak. Mudah mengenalinya. Gampang mencium baunya.

Tidak akan besar

Lha ya bagaimana bisa berkembang besar kalau perilakunya seperti itu. Sehingga apa yang mereka lakukan seperti percobaan membangun rumah pasir. Dibangun, ambruk. Dibangun lagi, ambruk lagi. Ya pasti ambruk.

Letak dan caranya sudah keliru sejak awal. Mereka merekrut orang-orang baru karena orang-orang lama sudah ditendanginya. Orang-orang baru itu pun kelak akan ditendangnya. Satu-satunya cara agar bisa besar adalah masuk ke sarang lebah dan kalajengking.

Besar suara daripada daya

Karena dayanya lemah, salah satu hal yang paling mudah untuk memompa eksistensinya adalah bersuara besar. Pokoknya teriak. Lantang. Sampai serak. Lalu lemas. Besok kalau suara sudah pulih, teriak lagi, bersuara lagi, lantang. Lemas. Begitu seterusnya.

Lalu orang-orang yang sering mendengar teriakan itu, akan saling berbisik dan melantunkan doa. Supaya cepat insyaf. Kalau tidak insyaf juga ya cukup ditertawakan. Atau ditoleh sesekali untuk hiburan. Dijadikan ‘hiburan’ di kala senggang.


Catatan: Kimcil di artikel ini punya makna remaja yang banyak tingkah, suka pamer sesuatu, dan cerewet. Istilah ini tidak merujuk pada jenis kelamin dan profesi tertentu.

BACA JUGA 5 Ciri Anak Baru di Kaum Kiri alias Kiri Snobs atau tulisan Puthut EA lainnya.

Exit mobile version