Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Tanda Kenapa Amien Rais Waspadai Potensi Kecurangan Pilpres 2019

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
2 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Amien Rais memberi ultimatum, kalau nanti menurutnya ada kecurangan dalam Pilpres 2019, jangan salahkan kubunya kalau ada perang politik lanjutan.

Amien Rais memang selalu luar biasa. Demi bangsa dan negara yang lebih baik, politisi senior PAN ini menyampaikan kalau bakalan ada “perang politik” jika Pilpres 2019 berjalan tanpa transparansi dan penuh kecurangan.

Iklan

“Kalau sampai terbukti nanti ada kecurangan yang sistematik, kemudian masif, terukur, maka jangan pernah menyalahkan kalau kita akan melakukan aksi-aksi politik, bukan perang total ala Moeldoko, bukan, tapi kita perang politik,” kata Amien Rais.

Kekhawatiran ini memang ada benarnya juga. Ya namanya sebagai negarawan yang dicintai banyak rakyat, tentu Amien Rais ingin memastikan bahwa jalannya Pilpres 2019 harus bikin Jokowi kalah sesuai koridor.

Masih lekat dalam ingatan bagaimana tuduhan Pilpres curang sudah muncul sejak 2014 silam. Kala itu padahal sudah jelas-jelas Prabowo kayaknya bakal menang. Mana udah sujud syukur pula ya kan waktu diumumkan hasil quick count waktu itu?

Bahkan saat itu muncul istilah terstruktur, sistematis, dan masif untuk menggambarkan tuduhan kecurangan hasil pilpres kala itu. Bersilit-silit, eh, berjilid-jilid bukti pun sudah diajukan ke Mahkamah Konstitusi, tapi ternyata hasilnya nihil. Pemerintahan Indonesia pun jatuh ke tangan Jokowi.

Sebagai politisi senior, Amien Rais tentu tidak ingin Pilpres 2019 kali ini akan berjalan seperti pilpres lima tahun silam. Harus ada perubahan yang revolusioner. Dan perubahan itu tak bisa tidak harus berlandaskan pada tagar #2019GantiPresiden.

Sebenarnya, tanda-tanda Pilpres 2019 nanti berjalan curang bisa dengan mudah ditandai. Bahkan dengan mata telanjang, hati nurani, plus akal sehat Rocky Gerung. Cuma hal kayak beginian ya nggak mungkin bisa dipahami oleh cebong dengan IQ 200 sebaskom.

Nah, berikut ini beberapa tanda-tanda kecurangan yang sudah mulai tampak, Fellas.

1. Elektabilitas Jokowi lebih tinggi dari Prabowo

Mengingat janji-janji Jokowi yang nggak bisa dipenuhi semuanya selama 5 tahun masa kepemimpinannya, rasanya sangat mustahil sekali jika pemberitaan media menyebut Jokowi punya elektabilitas yang lebih tinggi dibandingkan Prabowo. Hm, mncrgknskl.

Padahal jelas lho, kebutuhan pokok jadi sulit dibeli belakangan ini. Buktinya, rakyat Indonesia saat ini jadi lebih suka pesan GoFood ketimbang ke pasar tradisional. Rakyat jadi lebih suka yang instan-instan gitu, nggak lagi suka masak, tapi cuma main tunyuk-tunyuk di layar hape. Ini tanda kebutuhan pokok jadi dikit yang beli.

Selain itu utang Indonesia juga makin banyak. Meski kemampuan membayar utangnya jauh lebih tinggi ketimbang periode presiden sebelum-sebelumnya, tapi kan yang penting utangnya dulu yang diitung.

Kalau ditanya balik, memang ada kah negara yang tidak menambah utang? Amerika, Cina, atau Inggris yang negara superpower aja juga selalu punya tambahan utang kok?

Lah, kenapa pula pakai patokan negara superpower? Kan Indonesia ini negara yang relijiyes. Tambah utang itu kan artinya menambah beban riba. Padahal jelas-jelas riba itu dilarang dalam agama. Ini kan jadi kedobel-dobel. Tambah utang iya, tambah haram iya. Hedeh, jahanam waiting for you, broder.

