• 101
    Shares

MOJOK.CO – Golongan yang disebut moderat atau konservatif itu cuma perspektif. Yang hijrah, pendukung khilafah, dan yang ngaku Islam kaffah juga. Penilaian bisa berbeda tergantung lokasi, waktu, atau kebudayaan yang mengitari pelabelan tersebut.

Liberal atau radikal, konservatif atau moderat, itu semua cuma masalah perspektif—enggak lebih. Misalnya pakai kasus di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sempat digebuk Perppu Presiden adalah bagian yang susah dijauhkan dari pemaknaan radikal. Beda kalau misalnya keberadaan mereka ditempatkan di Suriah—misalnya—dan kumpul bareng bersama ISIS. Wah, HTI yang radikal di sini, bisa dianggap moderat mungkin malahan di sana.

Pun dengan Hadratussyaikh Mbah Kiai Hasyim Asy’ari. Sebagai mbahurekso Nahdlatul Ulama, wejangan dan nasihat Mbah Hasyim ya sebagian besar relevan untuk dipakai pada jaman itu, pada keadaan Hindia Belanda, atau pada situasi perang kemerdekaan kala itu.

Kalau dipaksakan diaplikasikan pada periode sekarang bakalan runyam masalahnya. Ya jelas dong, Mbah Hasyim bisa masuk kategori radikal karena menyerukan perang melawan pemerintah (baca: Kolonial Belanda). Bahkan termasuk yang mendukung fatwa bahwa perang melawan Belanda adalah jihad fi sabilillah. Kalau dimasukkan pada era dan situasi sekarang maka namanya bakalan jadi politisasi agama. Ngajak orang buat berontak menggunakan tafsir agama. Nah lho.

Konservatif atau moderat dalam pemahaman agama itu bukan cuma soal pemikiran yang muncul dari yang bersangkutan saja. Bukan cuma soal perbedaan tafsir antar pemuka agama, tapi juga mengenai latar keadaan, juga cara melihat keadaan di sekitar itu bagaimana. Baik itu keadaan yang berdasarkan latar waktu seperti contoh Mbah Hasyim, latar tempat seperti HTI, maupun bisa juga karena latar kebudayaan dan kebahasaan.

Seperti kata ulama yang berasal dari kata ‘alim misalnya, yang makna sebenarnya adalah orang pintar atau orang berilmu atau orang yang punya akses pengetahuan lebih dibanding orang-orang di sekitarnya. Sehingga yang bersangkutan jadi rujukan untuk menyelesaikan masalah. Itu pemaknaan lumrah dari budaya di mana sumber kata tersebut muncul.

Jadi siapa saja orang pintar bisa masuk ketegori ulama kalau kita ikut tafsir dari kebudayaan di mana bahasa itu muncul. Baik itu Prof. Quraish Shihab, Gus Mus, sampai Mark Zuckerberg, Bill Gates, bahkan sosok seperti Ki Joko Bodo sekalipun, ya mereka bisa saja masuk menjadi kategori ulama melalui pemaknaan ini.

Di sisi lain, karena teks tak bisa lepas dari konteks, maka pemaknaan kata ulama dalam bahasa Indonesia pun tidak sepenuhnya salah juga maknanya. Bahkan dari kata dasarnya ulama saja, “alim” beda pula maknanya dari yang Arab ke Indonesia. Yang di sana ‘alim maksudnya orang berilmu yang di sini alim ya orang yang rajin ibadah.

Baca juga:  Ngobrol Bareng Kiai Yahya Cholil Staquf Sepulang dari Israel

Ya karena di Indonesia, orang pintar berilmu pada zaman dulu adalah orang yang juga taat beribadah dan rajin sembahyang. Jadi, ya wajar kalau tafsir alim jadi sedikit bergeser. Meski titik poinnya sama-sama sematan untuk menghormati.

Perbedaan atau perubahan ini seharusnya juga bisa untuk membaca bagaimana munculnya sekelompok orang yang butuh untuk berhijrah, butuh hijab syar’i, butuh kajian-kajian instan soal agama, butuh ustaz-ustaz youtube. Orang-orang yang enggak butuh ngaji kitab kuning, enggak butuh belajar ngaji ala sorogan, nggak butuh ta’lim muta’alim, lelaku menghormati guru dan orang-orang berilmu…

Sebab perbedaan ini ranahnya tidak bisa disederhanakan hanya pada sekadar perbedaan tafsir lagi, tapi sudah mengenai kacamata yang melatari tafsir tersebut. Itu yang nanti diperam sampai akhirnya jadi ideologi yang susah untuk diubah.

