• 4.1K
    Shares

MOJOK.CO – Ingat ya, sedekah laut itu nggak ada ajarannya dalam agama Islam. Itu murni syirik. Seharusnya umat muslim se-Indonesia mendukung kami. Karena cuma pandangan kami yang paling benar.

Dasar orang-orang jahiliyah Indonesia, bukannya bersyukur sudah diingatkan dengan parang dan kekerasan soal kemusyrikan dari tradisi sedekah laut, eh malah bawa-bawa hak asasi manusia—bikinan wahyudi dan kafir—dalam menjalankan kepercayaannya.

Baru-baru ini netizen dan sebagian masyarakat Indonesia negara khilafah wanna be ini marah-marah karena ada aksi pelurusan akidah sebagai upaya agar negeri ini tidak semakin rusak oleh rezim kecebong kali ini. Semua dimulai di Bantul, Yogyakarta, ketika beberapa beberapa orang dengan gagah berani berada di jalan jihad ingin menghilangkan kemusyrikan di negeri ini dengan membubarkan acara sedekah laut.

Eh, bukannya aksi pelurusan akidah ini dipuji, semua orang malah beramai-ramai meradang mengatakan tindakan kami ini semena-mena dan tidak mencerminkan Islam yang rahmatalilalamin. Maaf ni ya, rahmatilalamin itu hanya berlaku untuk golongan kami saja, buat para munafik-munafik seperti kalian hal itu nggak berlaku.

Astagfirullah, sedekah laut itu haram ya, Akhi! Berapa kali sih kami harus sadarkan itu ke kepala kalian yang kebanyakan banyak baca buku-buku kafir itu? Aktivitas yang dibungkus dengan narasi tradisi ini sudah bikin masyarakat kita jadi menyembah lautan. Musyrik banget itu. Dan tidak ada dosa yang lebih hina dari dosa musyrik karena tidak bakal diampuni Allah.

Daripada melakukan tindakan syirik kayak begitu, sudah deh lebih baik kalian semua korupsi, kolusi, nepotisme, nyolong, pukulin orang, bubarin acara bidah-bidah. Yakin deh, itu mah nggak apa-apa, yang kayak gitu nggak perlu kami pentung karena itu adalah golongan kami yang rindu akan kemurnian agama.

Sedangkan sedekah laut yang jadi tradisi dan budaya di Indonesia itu benar-benar menyakiti kami yang ingin Indonesia berislam seperti halnya yang ada di gurun pasir sana. Aktivitas yang kalian lakukan itu sama sekali nggak ada dalilnya. Mana ada riwayat Nabi sampai melarung sesajen ke tengah lautan? Lah wong jelas kota Mekah dan Yastrib itu ada di tengah-tengah daratan yang nggak ada pantai-pantainya.

Baca juga:  Catatan Perjalanan Naik Bus Sugeng Rahayu dari Bandung Menuju Yogyakarta

Nah, kalau dalil melarang lalu membubarkan kasar orang lain menjalankan budaya dan tradisinya kan jelas ada… misalnya, eh, sebentar, saya googling dulu. Duh, di mana ya? Wah, pokoknya itu pasti ada dalilnya. Hakulyakin deh kalau itu ada. Kamu juga harus percaya kalau itu ada, kalau nggak berarti kamu kaum munafik yang otomatis jadi jodoh sama pentungan kami.

Lalu kalian mendebat kami bahwa Nabi Muhammad selalu menggunakan cara-cara santun dalam menjalankan dakwahnya, sedangkan kami tidak. Haduh, dasar nggak pernah ikut kajian-kajian agama di Facebook, Twitter, atau Tinder ini orang. Kami ini kan bukan Nabi, mana boleh kami dibebani untuk berlaku sama seperti Nabi, sabar seperti Nabi, berbaik hati seperti Nabi? Kami kan cuma manusia biasa.

Kami kan cuma umat yang mampu berlaku dengan otot tanpa perlu berpikir, karena berpikir itu bisa mereduksi keimanan kami, jadi kami lebih memilih untuk bertindak ketimbang berpikir. Kalau dibilang kami tidak mengamalkan ayat pertama yang turun, ya nggak apa-apa dong, suka-suka kami. Yang penting kan bisa teriak takbir dan bikin takut orang lain. Itu.