Iklan

Naiknya elektabilitas Jokowi di berbagai lembaga survei ini juga tak masuk akal. Apalagi dengan keadaan yang makin tidak tenang ini. Demo di mana-mana, kriminal di-ulama-kan di mana-mana, sampai jalan tol yang dibangun tapi mahal, semuanya itu harusnya bikin elektabilitas petahana nyungsep.

Hayajelas hal beginian bikin Lord Amien Rais jadi tambah waswas dong.

2. Kampanye kubu Prabowo sering dimasalahkan

Tidak hanya sekali dua kali kampanye oposisi dimasalahkan. Hampir setiap kampanye dari Prabowo dan Sandi selalu diperkarakan. Dari urusan hukum sampai tafsir agama, selalu jadi riuh di media sosial.

Sejak Indonesia bubar 2030, tempe setipis ATM, puisi doa Neno Warisman, sampai kampanye ibuk-ibuk yang bilang kalau Jokowi menang azan bakalan nggak kedengaran dan LGBT bakalan makin marak. Semuanya dimasalahkan.

Hedeh, semua-semua-semuanya dari Prabowo kok dimasalahkan sih. Sukanya kok ya ngorek-ngorek kesalahan oposisi? Kayak nggak punya salah aja nih pemerintah.

Padahal kan soal ibu-ibu yang dituduh kampanye hitam itu Lord Fadli Zon udah bilang, “Itu kan pendapat pribadinya (ibu-ibu). Jadi saya kira itu bukan kampanye hitam. Itu pendapat pribadi dia yang ya mungkin perlu klarifikasi.”

Tuh, lihat, cuma pendapat pribadi aja urusannya pidana lho. Memang si ibu-ibu yang bilang kalau Jokowi menang azan dilarang dan LGBT makin marak itu nyebut negara Indonesia? Kan nggak. Nggak ada keterangan negaranya kok.

Siapa tahu si ibu-ibu itu sebenarnya mau bilang kalau azan bakalan nggak kedengaran lagi di Madagaskar kalau Jokowi menang. Apalagi kalau azannya dikumandangkan dari Monas. Coba mana salahnya kalau kayak begitu?

Hedeh, logika sederhana ambyar gini aja kelen nggak ngerti. Makanya, Lord Amien Rais pusing kalau rakyatnya begini semua. Apa-apa dari kubu Prabowo dianggap salaaah mulu.

3. Suara golput meningkat, tapi kok nggak nyantol ke Prabowo?

Nah, ini kecurigaan berikutnya. Makin banyaknya cebong yang sadar bahwa pilihannya memilih Jokowi salah, tapi kok akhirnya malah memilih golput itu hal yang aneh banget. Apalagi sampai milih Nurhadi-Aldo capres Nomor 10 dari jalur prestasi segala.

Hedeh, orang-orang yang golput ini memang kurang sempurna tercerahkannya sih. Masih ada setengah-setengah cebongnya gitu. Ibarat metamorphosis, ini baru keluar kakinya dikit, tapi tetap nggak mau jadi kampret. Kurang ajar emang makhluk hybrid atu ini. Sombong betul.

Kan harusnya kalau kecewa dengan Jokowi ya milihnya Prabowo dong. Ini kok malah jadi ilang nggak jelas dan jadi golput sih? Apa karena Prabowo dianggap nggak lebih baik dari Jokowi? Ya kan belum tahu Prabowo jadi presiden bakal bijimana, Malih. Belum pernah ini.

Ingat, yang nggak boleh coba-coba itu cuma berlaku buat anak, kalau buat Pilpres mah boleh coba-coba. Kasih kesempatan aja dulu. Kalau toh jebul jelek, ya tinggal kritik aja di medsos. Tapi ingat, jangan didemo.

Biar Pak Prabowo kalau jadi Presiden nanti bisa komentar, “Wah, saya kangen nih didemo.”

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2019 oleh

Tags: Amien RaisFadli Zonjokowikampanye hitampilpresprabowosandi
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO
Kilas

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.