MOJOK.COMegawati seolah tak menyadari risiko ketika dengan entengnya mengizinkan Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution menjadi politisi.

Setiap orang tua selalu punya keinginan anaknya jadi suksesornya di masa depan. Jika orang tua adalah pengusaha, si anak diharapkan mampu meneruskan usahanya. Jika orang tua adalah kiai, si anak diharapkan mampu meneruskan keilmuan agama orang tuanya.

Hal yang tak jauh beda dengan keluarga-keluarga pejabat di negeri ini.

Kita mengenal Megawati sebagai putri Bung Karno, Tommy Soeharto sebagai putra Soeharto, Agus Harimurti Yudhoyono sebagai putra Susilo Bambang Yudhoyono, dan banyak lagi nama-nama putra dari orang hebat terdahulu yang coba mengikuti jejak orang tuanya.

Nama-nama itu bisa dideret panjang kalau kita memasukkan anak yang jadi suksesor orang tuanya dalam dunia politik. Pun yang dilakukan oleh Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution. Putra dan menantu Presiden Joko Widodo.

Sebelum kamu menuduh rangkaian ini adalah contoh-contoh dari politik dinasti, oke, oke, mari kita bahas dulu sejenak sebelum kamu hakimi.

Boleh jadi Presiden Jokowi tak pernah sekalipun mendesak putranya, Gibran Rakabuming Raka, dan menantunya, Bobby Nasution, untuk mengikuti jejak sebagai politisi dan berpeluang jadi pejabat tinggi. Namun ketika Gibran dan Bobby ingin mengikuti jejak bapak dan mertua, tentu saja kita tak bisa salahkan Jokowi jika ada perasaan bahagia yang terpendam.

Menjadi inspirasi bagi anak sendiri dan menantu, siapa sih yang bisa menolak kebanggaan itu?

Meski, boleh jadi juga Jokowi sempat merasa risih dengan risiko tudingan politik dinasti yang tentu bakal mengikuti kebanggaan tersebut.

Namun kita semua juga tahu, Gibran dan Bobby maju bukan dari partainya Jokowi sendiri. Jokowi toh statusnya cuma petugas partai, bukan pemilik partai. Kalau ketua partai mengizinkan dan mendorong putra dan menantunya maju Pilkada, Jokowi bisa apa?

Baca juga:  Dinasti Politik Bontang, Klaten, Banten: Keluarga yang Sama Silih Ganti Jadi Pejabat

Lagian, bakal semakin sulit lagi situasinya jika keinginan menjadi pejabat ini muncul dari putra dan menantunya sendiri. Sulit. Sebab tak ada orang tua di dunia ini yang bakal tega mengubur cita-cita anaknya sendiri.

Oleh karena itu, menghadapi celaan dan kritik tajam dari masyarakat soal rencana politik dinasti, Gibran dan Bobby tetap nekat bertekad maju. Gibran di Pilihan Wali Kota Solo, Bobby di Pilihan Wali Kota Medan.

Gibran dan Bobby bukannya diam saja menghadapi tudingan dinasti politik. Gibran pernah membantah soal ini dengan membawa persepsi bahwa warga Solo boleh untuk tidak memilihnya. Lagian, Gibran juga nggak langsung jadi Wali Kota Solo kok. Begitu argumentasinya.

Ada proses pemilihan, masa kampanye, sampai perhitungan suara. Masih ada lawan dari jalur independen lagi. Masih ada pertandingannya kok. Nggak langsung menang. Meski pertandingan di Pilkada Solo ini ibarat pertandingan Real Madrid versus Persiku Kudus.

Dari tanah Medan, Bobby pun cukup gerah dengan tudingan politik dinasti. “Saya rasa kami sebagai warga negara Indonesia juga berhak ikut (Pilkada) karena kami juga memiliki hak pilih dan hak dipilih. Jadi saya rasa itu suatu kewajaran bagi saya putra Kota Medan,” kata Bobby.

Padahal, kalau Bobby mau bilang… suatu kewajaran bagi saya putra mantu Bapak Jokowi… itu pun nggak apa-apa juga lho, Bob. Santai aja lagi, rakyat udah tahu sama tahu kok. Pengalaman bertahun-tahun diginiin soalnya.

Uniknya, kedua calon wali kota ini mendapat karpet merah dari ketua PDIP Megawati Soekarnoputri. Tak perlu ngikut aturan partai pada umumnya, semua begitu garcep mendesak calon-calon dari partai yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Pengabdian bertahun-tahun dari calon sebelumnya, lenyap karena ada calon kuat berbasis hubungan keluarga.

Dari hal itu, saya menjadi bertanya-tanya kemudian. Apakah Ibu Megawati tidak paham risiko-risiko yang bisa terjadi kalau memberi karpet merah pada keluarga “petugas partai” semacam ini? Mengingat Jokowi sendiri tak memiliki hak utuh untuk mengatur PDIP.

Baca juga:  Tiga Kemungkinan Politik untuk Agus Yudhoyono

Soalnya, seperti yang sudah saya sampaikan di awal, bahwa setiap orang tua selalu kepengin memiliki anak yang menjadi suksesor, sejatinya Megawati pun berharap banyak pada putrinya, Puan Maharani. Yang sudah jauh lebih senior jadi politisi ketimbang Gibran dan Bobby.

Jejak langkah Puan juga sudah terlihat dalam rentang waktu 6 tahun ke belakang. Jadi Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia yang sangat zuhud sampai tidak terlihat ngapa-ngapain, sampai jadi Ketua DPR RI yang… yah, masih seperti kariernya saat menjabat sebagai menko, terlihat belum ngerjain sesuatu yang signifikan.

Padahal saya berani yakin, harapan Megawati kepada Puan, jauh lebih tinggi ketimbang harapan Jokowi kepada Bobby dan Gibran.

Jokowi tak bakal kehilangan banyak kalau misalkan salah satu antara putra atau menantunya—atau dua-duanya—tak terpilih jadi wali kota, Jokowi masih bisa santai karena tak bertaruh apa-apa. Berbeda dengan Megawati yang terlihat sudah terlihat mempersiapkan segala macam previlige untuk Puan Maharani.

Uniknya, ketika nama Puan masih belum mengembang secara sempurna, cuma jadi nama populer di kalangan internal partai sendiri, Megawati dengan langkah berani mengorbitkan seseorang dari keluarga orang lain.

Langkah yang sangat-sangat berisiko.

Kalau Gibran dan Bobby nanti terpilih di Pilkada masing-masing, lantas semakin mengembang namanya tiga atau lima tahun lagi, nama Puan Maharani akan semakin tenggelam di bawah bayang-bayang keluarga besar Joko Widodo.

Dan akan melanjutkan jejak politik ibunya sendiri, “cuma” sebagai ibu suri. Atau mungkin bisa jauh lebih buruk lagi?

BACA JUGA Politik Dinasti Memang Menyebalkan, Namun Majunya Gibran Kadang Memang Diperlukan atau tulisan POJOKAN lainnya.