MOJOK.COSebelum kamu ngamuk-ngamuk sama Muhadjir Effendy, saya akan beri sedikit poin penjelasan kenapa pernyataan “besanan kaum miskin” ini sangat menarik.

Kemiskinan struktural.

Itu adalah target kritik yang sejatinya ingin disasar Muhadjri Effendy dengan kesadaran penuh lewat pernyataan; “Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru.”

Menurut Muhadjir, mata rantai kemiskinan akan terus bertambah selama keluarga miskin saling besanan dengan sesama keluarga miskin. Lingkaran kemiskinan itu akan berputar di sana dan sulit untuk keluar.

Sebuah ungkapan yang sangat mengejutkan bagi saya karena begitu dalam makna filosofisnya. Bahkan, saya pun sampai gemetaran menulis ulang pernyataan Pak Muhadjir tadi. Kayak mau nulis “enter” aja berat gitu. Sumpah, ini serius.

Sayangnya, pernyataan penuh arti Pak Muhadjir Effendy tersebut tak diterima publik dengan baik. Alih-alih dimasak dengan proper, pernyataan itu ditelan mentah-mentah. Ketimbang dianggap sebagai sebuah kelakar yang filosofis, pernyataan ini dianggap menghina—terutama bagi kaum miskin. Muhadjir pun lantas jadi target serangan kritik.

Kalau kamu masih ingat, Pak Menko sebenarnya sudah memulai perkara beginian sejak Februari 2020 silam. Kala itu dengan berkelakar (pula) Muhadjir mengusulkan fatwa orang kaya menikahi orang miskin. Sebuah usulan out of the box dari pejabat generasi boomer tapi punya cita rasa FTV.

Uniknya, sejak saat itu pula saya masih belum mengerti kenapa banyak orang yang tak terima dengan pernyataan ajaib dari Pak Menko Bidang Pembangunan Manusia ini. Sebab dari segi mana pun, pernyataan Muhadjir ini menunjukkan realitas secara gamblang bahwa kemiskinan yang terjadi selama ini memang bukan “terbentuk” melainkan “dibentuk”.

Oke, oke, sebelum kamu semuwa ngamuk-ngamuk karena saya belain Muhadjir Effendy, saya akan beri sedikit poin penjelasan kenapa pernyataan Muhadjir ini sangat menarik dan perlu telaah secara serius.

Hal yang pertama harus disadari, selama ini, stigma negatif dari kaum miskin itu sering muncul karena anggapan “akibat dari malas”.

Entah itu karena malas sekolah, malas belajar, malas cari kerja, atau malas ketika bekerja.

Baca juga:  Mengapresiasi PSI yang Akhirnya Sampai Level Konsisten Untuk Tidak Konsisten

Karena stigma kemalasan itu pula akhirnya keberadaan kaum miskin seringkali dianggap wajar. Sebuah sunnatullah. Mereka adalah kelompok yang gagal dalam kompetisi ekonomi.

“Ya wajar kalau mereka miskin, pasti waktu sekolah mereka bodoh. Makanya kehidupan mereka tidak berubah. Nggak pinter cari duit sih.”

Kira-kira begitu stigma negatifnya.

Makanya itu, kemiskinan sering jadi momok yang mujarab untuk memberitahu generasi anak muda agar rajin bersekolah, rajin baca buku, atau jadi anak baik-baik. Sekaligus, dari sisi sebaliknya, stigma ini pun berkolerasi secara terbalik terhadap orang-orang kaya.

“Ah, wajar kalau mereka kaya. Pasti waktu muda mereka sangat rajin belajar, jadi pintar, makanya mereka pinter cari duit.”

Begitu kira-kira.

Padahal aslinya?

Ya nggak begitu juga, Marwoto. Nggak sesimpel itu.

Kemiskinan tidak berkorelasi dengan kebodohan, berikut juga dengan kekayaan yang tidak berkorelasi dengan kepintaran. Satu-satunya hubungan sebab-akibat kenapa bisa lahir jurang antara kaum kaya dengan kaum miskin adalah ini: AKSES.

