MOJOK.CO“Apa? MOJOK malah belum wawancara?” kata Pakde Blontank Poer dari Rumah Blogger Indonesia, ketika kami minta tolong untuk dipertemukan dengan Didi Kempot.

Tak berlebihan rasanya untuk menyebut bahwa Agus Mulyadi merupakan salah satu sosok yang ikut membuat Didi Kempot populer kembali seperti sekarang.

Thread-nya tentang puja-puji untuk penyanyi campursari asli Solo ini ternyata ramai, diretwit ribuan orang. Impresinya bahkan lebih dari satu juta. Gara-gara thread itu pula, follower Agus di Twitter bahkan bertambah lima ribu hanya dalam tempo dua hari.

Jadi tak berlebihan pula rasanya untuk menyebut bahwa Didi Kempot membuat Agus Mulyadi makin terkenal.


“Wedyaan, lagi iki aku ketambahan followers ngasi lima ewu, Daf,” kata Agus. Gila, baru kali ini aku ketambahan followers sampai lima ribu. Dasar buzzer amatiran.

Mbahas Didi Kempot follower nambah 5 ewu, mbahas Jerinx SID blas ora nambah,” dia bilang lagi sambil tertawa. Bahas Didi Kempot follower tambah 5 ribu, bahas Jerinx SID sama sekali nggak tambah.

Thread tersebut kelak menjadi salah satu pemicu bagi banyak orang untuk mulai memperbincangkan (kembali) Didi Kempot beserta karya-karyanya. Pengagum Didi Kempot lalu bersuara di mana-mana. Tak ada lagi alasan pencinta lagu-lagu campursari untuk takut dianggap sebagai barisan pengagum musik ndeso atau kampungan.

Mendadak lagu “Sewu Kuto”, “Cidro”, sampai “Suket Teki”—meski bagi saya pribadi, saya paling suka dengan lagu “Sekonyong-konyong Koder”—kembali dinyanyikan. Kembali jadi keren. Nggak hipster lagi. Patah hati lagi. Nangis lagi. Joget lagi.

Dari popularitas yang melonjak itu pula, Didi Kempot kebanjiran tawaran wawancara, mulai koran dan media sampai televisi nasional. Hal ini yang kemudian bikin Agus diam-diam kesengsem ingin wawancara pula.

Tawaran mewancarai Didi Kempot jadi semacam barang langka yang sayang dilewatkan. Nikmat mana lagi yang bisa kau dustakan ketika bisa mempertemukan orang yang memopulerkan Didi Kempot via media sosial dengan Mas Didi sendiri?

Kesempatan untuk wawancara itu datang ketika kami mencoba mengontak Pakde Blontank Poer—yang yah, katakanlah—“pengasuh” Rumah Blogger Indonesia (RBI) di Solo. Sosok yang kami pikir bisa menghubungkan kami dengan Didi Kempot.

“Apa? MOJOK malah belum wawancara?” kata lelaki yang sering menemani Mas Didi saat show di berbagai acara di Jakarta.

Ada keterkejutan sekaligus sedikit ketidakterimaan di kalimat itu. Maklum, bagaimana bisa Agus dan Mojok malah belum kebagian jatah mewawancarai the Godfather of Broken Heart?

Maka, tak perlu waktu lama, Mas Didi (tentu setelah dihubungi Pakde Blontank) langsung mengirimi Agus sebuah video “undangan” wawancara.


Jelas, hati Agus berbunga-bunga setengah modiar mendapat kiriman video ini. Setelah babibu janjian, akhirnya Minggu siang 18 Agustus 2019 kami satu rombongan kru Mojok sepakat akan sowan menemui Mas Didi.

Jika biasanya orang cenderung gugup hebat saat akan ketemu idolanya, Agus malah tidak, ya dia memang kelihatan tidak tenang, tapi itu karena kelewat semangat. Berkali-kali Agus joget-joget dan nyanyi-nyanyi sendiri dalam persiapan perjalanan ke Solo.

Bahkan lagu-lagu yang dinyanyikan Agus adalah lagu-lagu Mas Didi yang kurang populer di telinga kami. Yah maklum, dia kan Kempoters Garis Keras. Ibarat fans sepak bola, Agus ini termasuk Ultras-nya Didi Kempot.

Mas Ige, orang yang biasa mengurus konten video Mas Didi, sempat menghubungi kami bahwa ada sedikit perubahan jadwal, kami dijanjikan bisa bertemu malam hari setelah Mas Didi gladi resik acara Konser Kebangsaan sekaligus Pemberian Apresiasi 74 Ikon Prestasi Pancasila yang rencananya akan tayang live di TVRI pada 19 Agustus.

Meski begitu, tempat janjian tetap di Concert Hall De Tjolomadoe, Karanganyar. Kata Mas Ige, Mas Didi kebetulan sedang ada acara di Semarang pada pagi sampai sore hari.

Kami pun meluncur ke Solo dari Jogja sekitar pukul satu siang. Di sepanjang perjalanan itulah Agus bergumam tiada henti. Selain soal nyanyian yang tiada henti dilantunkan dan hampir merusak gendang telinga seluruh penumpang di mobil, juga mengenai pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia tanyakan.

