MOJOK.COKali ini kami bandingkan GadgetIn dan Jagat Review. Wabilkhusus buat penonton yang suka nonton doang tapi nggak beli-beli gadget juga.

Halo, Gaes, Mojok di sini….

…dan ini adalah konten tulisan yang akan membandingkan dua channel YouTube paling banyak dicari untuk kategori review gadget buat netizen Indonesia. Dua channel yang barangkali sudah sering kamu tonton kalau kamu mau beli gadget, atau lihat-lihat doang.

Pliswlekom, yok kita sambut: Jagat Review dan GadgetIn.

Oke, oke, meski dua channel ini terkesan mirip-mirip, GadgetIn dan Jagat Review sebenarnya tidak saling makan pangsa pasar YouTube di Indonesia lho.

Setidaknya dari penelusuran sederhana berikut ini, Mojok menemukan tiga garis pembeda yang bikin mereka bisa saling hidup sehat dalam “industri AdSense” YouTube Indonesia.

Pertama: GadgetIn cocok untuk awam dan Jagat Review cocok untuk yang expert

David di GadgetIn memang jadi figur yang ikonik. Kalimat pembuka di opening videonya, “Halo, Gaes, David di sini… bla-bla-bla,” udah jadi benchmark yang sangat kuat.

Karakter David yang santai, selo, dan “biasa aja” inilah yang justru jadi kekuatan GadgetIn. Soalnya untuk penonton yang masih awam soal gadget, mereka perlu sosok yang dipercaya, dan David—setidaknya sampai hari ini—bisa tetap menjaga kepercayaan itu.

Padahal David juga sering banget kasih disclaimer, “tapi ini menurut saya lho, penilaian ini bisa sangat subjektif,” dan ternyata itu justru tidak menganggu. Bahkan pengakuan ini diam-diam jadi nilai tambah channel GadgetIn.

Coba sekarang saya tanya, ada berapa banyak di antara kamu yang memilih gadget hanya karena David merasa gadget itu cocok untuk dirinya? Nggak sedikit pastinya dong.

Meski begitu, GadgetIn bisa dianggap kurang “serius” dalam mengoprek sebuah produk gadget. Mungkin ini karena sasarannya adalah penonton yang nggak perlu-perlu amat spek dibahas begitu mendetail.

Baca juga:  Ketika Namamu Fahri Hamzah dan Mahasiswa Sedang Mendemo Fahri Hamzah

Nah, ketika kamu merasa pembahasan GadgetIn kurang detail, dan kamu perlu pembahasan yang lebih serius, maka channel Jagat Review cocok untuk jadi pilihan selanjutnya.

Sesuai namanya, pembahasan Jagat Review itu niatnya kebangetan. Saya ingat ketika Jagat Review membahas soal Mi 10T Pro. Di video tersebut, Jagat Review mendaku akan membahas dengan “short review”, tapi waktu “short” yang dibutuhkan itu ternyata sampai 30-an menit.

Ini bukan karena durasi video di Jagat Review panjang-panjang lalu durasi 30 menit itungannya jadi “short”, bukan, bukan itu. Ini karena untuk membahas suatu produk unggulan kayak Mi 10T Pro, Jagat Review memang perlu melakukan oprek edan-edanan.

Dari prosesor, ukuran storage, layar, kamera, bahkan perbandingan ketika dipakai untuk nge-game.

Pembahasan “singkat” yang sangat-sangat detail itu pun akhirnya harus mengorbankan durasi yang lumayan panjang. Namun, saya sih bisa jamin, 30 menit yang dihabiskan itu worth it kok.

Atas dasar itu pula, Jagat Review sebenarnya lebih cocok untuk kamu yang sudah menentukan mau beli satu produk gadget, tapi belum begitu yakin.

Sebaliknya, GadgetIn lebih cocok untuk kamu yang emang doyan aja nonton-nonton produk gadget keluaran terbaru. Penasaran dengan produk aneh-aneh misalnya. Atau produk gadget terbaru yang belum resmi keluar di Indonesia.

Kalaupun ada kekurangan dari Jagat Review, paling hanya soal figur. Bahkan reviewer andalan yang sering nongol di videonya aja saya nggak tahu namanya siapa.

Paling banter saya akan nyebut… “mas-mas kacamataan suara empuk yang suka nongol kayak di studio radio dan doyan gosipin gadget”. Udah.

