[MOJOK.CO] “Akuilah, ketika memilih mobil, kualitas keselamatannya bukan bagian dari spesifikasi yang kita pertimbangkan.”

Lima tahun lalu atau lebih, biasa saja buat saya untuk menempuh Jogja-Surabaya dalam kisaran 6 jam atau Jogja-Cirebon hanya 5 jam kurang sedikit. Hari ini, mau pakai All New Accord dan berangkat di malam buta sekalipun, mustahil jarak tersebut ditempuh dalam durasi sependek itu.

Jalanan memang sangat padat, tak peduli hari aktif kerja dan sekolah, kala weekend, apalagi saat long weekend. Piknik menjadi satu tradisi kekinian yang menyebabkan pikiran dan batin nyaris setiap orang merasa terpanggil untuk melakukannya. Seolah bila tidak, ia termasuk golongan manusia tertinggal, dilaknat peradaban, dan hidup memalukan. Walhasil, jalanan jadi riuh.

Sudah pasti sumbangsih mobil-mobil low price menyempurnakan keadaan ruwet tersebut. Saya pernah mendengar langsung cerita seorang kawan yang mengatakan, hanya dengan uang muka lima juta, bekerja sama dengan sebuah perusahaan online, ia bisa mendapatkan sebuah unit mobil low price baru. Sungguh sebuah terobosan hidup yang menggairahkan; yaaa, hidup berlumur riba dan jadi perahan kapitalisme. Ambillah skema kepemilikan mobil tersebut, niscaya sampai kisut, jelek, kumal, dan bau pecel, Anda akan berjubel di keriuhan sesak jalanan demi mengejar angsuran.

Atas nama kelelahan yang gampang menyambang, belakangan ini saya memilih naik kereta atau pesawat saja bila bepergian ke luar kota. Enak, nyaman, praktis, singkat, dan bisa tidur berkepanjangan di perjalanan.

Memang, ini bukannya tanpa kelemahan. Setiba di kota tujuan, saya harus menjadi penumpang mobil sewaan atau jemputan atau pinjaman. Sebagai penumpang yang baik, tak eloklah menuntut jenis mobil begitu atau begitu. Mobil apa saja jadi deh.

Pengalaman menumpang pelbagai jenis mobil itu mengantarkan saya untuk menuai pelbagai kesan yang majemuk.

Avanza, misal. Inilah jenis mobil yang paling sering dapatkan. Simpel, cukupan, dan ya… nyaman—nyamannya Avanza tentu saja. Mobil ini tergolong ke dalam kelas mobil yang pas. Tepatnya lagi, pas-pasan. Dibawa ngebut bisa dan pas(ti) anjrut-anjrutan bila melindas jalan gundukan apalagi berlubang.

Situasinya akan makin menyulitkan tidur bila dapat sopir yang tahunya hanya ngebut dan ngerem. Bejek gas begitu saja, injak rem begitu saja. Tambahkan satu kondisi lagi: cara melepas kopling yang tak fasih. Sempurnalah Avanza memberikan pengalaman berkendara yang turun-turun dari kabin mendorong kepala untuk dikepak-kepakkan ke kanan kiri sejenak.

Baca juga:  Nasib Nahas Toyota Corolla Altis di Tangan Saya

Tetapi, ada lho ternyata jenis mobil yang lebih menakjubkan kesannya dibanding Avanza, yakni Grand Max.

Yaaa! Mobil yang bentuknya paling menyerupai kaleng bekas Khong Guan ini memiliki kemampuan yang tak kalah ciamiknya dibanding Avanza dalam hal ngebut. Jika pas dikemudikan oleh orang yang tahunya hanya cepat sampai, rasanya jeratan seat belt standar perlu ditambah tali rafia atau karet gelang yang dianyam panjang untuk menguatkan ikatan tubuh di jok. Dijamin, tak sekadar anrut-anjrutan, tapi maqam-nya sudah jauh di atas lagi: lompat-lompatan di dalam kabin. Begitu sampai di tujuan, bukan hanya kepala yang terpanggil untuk dikepak-kepakkan ke kanan kiri, tapi juga ransel. Ransel pun mengeluh puyeng!

