MOJOK.COSelain pemerintah yang longgarkan kredit UMKM karena efek social distancing dari pandemi corona, kita pun bisa ikut serta membantu dengan cara sederhana.

Sepanjang social distancing yang dilakukan secara mandiri oleh kita semua, salah satu ketakutan terbesar yang kita pahami bersama adalah dampaknya secara ekonomi. Yah, kita semua tahu, kalau sampai perputaran uang macet, ekonomi negara berisiko ambyar.

Tak perlu melihat perbandingan akar tukar rupiah dengan dolar yang sampai tembus di atas Rp16.000 untuk melihat betapa lesunya ekonomi kita hari ini, namun cukup melihat UMKM di jalanan dekat rumah kita aja.

Sepanjang Jalan Kaliurang di Jogja saja, cukup sering saya melihat UMKM seperti lapak martabak atau roti bakar harus tutup sementara karena saking sepinya pembeli.

Bahkan saya pernah melihat juragan warung susu segar di bilangan Jalan Kaliurang, sampai membiarkan karyawannya main gaple di depan warung saking tak ada orang yang mampir. Ini belum dengan kisah para pedagang di Pasar Beringharjo yang sempet-sempetnya main bola di pasar, karena lengangnya.

Oke, saya tahu, ada ironi di atas ironi atas pilihan social distancing yang terjadi belakangan ini. Banyak sekali bisnis kecil di jalanan yang terancam.

Hal ini semakin bikin pusing ketika pemerintah menetapkan status siaga darurat COVID-19 sampai tanggal 29 Mei 2020. Beberapa hari jelang lebaran. Artinya, persiapan untuk mengumpulkan THR jadi mustahil belaka. Jangankan mikirin THR, mikirin bisa hidup sampai setelah Mei 2020 aja masih banyak tanda tanya.

Tentu keputusan status siaga darurat COVID-19 itu tidak salah sama sekali. Itu jalan terakhir. Pilihan pahit yang harus dilakukan. Ekonomi bisa dibangkitkan, tapi ribuan nyawa yang berisiko melayang tak bakal bisa dihidupkan kembali.

Baca juga:  Prabowo Presiden De Facto Itu Benar, Kok Kalian Jahilin Sih

Seperti yang kita sama-sama tahu, UMKM macam gini tutup sementara rata-rata karena tak kuat harus menanggung biaya modal operasional harian. Sekarang bayangkan jika kamu dagang martabak, ada modal untuk beli bahan martabak, sekaligus ada modal (yang kadung dikeluarkan) untuk sewa tempat dan tagihan cicilan modal usaha di bank.

Masalahnya adalah, sepi atau ramainya pengunjung, sewa tempat dan cicilan bersifat tetap. Beda dengan modal bahan baku yang cenderung lebih bisa disesuaikan.

Pada akhirnya, ketimbang modal bahan baku abis begitu saja karena tak dibeli pelanggan, modal ini pun disimpan untuk tanggungan sewa tempat atau bayar cicilan lainnya (bayar utang tagihan bank untuk modal usaha UMKM ini misalnya).

Untungnya, ada hal yang lumayan menyegarkan dari pemerintah kali ini. Demi mengantisipasi risiko makin ambyarnya ekonomi gara-gara orang tak berani belanja keluar karena isu corona, Presiden Jokowi memberi langkah migitasi dampak ekonomi bagi pelaku usaha.

“Keluhan yang saya dengar juga dari tukang ojek, sopir taksi yang sedang memiliki kredit motor atau mobil, atau nelayan yang sedang memiliki kredit, saya kira sampaikan ke mereka tidak perlu khawatir karena pembayaran bunga atau angsuran diberikan kelonggaran selama 1 tahun,” kata Jokowi.

Kelonggaran ini pun juga berlaku juga untuk para kelompok UMKM. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rencananya akan memberi kelonggaran relaksasi kredit UMKM untuk nilai kredit di bawah Rp10 miliar. Hal ini ditambah dengan penundaan cicilan selama 1 tahun serta penurunan suku bunga pinjaman bagi masyarakat.

Baca juga:  Mahfud MD Memang Benar, Pelanggaran HAM di Era Jokowi Nggak Ada Sama Sekali

Artinya, meski para pelaku UMKM masih pusing karena sepinya pembeli dan transaksi ekonomi yang lesu, ada satu beban yang diperingan oleh pemerintah.

Keringanan ini mungkin tidak langsung menjawab persoalan sebenarnya. Mau bagaimanapun, jika benar sampai akhir Mei 2020 nanti kita semua harus social distancing secara mandiri, akan cukup banyak pelaku usaha yang kembang kempis meneruskan usahanya.

Oleh karena itu, di saat yang bersamaan nanti, pemerintah berencana akan memberi kartu sembako kepada keluarga miskin. Mereka ini nanti berhak menerima Rp200 ribu per keluarga. Paling tidak, dengan hal ini, keluarga miskin tetap bisa memutar ekonomi negara di akar rumput. Tetap mau belanja, sehingga UMKM tetap ada pembelinya—meski ya nggak sama seperti situasi normal.

Itu lah yang kemudian membuat perang melawan corona ini harus dikejarkan dari segala lini. Soalnya, bisa saja kita semua selamat dari corona, tapi efek ekonomi yang buruk setelahnya bikin periuk nasi kita tak ada isinya.

Jika pemerintah punya cara seperti itu, kita sebagai masyarakat kelas menengah ini pun bisa melakukannya. Seperti yang dilakukan Gus Ulil Abshar Abdalla lewat status Facebook-nya berikut ini.

Langkah ini, selain membantu driver­ ojek online, juga bisa membantu pelaku UMKM. Jadi, ketika kondisi sepi begitu, mereka tetap ada yang beli. Sebuah langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, untuk bikin kita bisa sama-sama kuat melawan corona dan efek seram lanjutannya.

BACA JUGA Penjelasan Sederhana Kenapa COVID-19 Sukses Menyerbu Cina atau tulisan rubrik POJOKAN lainnya.