MOJOK.CONih ya, saya mau titip pesan sama Mbak kuntilanak di luar sana, kalau mau nakut-nakutin, jangan pas saya lagi mabuk.

Nanti effort Mbak malah terbuang sia-sia. Mbak malah buang waktu nakut-nakutin saya pas mabuk. Mending rakit PC, Mbak.

Jadi, waktu itu, saya dan teman-teman sudah janjian merayakan kelulusan. Tentu saja dengan mabuk. Kami janjian pukul sembilan malam di tempat biasa kami nongkrong.

Karena tempat nongkrong dekat dari rumah, saya memutuskan jalan kaki saja. Tempat nongkrong kami memang agak nyeleneh. Tempatnya berupa halaman depan rumah kosong milik tetangga yang sudah lama ditinggal merantau.

Sampai di sana, suasana masih sepi. Sialan, pada ngaret, batin saya. Sembari nunggu, saya duduk di sebuah dipan di depan rumah sambil menikmati sebatang rokok dan Ale-Ale rasa sirsak. Baru tiga isapan, saya dengar suara cowok nangis. 

Sialan. Udah suasana sepi, yang nangis cowok pula. Udah serem karena nongkrong di depan rumah kosong, eh yang mau nakut-nakutin hantu cowok pula. Begitu batin saya.

Takut, sih, enggak. Saya penasaran.

Saya cari-cari sumber suara cowok nangis itu. “Wah, ada kuntilanak cowok kali, ya,” batin saya sambil semakin penasaran. “Kira-kira kalau cowok rambutnya gimbal atau malah jadi afro.” Isi kepala saya malah makin liar.

Di samping kiri rumah kosong itu ada sebatang pohon mangga. Gede banget. Anehnya, nggak ada pohon lain di sekitarnya. Pohon introvert kali. Nggak mau ngumpul di taman apa ya. Nah, di bawah pohon itu saya melihat ada orang yang lagi duduk sambil ngerangkul dengkul.

“Itu kali kuntilanak cowok. Masak duduk begitu.” Sebetulnya saya nggak sadar berjalan mendekati bayangan itu. Kayaknya rasa penasaran yang gerakin kaki saya. Ketika makin dekat, suara tangisan itu makin lirih. Lalu pelan-pelan berubah jadi ketawa.

“Hahahahahahaha!”

Saya langsung bergerak menjauh. Bukan takut, tapi refleks karena kaget. Dasar kuntilanak cowok! Sukanya ngagetin. Ketika saya mendekat, eh dia malah terbang ke arah belakang rumah.

Kayaknya anggapan “Cowok itu semua sama. Bajingan semua. Sukanya bikin kecewa,” itu benar adanya. Kan saya belum sempat lihat kuntilanak cowok itu rambutnya gimbal atau afro. Ketika saya masih kesal, teman-teman mulai berdatangan. Mereka udah bawa camilan dan beberapa botol minuman.

Kami duduk melingkar dan acara sakral yang nggak bisa diganggu gugat pun mulai. Kami minum-minum sembari gibahin guru yang menyebalkan sampai temen-temen cantik. Saya sempat cerita soal kuntilanak cowok yang terbang ke belakang rumah. Namun, kayaknya udah pada agak mabuk. Nggak ada yang peduli. Ya saya ikutan cuek saja.

Kami melakukan kegiatan nggak bermanfaat itu lumayan lama. Beberapa temanku ada yang udah ambruk duluan. Sekitar pukul dua pagi, saya memutuskan untuk pulang dengan keadaan lumayan nggak sadar. Jalan kaki berasa terbang, dunia berputar.

Tiba di gang menuju rumah, di tikungan, dari kejauhan, saya lihat ada cewek. Karena mabuk, pikiran saya malah jadi “agak alim”. Malah nggak mikir yang jahat atau negatif. Eh, jahat sama negatif apa bedanya ya.

Ketika lihat cewek sendirian di sekitar pukul dua pagi, saya cuma heran saja. Ngapain nih cewek, jam dua pagi kelayapan. Masak dia anggota ronda RT sebelah yang tersesat ke kampung saya karena nggak pernah ikut ronda sebelumnya. Kan nggak mungkin. Ah, bodo amat, saya jalan biasa saja.

Ketika saya tinggal nyelonong, ehh si cewek ini malah nangis. Mabuk bikin saya jadi orang baik. Seketika saya langsung menghampirinya, mungkin butuh bantuan.

Dia berdiri di depan pagar yang ditumbuhi bunga-bunga, kepalanya menunduk, sesenggukan. Bajunya berwarna merah, kelihatan agak kusam. Lusuh. Rambutnya agak panjang, berantakan. Kayak cewek habis bangun tidur yang ngerasa dirinya terlihat natural, bersatu dengan alam.

“Mbak, kenapa? Jam segini kenapa di luar?”

“Hiks… hiks…,” tangisnya lirih.

“Kamu ada masalah? Kalau ada dan butuh bantuan, saya siap bantu, Mbak. Mau saya anterin ke mana?”