Baik akses soal pendidikan, akses lingkungan, akses ekonomi, akses politik, sampai dengan akses dalam mencari besan. Dan akses ini merupakan perkara krusial yang menjadi masalah kenapa orang miskin berpeluang besar tetap selalu miskin.

Hal yang barangkali terselip secara tersirat dalam pernyataan ajaib Pak Muhadjir tadi. Bahwa yang blio sasar sebenarnya bukan pada poin “orang miskin”-nya, melainkan soal minimnya akses bagi kaum miskin untuk mengubah kehidupannya. Sampai-sampai untuk cari besan pun bisanya dapat yang sesama orang miskin.

Sebaliknya, akses ini juga sering dijaga rapat-rapat oleh orang-orang kaya agar previlege itu bisa terus memenuhi kerakusan kebutuhan secara berkelanjutan di lingkungan orang kaya sendiri. Kerabat sendiri, keluarga sendiri, atau besanan-besanan sendiri.

Dalam perspektif lebih luas, akses ini juga dijaga lewat cara-cara yang lebih legal. Seperti, orang-orang kaya coba masuk ke sistem pemerintahan (sudah terjadi sebenarnya), bikin aturan-aturan yang mengutungkan mereka melalui undang-undang resmi.

Yaaah, semata-mata demi dua hal: 1) Agar jumlah kompetitor yang makin banyak dari kaum miskin tidak punya peluang untuk bertambah; 2) Kekayaan mereka bisa terus langgeng sampai tujuh turunan.

Baca juga:  Inkonsistensi Jokowi: Larang Adik Ipar, Namun Biarkan Anak dan Menantu Terjun di Pilkada

Atau kalau mau pakai bahasa keren yang lebih kekinian kita mengenal istilah ini: OLIGARKI.

Oke, oke, saya tahu kamu gatel ingin komentar kalau ada kok orang yang lahir dari keluarga miskin lalu karena kerja keras akhirnya bisa mengubah nasibnya jadi orang kaya. Dari kisah si anak singkong atau penulis novel dari Belitung Timur, misalnya.

Sekarang saya coba tanya balik, ada berapa orang yang beruntung bisa seperti itu? Ada berapa banyak orang miskin bekerja keras pada masa mudanya lalu memetik hasilnya sebagai orang kaya? Hm, tidak banyak, Bung.

Ibarat perbandingan antara pengusaha MLM yang dapat mobil Jaguar dengan pengusaha MLM yang bongko sampai stres karena rugi. Jauh lebih banyak yang gagal, Bung. Lebih banyak kisah orang miskin rajin, pintar, dan berpestasi ketika sekolah tapi tetap tidak bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Lagi-lagi, karena kalah perkara akses.

Ranking 1 di sekolah, juara lomba cerdas cermat sekecamatan, tapi karena tidak punya duit untuk kuliah dan nggak ngerti caranya dapat beasiswa akhirnya berakhir jadi penjual mie ayam. Atau, sudah ngerti caranya dapat beasiswa, tapi kejegal karena saingannya lebih punya akses ke penyalur beasiswa. Tutup buku deh mimpinya.

Oleh sebab itu, ketimbang mengejek atau nyinyirin pernyataan Muhadjir Effendy, saya malah ingin kasih standing applause ke blio. Pernyataan “besanan keluarga miskin” itu lebih mirip ironi yang disampaikan dengan nada satire dan penuh aroma dark komedi.

Dari sisi sebaliknya, pernyataan Muhadjir itu bisa dipahami sebagai tamparan, bahwa betapa banyak pejabat kita yang menjaga lingkaran kekuasaan dan kekayaan sehingga bikin orang miskin semakin minim punya peluang. Menutup akses itu semua hanya demi keuntungan keluarga sendiri atau anak sendiri.

Nggak percaya? Coba deh tanyakan hal itu sama Gibran.

BACA JUGA Apa Usulan Muhadjir Effendy Soal Pernikahan Lintas Kelas Ekonomi Terinspirasi dari FTV? atau tulisan soal KEMISKINAN lainnya.