Saya akan kasih contoh biar ini mudah dimengerti.

Bagi pejuang khilafah, mereka melihat latar konteks tafsir akan kebutuhan umat Islam dalam mendirikan khilafah karena merasa umat Islam—di Indonesia khususnya—terancam. Merasa bahwa umat Islam tercerai-berai di seluruh dunia dan meyakini betul bahwa ada agenda dari kaum non-muslim yang ingin memunahkan mereka dari muka bumi.

Pada akhirnya, yang muncul adalah semangat survival, bertahan hidup, yang diimplementasikan caranya dengan mendirikan khilafah. Melihat solusi final untuk mengatasi persoalan di muka bumi ini dengan khilafah. Ya karena merasa di sekitar mereka isinya adalah ancaman semua dan itu terlihat nyata bagi mereka, maka kemudian khilafah dipandang sebagai satu-satunya jalan yang masuk akal. Misalnya, ada gereja dibangun di suatu kampung saja merasa itu adalah ancaman nyata untuk umat Islam atau mengucapkan selamat natal sebagai bagian dari mencederai akidah.

Beda dengan muslim yang setel kendo. Seperti jamaah Nahdliyin misalnya. Melihat latar konteks saja jamaah ini pakai kredo; “Al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah,” memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Kredo ini merupakan representasi kebanyakan masyarakat Nahdliyin. Memandang sekitaran ini ya damai-damai saja. Tidak ada masalah apa-apa. Melihat daerah sekitar bukan sebagai ancaman, semua orang adalah kawan. Ada gereja baru dibangun di samping masjid tetep selo, santai, malah gembira karena dapet teman beda agama, beda perspektif, lumayan bisa diajak ngopi-ngopi.

Baca juga:  Kenapa Sensi dengan Mereka yang Hijrah?

Jadi, perbedaan semacam itu kadang bukan serta-merta lahir karena yang satu lebih jago dalam soal pemahaman agama dan satunya enggak. Ya melainkan pandangan melihat keadaan saja yang benar-benar berbeda. Bagi yang melihat sekitar adalah ancaman untuk agama, bisa jadi karena lahir dari latar lingkungan yang seperti itu, yang sedari kecil terkungkung pada ketakutan dan terbiasa bersitegang dengan perbedaan.

Yang kelihatannya moderat, ya beruntung saja yang bersangkutan lahir dari keluarga pesantren. Punya latar pemahaman Islam sebagai rahmah, bukan sebagai benteng untuk bertahan hidup. Wajar kalau hidupnya kelihatan jadi damai, santai, enak, adem.

Hal ini juga bisa jadi catatan bahwa jangan kemudian serta-merta menjustifikasi bahwa yang ikut jamaah hijrah itu pasti orang-orang yang enggak mendalami agama, yang kagetan, orang-orang yang terlalu terpukau sama teks-teks arab, atau anak kemarin sore. Oh, enggak bisa begitu juga myluv.

Mereka ini sebenarnya tulus juga lho dalam membela agamanya, apa yang diyakininya—tentu karena saya tidak memasukkan dengan “cara”-nya lho ya? Soalnya kalau sudah sampai pada tahap cara—misalnya—sampai memaksa, mau itu radikal atau moderat, ya sama-sama fasis aja jatuhnya. Poinnya, hanya karena ada yang punya latar pandangan berbeda soal situasi dan keadaan sekarang, bukan berarti mereka jadi salah dan kita otomatis jadi benar. Itu saja.

Hal ini semakin kelihatan belakangan ini. Semakin tampak pada perdebatan kita sehari-hari. Kita jadi hampir selalu terlalu asyik menyasar pada klaim-klaim kebenaran di pucuk gunung es-nya saja. Tidak menghujam langsung ke akar permasalahan.

Kalau cuma mendiskusikan soal beda tafsir agama sih boleh-boleh saja. Sebagai upaya menambah khasanah keilmuan tentu sangat disarankan malah. Tapi berharap bahwa perdebatan ini akan mampu mengubah cara pikir orang, saya pikir hal itu adalah upaya yang utopis. Sia-sia belaka.

Sebab pilihan ideologis seseorang dalam memilih apa yang dianggapnya benar, bukan sekadar dari banyak atau sedikitnya bacaan, tapi juga dipengaruhi dari latar belakang kehidupan yang bersangkutan dalam membentuk cara pandangnya sebagai seorang muslim.

Dan hal itu, benar-benar tidak bisa dilekatkan begitu saja dengan pelabelan benar-salah atau munafik-kaffah.

  • 101
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles