MOJOK.CO – Buat mahasiswa baru di Jogja, nggak papa kok belajar komunis atau Karl Marx, yang penting amal dalam kehidupanmu sehari-hari.
Sebelum kaki saya benar-benar menginjakkan kaki di tanah Yogyakarta, yang debu dan pasirnya tebal di siang hari, ayah saya, Marsal Salvina—seorang dokter di RSUD Solok yang sebenarnya cukup terbuka pikirannya—sudah melepas saya dengan sebuah warning yang lebih ngeri daripada diagnosis penyakit kronis: “Hati-hati di Jogja, Nak. Di sana banyak pergaulan bebas dan komunis.”
Saya sempat bergidik. Bayangan saya tentang Jogja seketika berubah mirip film propaganda zaman Orde Baru, yaitu film “Pengkhianatan G30/S-PKI”, dengan sosok Aidit yang menghisap rokok Gudang Garam Merah seperti kereta api.
Padahal, Ayah adalah orang yang sebenarnya memperkenalkan saya pada sosok filosof Jerman brewokan bernama Karl Marx. Beliau suka membaca, tapi agaknya bagi seorang anak aktivis Masyumi, Marx hanya boleh mampir di kepala sebagai pengetahuan, bukan sebagai gaya hidup, apalagi jalan politik.
Maklum, kakek saya adalah seorang ulama sekaligus propagandis Masyumi di Padang yang dalam sejarahnya memang punya trauma mendalam dengan kelompok berlogo palu arit.
Dulu Ayah pernah bercerita bahwa Kakek (Pak Gaek) itu sudah disuruh menggali lubang oleh “orang PKI”. Ceritanya, beliau akan dieksekusi dan akan dikuburkan di lubang yang sudah digali tersebut. Ternyata tidak jadi, karena komandan mereka memerintahkan untuk membatalkan hal tersebut.
Setelah kuliah dan membaca sejarah, baru saya paham kalau peristiwa kakek hampir dieksekusi itu terjadi saat masa PRRI. Kakek memang tidak mendukung PRRI, tetapi mungkin karena Masyumi, beliau dianggap pro-PRRI.
Dugaan saya, sepertinya yang menyuruh kakek gali lubang itu tentara pusat pimpinan Kolonel Ahmad Yani.
Mencari hantu komunis di Jogja, malah ketemu lagu Darah Juang
Setibanya di Bulaksumur, tepatnya saat ospek Fakultas Filsafat UGM pada pertengahan tahun 1999—setahun setelah demo besar-besaran anti-Soeharto di Yogyakarta—saya pasang mata lebar-lebar mencari hantu komunis yang dibilang Ayah.
Eh, yang saya temukan malah kerumunan mahasiswa yang disuruh mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi sambil menyanyikan lagu Darah Juang karya John Tobing. “Oalah, ini toh komunisnya?” pikir saya dalam hati.
Saat itu, memang euforia kiri dan demonstrasi mahasiswa masih terasa hangat. Pernah beberapa kali di awal saya kuliah, demonstran mengetuk ruang-ruang kelas dan mengajak mahasiswa untuk berdemo.
Kalau tidak salah, saat itu isu RUU PKB (Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya) yang ditolak keras oleh para mahasiswa karena dianggap akan mengembalikan Indonesia ke zaman Orde Baru.
Dulu, saat masih kuliah di Lampung, saya memang sempat ikut-ikutan demo. Tapi aktivisme saya saat itu masih aktivisme “setengah kopling”. Kalau barisan massa sudah mulai memanas, saya biasanya memilih “belok kiri” bukan demi revolusi, melainkan belok ke gang arah kosan karena perut sudah lapar dan ingin rebahan setelah capek kuliah.
Jogja yang “merusak iman” lewat bacaan
Namun, Jogja punya cara sendiri untuk merusak “iman” kenyamanan saya. Narasi-narasi besar mulai masuk ke kepala. Novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang dulu dilarang, buku Pemikiran Karl Marx karya Romo Magnis, hingga Madilog-nya Tan Malaka mulai mengisi rak buku saya. Kesadaran berdemo bukan lagi soal ikut-ikutan, tapi soal ide yang sudah menggelegak di kepala.
