Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Duh Pakde, ‘The Next Didi Kempot’ Bikin Sobat Ambyar Jadi Tambah Ambyar

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
7 Januari 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tajuknya sungguh menohok, “The Next Didi Kempot.” Tapi acaranya ternyata cuma pencarian bakat biasa. Cuma dompleng nama ternyata.

Lelah rasanya melihat acara-acara—baik awarding maupun talk show—yang secara terang-terangan “menghadirkan” kembali sosok Didi Kempot. Sosok yang menurut sebagian dari kami, pemegang teguh tradisi patah hati dinjogeti, meletakan tangis seorang laki-laki dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Iklan

Acara-acara ini memutar alunan musik sedih, gambar Pakde Didi Kempot terpampang dengan nyata dan host merendahkan nada suaranya selagi mencari derai air mata dengan paksa.

Maksud saya, memberikan penghormatan tentu saja boleh. Apalagi sosok Pakde Didi nggak usah ditanyakan lagi kelayakannya. Namun kesan yang acara-acara itu hadirkan, seakan mengajak masa penikmat Pakde Didi hanya untuk menangis dengan terpaksa.

Padahal, Pakde Didi semasa hidupnya, dari panggung ke panggung, mempersilakan siapa saja menangis, tanpa perlu adanya paksaan.

Kontradiktif, ya itulah televisi, mencari rating dengan paksaan yang kadang bikin penontonnya mbatin, “Opo, sih?” Lantas hadir satu acara lagi, katanya sih mencari sosok pengganti Pakde Didi.

Tajuknya aja sungguh menohok, The Next Didi Kempot. Bahkan pusara Pakde saja belum kering lho ini, tangis para penggemarnya pun saya yakin belum tutug. Kok ya ada yang mencari the next-the next-nya Didi Kempot. Wagu sih nggak, tapi blasss hora mutu.

Cita-cita Pakde Didi, di beberapa awarding yang blio singgahi pernah komentar bahwa cita-citanya adalah mengembalikan semangat musik-musik daerah. Mungkin cita-cita ini yang keliru diterima beberapa pihak.

Dari nama acaranya aja, The Next Didi Kempot, ini kan berarti mencari sosok yang bisa menggantikan Didi Kempot. Sudah, sudah, nggak usah mengelak, lha wong dari tajuknya saja sudah jelas begitu kok. Mulai dari bagaimana Pakde Didi bernyanyi, bertutur dengan penontonnya, kemudian bagaimana blio menyampaikan makna dari tiap lirik yang disampaikannya, ya itulah the next.

Bagaimana para penggemar sepak bola dibuat kecewa dengan the next-the next-nya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, begitu sekiranya nasib sobat ambyar ke depannya. Orang yang diberi label “the next”, biasanya merasa mempunyai beban yang menggunung, anehnya di acara The Next Didi Kempot ini nggak je, banyak tuh yang mendaftar.

Dan jebul konsepnya ya sama aja dengan pencarian bakat lainnya. Sama-sama ada Mbak Inul dan Mas Danang yang embuh kalau komentar kok ya berasa aneh. Kontestasi pencarian bakat dangdut, namun dikemas dengan embel-embel sebagai penerus tahta Didi Kempot.

Maksud saya, ini agak jahat, sih. Kalaupun namanya “The Next Campursari” masih mashook lah, lah ini terlihat hanya sekadar memakai nama besar Pakde Didi. Para penggemar Pakde Didi yang lain, pasti juga terbersit keheranan yang sama kayak saya ketika lihat konsep acara ini pertama kali, “Acara uopo tho iki?”

Lha wong sobat ambyar yang nonton menantikan atmosfer kala menonton Pakde Didi, malah yang ada jadi nontonin Mas Danang ngelawak. Duh dek, sudah ambyar makin ambyar. Bukan ambyar karena nikmat seperti nonton konser Pakde Didi, tetapi karena kecewa ambyar setengah mati.

Namun di balik setiap kekurangannya, ya harus saya akui tujuan acara ini sih baik, yakni melestarikan dangdut daerah atau tren campursarian tetap terjaga. Mulai dari Via Vallen, Denny Caknan, hingga Nurbayan. Bisa dibilang lengkap lah untuk mengisi kekosongan lawakan Mas Danang. Pun lagu-lagu yang dibawakan maupun pesertanya, saya nggak ada masalah kok.

