Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Fanatik Buta atau Mendukung dengan Waras

Arman Dhani oleh Arman Dhani
2 Agustus 2015
A A
Fanatik Buta atau Mendukung dengan Waras

Fanatik Buta atau Mendukung dengan Waras

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Melihat perilaku Ahok, beberapa dari kita barangkali antipati. Atau mungkin, kita merasa berkaca—keberaniannya berkata apa adanya, tanpa filter dan kontrol, sebenarnya adalah cerminan keinginan kita untuk menjadi jujur. Namun permasalahannya, sejauh mana anda dan saya bisa menolelir perilaku Ahok?

Baru-baru ini, Ahok kembali membuka perdebatan dengan mempermalukan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jakarta yang dianggapnya tidak jujur. Di depan khalayak, Ahok mengatakan bahwa harga-gara alat tulis yang ada di Jakarta Book Fair itu dijual lebih mahal dari harga normal. Ahok marah, lantas menolak membuka pameran buku tersebut. Lebih dari itu, ia meminta warga Jakarta untuk tidak lagi datang ke acara itu.

Iklan

Beberapa orang memuji tindakan Ahok, menganggapnya sebagai pejabat yang peduli dengan warganya. Tapi bagi saya, Ahok tidak lebih daripada seseorang pemarah yang tidak bijak bersikap. Jika memang IKAPI melakukan kecurangan, semestinya ada cara yang lebih bijak untuk menyikapi hal itu. Kemarahan demi kemarahan yang dilakukan Ahok, saya kira minim esensi. Ia hanya memberi khalayak ramai Imaji tentang sikap tegas dari pemimpin, tapi implementasi lapangannya menyedihkan.

Mari kita hitung. Berapa kali Transjakarta terbakar? Siapa yang Ahok salahkan? Berapa kali ia mengumpat? Berapa kali ia mengucapkan “tai”? Berapa masalah yang selesai dari kemarahan itu? Lantas kita bandingkan dengan sikapnya terhadap polemik Teluk Jakarta. Apakah Ahok segalak itu terhadap para investor yang memiliki investasi dengan nilai triliunan rupiah?

Ahok mungkin tetap dan akan terus dipuji. Saya menolak menjadi penjilat, menjadi pendukung semestinya memberikan kita hak lebih untuk melakukan kritik. Menjadi pendukung membuat kita selayaknya bersikap dua kali lebih keras daripada pembenci. Jika Ahok terus dan terus-menerus dibela, dicarikan pembenaran setiap kali ia membuat kontroversi, maka apa bedanya kita dengan kelompok sapi yang memuja para pimpinannya?

Hal menarik yang baru-baru ini terjadi adalah bagaimana pendukung Ahok merespons kicauan lama dari Ikhsan Modjo.

Ikhsan pernah membuat peyorasi kata Ahok, dengan mencuit begini: “Selamat pagi. Mandi pagi tadi apakah sudah mengeluarkan Ahok semua?” Pendukung Ahok berang dan marah. Kini ketika Ikhsan maju menjadi calon walikota, para pendukung Ahok menyerang sosok pribadi Ikhsan sebagai seseorang yang rasis.

Kita terlalu sering terjebak pada fanatisme buta sehingga susah menanggalkan kebencian dan sikap kritis.

Menyerang pribadi Ikhsan seperti ia menyerang pribadi Ahok saya kira sama buruknya. Keduanya tidak membawa kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Tentu kita percaya bahwa kesalehan tidak diukur dari sekadar kata-kata. Sikap santun pun kerap menipu, berapa orang yang tiba-tiba menjadi relijius ketika diciduk KPK? Atau mungkin tiba-tiba menjadi sosok jujur dan amanah ketika sanak keluarganya tertangkap kasus korupsi? Moralitas itu nisbi sementara prestasi dapat diukur.

Membiarkan Ahok terus memaki tidak akan membuat ia jadi sosok yang baik. Ia hanya akan terus menjadi figur yang dicintai sosoknya ketimbang kerjanya. Akan celaka membandingkan sikap kasar Ahok dengan sikap tegas Ali Sadikin. Meski keduanya sama-sama keras, capaian dan fokus kerja keduanya berbeda satu sama lain.

Gejala pemujaan berlebih memang selalu ada pada masing-masing kelompok. Baik pendukung sepak bola maupun partai politik. Meski Pemilihan Presiden telah lewat berbulan lampau, pertikaian antar individu yang calonnya kalah dan calonnya menang masih ada. Residu dendam dan bara dalam sekam tanpa ada upaya rekonsiliasi menemukan anginnya sendiri pada tiap-tiap kebijakan yang dibuat rezim ini.

Ahok bukan malaikat yang tidak bisa membuat kesalahan. Memuja ia berlebihan tanpa bersikap adil dengan kritik yang proprosional hanya akan membuatnya terjerumus menjadi pribadi yang angkuh. Hal serupa juga semestinya diberikan kepada orang seperti Jonru, Hafidz Ary atau Felix Siauw yang saya percaya punya kebaikan. Saya gak tahu kebaikan apa yang mereka bawa, tapi saya percaya mereka adalah sosok yang memiliki perannya tersendiri untuk Indonesia.

Pada akhirnya, semua bersandar pada pilihan kita; menjadi pendukung buta atau menjadi pendukung yang waras. Ini ibarat menyadari bahwa mantan sudah bahagia bersama yang lain dan berharap balen sesungguhnya adalah kesia-siaan. Anda bisa setuju, bisa menolak, atau bahkan tetap kokoh berkata bahwa calon yang anda dukung adalah santo yang maksum, terlindung dari kesalahan.

Namun percayalah, tidak ada yang lebih absolut di jagat raya ini kecuali kebahagiaan mantan. Ciye serius amat baca tulisan ini.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2018 oleh

Tags: ahokIkhsan Mojokjakarta
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki MOJOK.CO

Jok motor Honda Verza tua itu sudah sobek, tangki penyok, spion patah diserempet truk, tapi menolak pensiun menemani saya 12 tahun mengejar rezeki menembus pegunungan Banjarnegara

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.