Di posisi ini saya mulai bingung karena dia cuma diem aja. Bayangin aja, ada cewek, jam dua pagi di luar rumah, dan menangis! Kalau orang sadar mungkin mikir dia kuntilanak. Tapi, saat itu, saya malah mikir ini anaknya siapa. Mau saya tinggal kok kasihan, mau saya bantu tapi dia cuma diem aja. Sariawan apa ya. 

Ada dua hal yang lalu terlintas di kepala saya yang lagi goyang karena mabuk. Pertama, lagi ada masalah berat, entah dengan keluarga atau kekasihnya. Kedua, gila. Wah, perlu telpon polisi. Lho, kok polisi. Ahh, entah. Namanya juga mabuk.

Setelah cukup lama hening berpikir sambil berdiri di depan cewek yang diem aja, kepala menunduk, sesenggukan, dan sesekali badannya goyang-goyang itu, saya kembali nawarin bantuan.

“Mbak, gini ya, kalau ada masalah tuh cerita. Jangan dipendem sendiri. Entar kamu self harm, lho. Kalau nggak nyaman cerita di sini, bisa cerita di rumahku itu samping warung.”

Wah, kayaknya aura buaya dalam diri saya tiba-tiba keluar.

“Hiks…”

Cuma gitu aja respons cewek ini. Saya lama-lama curiga. Ini enggak lagi nangis, tapi cegukan.

“Udah ya, Mbak. Pulang aja lah. Lagian ditanya jawabannya cuma haks hiks haks hiks aja.” Rasa simpati luntur.

Nggak ada pikiran macam-macam di kepala saya waktu itu. Nggak juga mikir kalau itu kuntilanak. Waktu balik badan dan jalan lagi, saya malah jadi bingung entar mau sarapan nasi uduk atau soto ayam. Pengaruh alkohol belum hilang.

Saya jalan santai. Namun, rasa-rasanya ada yang mengikuti dari belakang. Saya nengok ke belakang, ternyata cewek haks hiks itu lagi jalan sempoyongan.

Seketika saya menghampirinya lagi. “Kamu lagi mabuk juga ya?” Ehh, ditanya dia malah menjauh.

Saya sudah nggak peduli. Segera saya langkahkan kaki biar cepat sampai rumah. Namun, kejadian itu berulang lagi. Dia mengikutiku. Saya jalan, dia jalan. Saya berhenti, dia juga berhenti. Haduh, malah kayak opening adegan joget-joget di film India.

Cuma satu yang nggak dia ikuti, saya melihatnya, dia tetap menunduk. Oh, pegel kali pundaknya.

Sebenarnya, rumah saya sudah dekat, tapi entah kenapa terasa jauh. Langkah kaki seakan melambat dan berat. Tapi, ya namanya mabuk, jadinya cuek saja.

Beberapa meter dari pagar rumah, tiba-tiba ada suara memanggilku sambil tertawa,

“Mas, hihi… hiihii….”

Aku menengok. Ternyata itu suara si cewek tadi. Saya masih ingat, dia nggak lagi nunduk, tapi menatap saya sambil melotot. Wajahnya berlumuran darah. Senyumnya jelek banget. Giginya hitam.

Saya diam saja. Mematung. Saya nggak merasa takut, tapi cuma heran.

“Oh, ini kuntilanak, nih. Jadi cewek tadi tuh kuntilanak. Makanya ditanya kok diem aja. Nggak bisa bahasa manusia, ya.” Saya malah meracau. Nggak jelas.

Saya masih terdiam sambil keheranan. Ketika dia perlahan-lahan menghilang, saya masih mematung. Dia menghilang sambil meninggalkan tawa.

“Apa, sih, malah ketawa. Tadi haks hiks nangis, sekarang ngakak. Dasar kuntilanak nggak jelas.”

Setelah suara ketawa garing itu hilang, saya masuk rumah. Membaringkan diri di kasur dan tidur.

Menjelang pukul delapan pagi, saya terbangun mendadak. Kayak kaget. Keringat dingin membasahi punggung. Rasanya gerah banget. Baru saat itu kesadaran mulai datang. Saya ingat dini hari tadi ketemu kuntilanak.

Seketika itu juga, ketika jam di dinding pas di pukul delapan, suara tawa garing kuntilanak itu terdengar lagi. “Anjay, pagi-pagi dah mau nakut-nakutin. Rajin juga. Mungkin habis jogging sambi mampir makan bubur ayam. Hadeh, mending rakit PC ketimbang nakutin saya pas lagi mabuk gini. Entar, nunggu saya sadar.”

Setelah sok berani itu, saya sakit demam selama dua minggu penuh. Kata “orang pinter” ada kuntilanak yang marah sama saya.

Yah, siapa sih yang nggak sakit hati kalau dicuekin?

Baca juga:  Asem Londo, Si Asem yang Tidak Ada Asem-asemnya

BACA JUGA Kuntilanak yang Bisa Berzikir di Toilet Bioskop Bandung Itu Kayaknya Punya Grup WhatsApp dan tulisan lainya yang nggak serem amat di rubrik MALAM JUMAT.