Meskipun katanya perbedaan keyakinan itu sunnatullah, ya bukan urusan kami. Nggak ada yang boleh berbeda dengan kami dalam melihat Islam. Karena itu lebih memuaskan hasrat kami untuk menjadikan kami sebagai golongan yang paling benar di antara kalian semua yang penuh dosa dan kesalahan. Kami ini suci, kalian semua penuh dosa. Faham ente?

Kalian nggak boleh menjalankan peribadatan yang bisa menganggu kami. Seperti sedekah laut itu, aduh itu benar-benar tindakan yang merusak akidah. Kalau akidah kalian rusak sih tidak apa-apa, tapi bagaimana kalau gara-gara kalian bikin sedekah laut seperti itu, terus akidah kami yang jadi rusak?

Ya itu kan jadi tanda bahwa potensi rusaknya akidah kami adalah kesalahan kalian semua, ya kan? Terus kalau akidah kami sudah rusak begitu karena kalian bikin kegiatan begitu, kalian mau tanggung jawab? Hayo, jawab? Mau nggak?

Enak saja sudah bikin akidah kami rusak, terus kalian malah bisa beribadah dengan tenang dengan mengingat Sang Pemilik Alam Semesta dengan beragam medium serba bidah itu. Enak saja kalian masuk surga sedangkan kami masuk neraka. Ya nggak begitu cara mainnya, Fir. Kalau mau neraka, ya ayo bareng-bareng, tapi kalau surga ya biar kami saja, kalian nggak usah. Ntar kepenuhan.

Baca juga:  Sudahkah Kita Bersikap Adil Sebagai Makhluk Penafsir?

Kalau kami dianggap mengganggu kalian, ya kalian berarti termasuk golongan kafir karena menyerupai kaum pagan animisme dinamisme. Sudah sepantasnya kalian menerima gangguan itu, itu sudah takdir. Sebab kami ini yang punya kunci surga, kami ini ahli-ahli surga, Islam kami ini murni, tidak sama dengan Islam kalian yang sudah terkontaminasi dengan budaya-budaya syirik tanah air.

Islam itu nggak boleh berdekat-dekatan dengan budaya. Karena Islam yang murni itu datang dalam keadaan sempurna tanpa perlu ditambah-tambahi. Coba deh, lihat bagaimana kami mempraktikkan menjauhkan agama dari kebudayaan.

Apa yang kami kenakan itu nggak ada yang budaya. Pakaian yang kami kenakan ini semua turun dari Pemilik Alam Semesta. Sandal yang kami pakai ini bukan produk budaya, karena langsung datang dari langit, sempak kami juga dari surga bukan dari Indomaret, baju kami juga tidak dibikin oleh orang-orang munafik seperti kalian, kami makan nasi juga ditanam langsung oleh malaikat. Bukan orang-orang penganut kemusyrikan seperti kalian. Semuanya ada bukan dari budaya, tidak seperti kalian.

Bahkan salat kami dan bacaan kitab suci kami sama persis dengan kanjeng Nabi. Kami tidak pernah baca Al-Quran, karena di zaman Nabi kan Al-Quran memang tidak dibaca—tapi dihapalkan.

Ya kami sih memang tidak hapal juga, tapi kan kami berupaya menjauhi segala macam bidah—hal-hal yang tidak dilakukan Nabi.

Kalaupun ada yang baca Al-Quran, kami baca Al-Quran tanpa harakat dan tanda titik pada tulisan-tulisan arabnya. Apakah kami bisa membaca Al-Quran dengan tulisan arab gundul seperti itu? Ah, biarlah itu jadi rahasia kami saja, kalian nggak perlu tahu kalau kami nggak pernah ngaji dan mengkaji.

Sudah ah, ngomongin kalian untuk kembali murni memang susah. Lebih baik kami segera mulai kajian agama di fans page Facebook kami dulu ketimbang meladeni kalian.

Takbir!