Lalu kaum Agya. Mobil imut ini memiliki kemampuan melaju yang tak kalah ciamiknya dibanding Avanza. Bahkan plus lagi, yakni kemampuan bermanuver yang luar biasa. Maklum, mobil berbodi kecil. Di tangan pengemudi yang tahunya hanya banter, anugerah dua kemampuan itu menjanjikan pengalaman berkendara yang sulit Anda lupakan sampai kapan pun.

Maka, jika tiba di suatu tempat lalu saya mencari mobil sewa, semenjak memiliki pengalaman tersebut, saya menyempatkan diri bertanya, “Mobilnya apa, Pak/Bu?” Jika jawabannya adalah kaum Agya, saya memaksakan lidah untuk menambahkan kalimat, “Adakah mobil lainnya?”

Avanza memang bukanlah pilihan pertama jika memungkinkan bagi saya untuk mengajukan pilihan, tapi bukanlah yang terakhir. Pilihan pertama jelas Innova. Di mana pun, buat saya Innova masihlah idola. Tentunya tak usahlah dibandingkan dengan pilihan musykil dapat mobil sewa macam CR-V atau Accord. Lupakan itu. Innova adalah pilihan terbaik yang masih mungkin didapatkan, meski tergolong langka pula.

Saya acap merenung begini jika tengah ngendon di dalam kabin mobil yang saya tumpangi: kemajuan teknologi mobil hari ini dan sesaknya jalanan di semua wilayah semakin menipiskan jarak tempuh berbagai jenis mobil. Mau menumpang Innova, Avanza, Grand Max, atau Agya, durasi tempuhnya akan sama belaka. Sebab, semua mobil itu, walau kastanya sangat berbeda, telah dijejali mesin yang memiliki kemampuan lari relatif sama. Seimut-imutnya kaum Agya, ia takkan menyerah sedikit pun untuk memburu lesatan Avanza di keriuhan suatu kota. Ia sama saja dengan jenis lainnya: sama-sama menjanjikan kecepatan!

Baca juga:  Rencana Revitalisasi Angkot yang Menjadi Kabar Buruk bagi Pemilik Avanza

Namun, tentu saja perihal kenyamanan penumpang yang jelas berkaitan dengan part-part suatu mobil tak pernah bisa didustai. Mulai bobot mobil, sasis, hingga suspensi. Belum lagi fitur-fitur pelengkap lainnya, macam jenis jok dan luas kabin.

Pabrikan-pabrikan hari ini tampaknya sangat fokus untuk berlomba-lomba menghadiahkan pengalaman berkendara serbakilat. Bukan kenyamanan apalagi keamanan. Mesin-mesin responsif terkini disematkan kepada semua jenis kasta mobil tanpa pilih kasih. Pokoknya, semua harus bisa lari cepat!

Kenyamanan dan keamanan yang tak dijamin oleh pendukung yang responsif, yang pada pokoknya ada pada bobot bodi, tebal pelat, sasis, suspensi, dan sistem pengereman. Fitur-fitur penopang lain juga dinomorsekiankan. Pabrikan-pabrikan tampaknya menganut satu slogan kolektif kini: cepat, cepat, cepat. Soal nyaman itu relatif, bisa diperdebatkan tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan minum. Soal selamat, tawakallah pada Tuhan Yang Maha Esa.

Suatu hari, saya menyaksikan rombongan turis yang terkeler-keler di tepi jalan lantaran mobil Grand Max yang mereka carter mengalami kecelakaan. Itu bukanlah kecelakaan yang sangat hebat. Tapi, tampang mobil kaleng Khong Guan itu sedemikian remuknya. Anda bisa membayangkan kerupuk yang diremas sebagian sisinya, nah, begitulah wujud mobil itu.

Mau apa lagi? Namanya juga penumpang, penyewa, ya sudah, tawakal menjadi pilihan tatkala harus ngendon di dalam kabin mobil-mobil rempeyek begituan. Alhamdulillah, sampai sekarang saya baik-baik saja. Kiranya, fakta ini pulalah yang mendorong kita—pabrikan, pemilik, dan penyewa—tak pernah mempersoalkan status “setengah hidup, setengah modar” saat sedang duduk di dalam kabin mobil-mobil bekas kaleng Khong Guan itu.

Hidup dan matiku di tangan Allah, ini prinsip kita semua, bukan?

Komentar
Add Friend
No more articles