Masalah muncul saat liburan semester saya membawa tumpukan buku “terlarang” itu pulang ke Solok. Ayah saya, dr. Marsal, meledak.
Beliau hampir saja menggelar upacara pembakaran buku massal di halaman belakang rumah kami. Bagi beliau, buku-buku itu adalah virus yang bisa merusak akidah dan sejarah keluarga kami yang tegak lurus pada garis Masyumi.
Untungnya buku-buku itu diselamatkan nenek saya. Dibawanya buku-buku itu ke kamarnya. Kamar yang tidak berani ayah saya sentuh.
Tapi ada satu hal yang Ayah—dan mungkin banyak orang—salah kira tentang mahasiswa filsafat UGM yang hobi demo. Membaca Marx tidak lantas membuat saya lupa cara mengambil air wudhu.
Saya masih percaya Tuhan itu ada, dan saya masih melaksanakan ibadah sebagaimana mestinya. Saya juga masih suka baca buku-bukunya Buya Hamka, seperti Falsafah Hidup, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan lain-lain.
Puncaknya adalah saat saya hampir lulus dan pulang ke kampung halaman. Saya didapuk menjadi imam salat untuk keluarga besar kami.
Saat salam terakhir dan memutar wajah, saya melihat Ibu menangis terharu. Mungkin beliau sempat mengira anaknya sudah benar-benar “hilang” di hutan pemikiran kiri Jogja, namun nyatanya sang anak masih fasih memimpin doa di atas sajadah.
Komunis kok lancar baca Qur’an
Ironi ini sebenarnya mencapai puncaknya di ruang kelas Filsafat Islam. Suatu hari, Bu Dosen tampak terperangah saat saya membaca surat Al-Ma’un dengan makhraj dan tajwid yang fasih.
Beliau tahu betul reputasi saya di kampus: tukang demo, sering orasi, di kelas juga sering mengajak debat mahasiswa lainnya dengan argumentasi kekiri-kirian, dan spesialis penempel pamflet anti-kapitalisme yang garis keras.
Beliau berujar santai, “Wah, ternyata komunis lancar baca Qur’an juga, ya?”
Saya cuma bisa mengelus dada. Ingin rasanya protes dan menjelaskan bahwa membela hak rakyat tidak otomatis membuat saya jadi pengikut Marx dan Lenin. Tapi ya sudahlah, demi menjaga kerukunan (dan demi nilai A yang akhirnya memang saya dapatkan), saya pilih diam.
Lagipula, apalah arti sebuah label jika Al-Ma’un masih terpatri di kepala dan bakti pada orang tua masih terjaga?
Setelah lulus, saya pun jadi Guru Agama Islam di sebuah Sekolah Internasional di Jakarta. Sehari-harinya malah sering ketemu dengan para guru dan murid yang memiliki sikap pro-Palestina.
Memang sih, dulu waktu kuliah, organisasi tempat saya bernaung sempat mengadakan demo menyuarakan kemerdekaan Palestina, saat Amerika Serikat menyerang Irak dan Israel menyerang Gaza serta Tepi Barat.
Poinnya, bagi siapa pun, sebaiknya jangan menghakimi seseorang dari apa yang terlihat. Belum tentu minat baca buku kiri akan menjadikan seseorang komunis atau ateis garis keras.
Karena pikiran seseorang tidak ditentukan oleh apa bacaannya semata, melainkan bagaimana amalnya dalam kehidupan sehari-hari—ceile, pikiran ustaz saya tak sengaja keluar.
Untuk Ayah (Papa) yang sekarang sudah beda alam dengan saya, terima kasih ya Pa, sudah berdialog dan mengenalkan banyak buku serta perspektif ke saya. InsyaAllah semua yang Papa ajarkan sangat berguna bagi saya dalam menjalani kehidupan yang penuh liku ini.
Penulis: Harsa Permata
Editor: Agung Purwandono
