Puluhan ribu artikel terindeks Scopus, tapi nol dampak ke masyarakat
Mari kita bedah data makro nasional berdasarkan data kompilasi resmi Science and Technology Index (SINTA). Ekosistem riset di Indonesia sebenarnya sempat mencatatkan rekor publikasi fantastis hingga menghasilkan 68.830 artikel terindeks Scopus dalam kurun waktu satu tahun, mengantarkan Indonesia ke peringkat 25 dunia.
Dinamo penggerak utama mesin cetak massal ini disumbang oleh universitas klaster atas seperti UI, UGM, ITB, UNAIR, hingga UNS.
Tapi, apa dampak riil dari puluhan ribu artikel Scopus tersebut bagi kehidupan nyata masyarakat Indonesia? Jawabannya hampir mendekati nol besar.
Berbagai indikator internasional menunjukkan kualitas sitasi dari produk ilmiah Indonesia berada di peringkat bawah di Asia Tenggara. Publikasi massal ini mayoritas hanya berakhir sebagai formalitas administratif kenaikan pangkat dosen atau prasyarat kelulusan.
Miliaran anggaran negara habis terbakar, namun riset yang dihasilkan jarang sekali menjelma menjadi solusi konkret untuk mengatasi problem struktural masyarakat. Artikel berbiaya mahal itu berakhir terkunci di balik paywall penerbit asing, tidak bisa diakses oleh publik yang mendanainya, dan hanya berfungsi sebagai kosmetik birokrasi.
Ketika AI yang membuat amburadul menjadi “penyelamat” instan
Tekanan psikologis demi mengejar angka kosong dan ketimpangan regulasi antar-jurusan ini akhirnya memicu lahirnya jalan pintas yang merusak tatanan keilmuan: eksploitasi Artificial Intelligence (AI) secara ugal-ugalan.
Sebagai akademisi rumpun SHARE yang aktif bertindak sebagai reviewer dan telah memeriksa nyaris 44 naskah artikel sepanjang 1,5 tahun terakhir di 3 jurnal nasional berbeda ini saja, saya dibuat mengelus dada. Setidaknya ada 15 hingga 20 artikel yang masuk ke meja saya terdeteksi kuat diproduksi secara instan menggunakan generative AI.
Aspek yang membuat saya jengkel bukanlah pada teknologinya, melainkan kemalasan akut penulisnya. Artikel berbasis robot tersebut menyuguhkan data halusinasi dan justru membuat isi penelitian menjadi semakin amburadul.
Bahkan, beberapa naskah menunjukkan salah kaprah mendasar dalam penyusunan bab metode penelitian: logikanya melompat-lompat dan tidak masuk akal untuk standar sosial humaniora.
Saya sering keheranan, apakah draf ini sama sekali tidak dibaca ulang sebelum submit? Minimal lakukan penyuntingan manusiawi agar tidak terlihat seperti hasil copy paste mentah dari ChatGPT. Sayangnya, karena batas gaya bahasa robot kian buram, waktu berharga reviewer habis hanya untuk mendeteksi kebohongan ilmiah dari AI yang berhalusinasi.
Publikasi Scopus LPDP: Negara kehilangan dana miliran rupiah, publisher asing yang kian kaya
Ujung dari sengkarut ini adalah lingkaran setan yang paripurna. Negara kehilangan dana miliaran rupiah, mahasiswa mengalami depresi hebat, reviewer kelelahan menyortir sampah ilmiah berbasis AI yang amburadul, sementara yang diuntungkan hanyalah pemilik publisher kapitalis asing yang kian kaya raya.
Tidak percaya? Silakan cek sendiri di kanal jurnal.
Bagi rekan mahasiswa terutama dari rumpun SHARE, mari ubah strategi. Daripada menyetor puluhan juta rupiah ke jurnal kilat berbayar, manfaatkanlah peluang struktural non-artikel seperti book review atau coba artikel SLR melalui opsi subscription path yang sepenuhnya gratis total.
Batasi penggunaan AI hanya sebagai asisten penyunting bahasa di tahap akhir (proofreader), bukan sebagai mesin perumus metodologi. Langkah ini adalah tamparan elegan bagi kekakuan birokrasi riset domestik.
Sudah saatnya pembuat kebijakan bangun dari tidurnya. Pahami bahwa karakteristik riset ilmu sosial tidak bisa disamakan dengan ilmu eksakta.
Hentikan kultus berlebihan terhadap indeksasi eksternal berbayar yang membunuh esensi sejati dari riset ilmiah. Jika tidak, bersiaplah menyaksikan masa depan dunia akademik kita diisi sarjana yang lihai memerintah robot AI, namun lumpuh total dalam kemampuan berpikir kritis.
Penulis: Purwoko Ajie
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Beasiswa LPDP Gratis, tetapi Jalan untuk Mendapatkannya Makin Mahal