Kalau niat dan tujuannya mau ngibing di depan televisi, Mbak Inul dan Via Vallen sih sebenarnya sudah memenuhi standar konsumsi itu. Namun kalau ngobrolin tentang filosofi menangis sampai teriris-iris, kemudian bernyanyi dan berteriak, lantas bilang, “Mantan cen bhaaajingaaan!” dieksekusi ala-ala tayangan kompetisi biar bisa tayang berkali-kali demi rating televisi?

Hm, mohon maaf saja, acara model begini bukan pilihan yang tepat.

Spaneng, runtut, dan penuh teknik, rasanya nggak mashook deh buat kami-kami yang siap jadi palugada derai air mata. Bukan bagus nggaknya resonansi suara, melainkan siapa dan bagaimana caranya menyampaikan. Ni lho, lihat di YouTube, wes, bagaimana cara Pakde Didi mengobok-obok perasaan orang-orang yang nonton blio.

Muda-mudi, tua muda, jomblo atau sudah punya pasangan, bahkan nenek saya orang Sunda, kalau dengerin lagu Tatu, mbrebes mili lho. Intinya saya nggak meragukan penerus-penerusnya, mau itu kontestan atau Denny Caknan yang digadang-gadang sebagai penerus, namun bagaimana cara orang-orang setelah Pakde Didi ini besar dengan caranya sendiri.

Iklan

Mereka besar tanpa beban gelar “the next Didi Kempot” dan bisa besar tanpa kata-kata sinis kayak, “Halah dompleng nama!”

Saya yakin kok, mau sampai kiamat dua kali juga Didi Kempot nggak akan terganti, namun orang-orang hebat dalam hal musik jawa seperti campursari dan pop Jawa, nggak bakalan berhenti hanya sampai Pakde Didi.

Jangan remehkan nama seperti Denny Caknan atau yang lain, yang sudah menemukan pasarnya sendiri, pun dengan kontestan-kontestan tanpa kudu labeling “the next Didi Kempot” yang justru mengganggu sekali. Udah sih, biarkan popularitas campursarian tumbuh tanpa perlu dikarbit acara televisi, apalagi sampai dompleng nama legenda sebesar Pakde Didi.

Bebaskan nama-nama pendatang baru berkembang jadi “Suket Teki” yang tumbuh subur di bawah guyuran “Banyu Langit” secara alami. Jangan karena demi rating, sampai dipaksain bikin “Dalan Anyar” untuk dipakaikan ke acara seremoni yang bikin perasaan “Cidro” penggemar Pakde Didi muncul lagi dan lagi.

BACA JUGA Selamat Jalan, Didi Kempot, Bapak Patah Hati Kami dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2021 oleh

Tags: ambyarDidi Kempotsobat ambyarthe next
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Bercita-cita menjadi pelatih Nankatsu. Mahasiswa filsafat.

Artikel Terkait

Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, dan Warisan Besar Musik Jawa.

2 Maret 2023
Alasan Google Doodle Tampilkan Didi Kempot 26 Februari MOJOK.CO

Alasan Google Doodle Tampilkan Didi Kempot 26 Februari

26 Februari 2023
Warisan Penting Didi Kempot untuk Musisi Indonesia Zaman Kiwari MOJOK.CO

Warisan Penting Didi Kempot untuk Musisi Indonesia Zaman Kiwari

26 Februari 2023
Didi Kempot, Agus Mulyadi, dan Asal Mula Julukan The Godfather of Broken Heart

Didi Kempot, Agus Mulyadi, dan Asal Mula Julukan ‘The Godfather of Broken Heart’

26 Februari 2023
penghargaa dari muhammadiyah mojok.co

Muhammadiyah Beri Penghargaan pada Tiga Maestro Seni dari Surakarta

19 November 2022
Dangdut koplo dan legenda Abah Lala MOJOK.CO

Dangdut Koplo dan Senggakan Abah Lala yang (Semoga) Tak Sekadar Menginterupsi Zaman

1 November 2022
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.