Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Horor Bela Negara

Andreas Rossi oleh Andreas Rossi
16 Oktober 2015
A A
Horor Bela Negara

Horor Bela Negara

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya merasakan horor ketika membayangkan program bela negara yang dicanangkan Mz Ryamizard Ryacudu. Selama sebulan dibangunkan sirine atau suara senapan tiap pukul 5 pagi. Diteriaki  berulang-ulang di muka saat baris-berbaris di bawah terik matahari. Lari, berguling, merayap, upacara. Lalu sisa-sisa hari dihabiskan untuk mendengarkan ceramah “Papua milik kita”, “awas bahaya laten komunis”, dan “NKRI harga mati”. Sambil menahan kantuk, tentu saja, daripada dituduh tidak nasionalis dan disuruh push-up dua puluh kali.

Mz Ryamizard pasti lagi demen-demennya sama ucapan Bung Besar,“Right or wrong it’s my country.” Ini memang betul, wong saya lahir di sini. Saya besar jadi warga negara sini, bukan warga negara Inggris. Mau ini negara jadi monarki, kapitalis, komunis, fasis, sampai jungkir balik sekalipun, Indonesia  is still my country. Tapi jangan paksa saya untuk membelanya jika ia salah. Saya ndak pernah diajari guru saya untuk membela yang salah. Pacar saya saja ndak saya bela kok kalau salah. Diputus ya biarin.

“Lho, salahnya negara di mana?”, mungkin ada dari situ yang tanya (pembaca Mojok sih harusnya ndak tanya lagi).

Gini ya, Mas, Mbak. Dimana negara ketika warga sipil dibedili aparat? Di mana negara ketika warganya ndak bisa beribadah? Di mana negara ketika Widji Thukul hilang dan Munir diracun di udara? Di mana negara ketika warga kehilangan tanah dan rumahnya? Di mana negara ketika nenek-nenek yang mengambil kayu bakar bisa dipenjara, tetapi koruptor malah akan dijamin tidak dipidana asal duitnya dibawa balik ke Indonesia?

Saya ndak mau menuduh negara ada di balik semua itu. Tapi kalau untuk menegakkan keadilan saja ndak bisa, melindungi yang lemah saja ndak bisa, apanya yang mau saya bela?

Saya sih mendingan. Saya pegawai negeri. Kelas menengah. Tinggal di Jawa yang bebas bencana asap. Rumah saya aman, ndak ada sengketa dengan pabrik besar. Kerjaan saya aman, ndak perlu ketar-ketir sama outsourcing dan upah murah. Seandainya saya wajib ikut bela negara, paling banter saya cuma nggerundel.

Lha tapi bagaimana dengan orang Papua, orang-orang yang lahannya diserobot tambang, orang-orang yang kemarin sesak napas karena asap, juga buruh-buruh yang ditekan agar negara ini ekonominya “lebih kompetitif”? Apa ya tega disuruh bela negara, saat negara tidak membela mereka? Apes betul.

Kalau ikut, sakit hati. Kalau tidak mau ikut, kata Pak Ryamizard disuruh hengkang dari NKRI. Hengkang ke mana? Masak mereka harus berakhir terkatung-katung seperti pengungsi Suriah hanya karena ndak mau baris-berbaris? Ndagel!

Saya bukannya skeptis. Saya percaya negara ini bisa jadi lebih baik. Tapi jika sekarang ini saya dan banyak orang lain malas membela negara, itu bukan karena kurang baris-berbaris! Kalau negara ini bersih, adil, dan ngayomi, saya mau ikut bela negara dengan sukarela. Kalau negara ini bisa menyuruh aparatnya untuk tidak menembaki warga sipil, satu tahun latihan bela negara pun saya lakoni.

Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya kalau yang dicintai itu memang baik. Orang akan mempertahankan sesuatu jika ia memang layak untuk dipertahankan. Kalau ndak percaya, tanya saja itu sama orang-orang yang gagal move on dari mantannya.

Makanya, tak perlulah menghabiskan anggaran buat belajar baris dan patriotisme ini-itu. Sedari SD orang-orang juga sudah kenyang makan yang begituan. Mending anggaran itu dialihkan saja buat bidang kesehatan dan pemberantasan kemiskinan. Yang lebih konkret gitu lho. Latihan upacara kan ndak bisa bikin orang bayar tagihan rumah sakit atau beli beras.

Menjelang tahun pertama pemerintahannya, kok nampaknya Pak Jokowi makin jarang blusukan. Bukan hanya blusukan ke rakyat kecil, tapi juga blusukan ke kantor menteri-menterinya sendiri. Lha bikin kebijakan kok ndak selaras sama yang dikampanyekan waktu nyalon dulu.

Saya dan mungkin banyak pemilih Jokowi lainnya kan memilih beliau karena beliau ndak suka militer-militeran. Munculnya kebijakan wajib bela negara ini bikin saya lumayan sedih.

Ngomong-ngomong, presiden kita masih Pak Jokowi yang bukan dari militer itu kan? Maaf, takut salah. Saya pikir saya sedang mimpi kalau yang menang calon presiden yang satunya lagi. Saya mulai susah membedakan, soalnya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Bela NegaraHororjokowiRyamizard Ryacudu
Andreas Rossi

Andreas Rossi

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.