Baca juga:  Potensi Duit dari Youtube yang Nggak Diambil Soleh Solihun

Tapi itu pun bisa dimaklumi sih, kan mereka emang nggak ngejar penonton awam, jadi ikoniknya host ini nggak dipikirin banget-banget kayak di channel GadgetIn.

Dua: Jagat Review itu teknis dan GadgetIn user experience

Sudah dibahas tadi bagaimana Jagat Review sangat-sangat teknis kalau urusan gadget. Saking niatnya, jujur saya kadang men-skip beberapa penjelasan yang dirasa tidak terlalu penting untuk saya. Maklum, saya kan bukan mau jadi ahli gadget, tapi emang mau beli gadget doang.

Berbanding terbalik dengan Jagat Review, GadgetIn malah lebih sering menjual user experience pada sebuah produk. Penelusuran produk gadget bahkan kadang kalah bahasannya ketimbang pengalaman pemakaian gadgetnya.

Di satu sisi, ini bagus sih karena penonton kayak saya jadi bisa merasa diwakili oleh David GadgetIn. Meski, yaaah, di sisi lain kadang merasa kayak… “Lah, kok prosesornya nggak dibahas sih?”

Soal ini, keduanya sama-sama kuat dan sama-sama lemah. Maksudnya, ya ini jadi pilihan buat kamu sendiri.

Kalau kamu butuh keterwakilan, ya kamu berarti cocok nonton GadgetIn, tapi kalau kamu merasa butuh informasi detail yang sangat teknis ya kamu cocok di Jagat Review.

Tiga: Jagat Review nggak pernah ngomongin produk Apple, kalau GadgetIn sih bahas-bahas aja

Ada satu fakta yang nggak banyak orang tahu bahwa Jagat Review nggak pernah bahas produk Apple sama sekali.

Pertanyaan besarnya: kenapa? Apa Jagat Review punya sentimen tertentu sama produk Apple?

Apalagi kalau diingat-ingat lagi, GadgetIn toh sering banget bahas produk Apple terbaru. Mau itu Mac, Iphone, atau Ipad. Bagus-bagus aja tuh views-nya. Malah kealpaan Jagat Review nggak mau bahas produk Apple ini jadi celah buat channel lain.

Baca juga:  Kenapa Harga Xiaomi Murah dan iPhone Mahal?

Jawabannya ternyata cukup masuk akal. Ini tentu versi Jagat Review sendiri lho ya. Oh iya, kamu bisa juga nonton jawabannya di sini.

Jadi kalau saya sederhanakan begini.

Orang yang sudah menentukan mau beli (atau udah punya) produk Apple, kecenderungannya selalu balik beli produk Apple lagi. Mereka ini sebenarnya tak butuh banyak review untuk menentukan pilihan.

Ya iya, pilihannya kan cenderung cuma satu: Apple yang lebih baru teknologinya, titik.

Ini tentu berbeda dengan produk-produk lain kayak Xiomi, Samsung, Oppo, atau Vivo. Orang yang mau upgrade gadget, biasanya bisa beralih merek. Toh OS-nya sama-sama Android kok, jadi perbandingan produk antar-merek bisa dibedah jadi review yang menarik.

Misalnya saya punya Samsung Galaxy C9 Pro, RAM 6 GB. Lantas saya pengin upgrade nih. Cari hape yang lebih besar RAM-nya, minim 8 GB lah. Ada budjet 8 juta. Wah, pilihannya ada banyak sekali.

Misalnya yang sesama Samsung. Bisa Samsung Galaxy A72 atau kalau mau nambah budget dikit, bisa dapet Samsung Galaxy S21.

Tapi bisa juga pindah merek. Ada Mi 10T Pro misalnya, yang lebih murah 1-2 juta. Atau sekalian pindah ke Vivo X50 yang harganya 6 jutaan misalnya. Buanyak sekali pilihannya.

Nah, atas dasar itulah pembahasan Jagat Review ada di merek yang pakai OS Andorid doang, dan kamu tak akan menemukan pembahasan produk Apple sama sekali.

Lah, memang produknya udah bagus ini. Kalau kamu emang punya budget untuk beli Apple, ngapain juga kamu butuh review detail? Buat apa? Ada duit kok.

BACA JUGA Rubrik Konter Mojok yang bahas dunia gadget di sini.