Dari pertanyaan normal seperti “Siapa nama asli Didi Kempot?” atau “Kenapa lagu-lagu Didi Kempot sering punya latar pelabuhan, stasiun, dan terminal?” sampai pertanyaan-pertanyaan off the record yang berbahaya kalau ditanyakan—meski sebagian tetap ditanyakan dan dijawab tapi tidak elok kalau ditayangkan.

Bertemu dengan Mas Didi tentu saja menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi kami, kru Mojok yang ikut serta—termasuk saya. Tak pernah terbesit sedikit pun di benak saya yang sudah mendengarkan lagu-lagunya sejak sekolah SMP di Solo, akhirnya bisa bertemu langsung dengan Mas Didi di belakang panggung seperti itu.

Tentu saja, ada kekhawatiran-kekhawatiran yang sempat muncul. Seperti, apakah Mas Didi memang seramah yang dikenal selama ini? Atau dia keberatan tidak ya waktu gladi resiknya diganggu oleh kami?

Setelah menunggu sekitar satu jam di parkiran De Tjolomadoe, manajer Mas Didi menghubungi kami untuk langsung masuk ke back stage. Di sana Mas Didi yang duduk di tangga panggung semringah menyalami kami satu per satu.

Garis wajah yang kelelahan sebenarnya kelihatan dari seorang Mas Didi Kempot, hanya saja senyum “patah hati”-nya tak henti-hentinya menghantam kami. Seolah-olah, kalau saat itu sedang tidak ada siapa-siapa ingin rasanya saya langsung nyanyi, “Ha cintaku sekonyong-konyong koder…” di hadapannya.

Keramahan ini cukup mengejutkan bagi kami. Dengan popularitas dan senioritas sebagai penyanyi campursari yang melegenda, sepertinya sulit untuk tetap membumi seperti Mas Didi. Awalnya, kami akan wawancara seusai dia menyelesaikan gladi resik, tapi entah kenapa Mas Didi ingin cepat-cepat saja wawancara. Bahkan kami dicarikan ruangan untuk wawancara eksklusif. Dicicil saja dulu, katanya.

Ruangan iki iso dinggo ora?” Ruangan ini bisa dipakai nggak? tanyanya ke salah seorang petugas ketika kami masih terkejut kalau wawancara mau dilakukan saat itu juga.

Begitu Mas Didi menanyakan itu, manajer dan petugas gladi resik jadi sibuk mengecek ruangan yang dimaksud. Lalu tak perlu menunggu waktu lama, izin menggunakan ruangan pun langsung di-acc.

Di tengah bisingnya gladi resik dari penyanyi lain, kami lalu mempersiapkan peralatan take gambar di ruangan yang ditunjuk Mas Didi ini. Sebenarnya kami sadar kalau tak boleh lama-lama wawancara. Sebab, kurang beberapa menit lagi, Mas Didi harus tampil untuk gladi resik. Tapi kenyataannya, take gambar untuk wawancara berlangsung hampir setengah jam! Ealah, dasar kami tak tahu diuntung.

Cukup bisa dimaklumi kenapa Mas Didi juga ikut semangat ketika diwawancarai Agus Mulyadi—bahkan sampai lupa waktu. Betul memang, ada pertanyaan-pertanyaan klise. Seperti siapa nama asli Didi Kempot atau soal makna-makna lagu, tapi Agus membuktikan bahwa dirinya memang “Ensiklopedia Didi Kempot” berjalan. Bahkan ada beberapa hal yang tidak begitu diingat Mas Didi justru diingat Agus.

Seperti misalnya, fakta kalau Mas Didi cukup gemar bikin lagu-lagu yang menyebut nama-nama daerah di Indonesia. Dari Pantai Klayar, Trenggalek, bahkan sampai Kalimantan. Tapi siapa sangka kalau Mas Didi sampai lupa dengan lagu-lagunya sendiri.

“Mas Didi bahkan pernah bikin lagu soal Magelang lho, Mas. Ingat nggak? Judulnya ‘Magelang Ninggal Janji’,” tanya Agus.

Mas Didi yang ditanya malah kelihatan bingung sendiri. Ya wajar, wong judulnya “Magelang Nyimpen Janji”, Guuus. Baru aja dipuji jadi Ensiklopedia Didi Kempot Berjalan, eh sudah langsung salah.

Namun, kalau Didi Kempot benar lupa dengan lagu itu, kita juga maklum. Ia sudah membawakan kurang lebih 700-an lagu dalam 17 album yang disebar di Suriname dan Belanda.

“Dari 700-an lagu itu apa panjenengan hafal semua?” tanya Agus.

“Oh, pasti lupa,” jawab Mas Didi sambil tertawa. “Yo kuwi yen dikelumpukke yo lali, Mas.” Ya itu kalau dikumpulkan ya lupa, Mas.

Mas Didi lantas menjelaskan kenapa dirinya suka membuat lagu dengan latar berbagai daerah di Indonesia.

“Saya suka semacam itu ya,” kata Mas Didi, “Kenapa? Paling tidak kalau kita membuat lagu tentang daerah semakin memopulerkan daerah tersebut kepada khalayak ramai, baik di dalam maupun luar negeri, apalagi objek wisata ya,” tambahnya.

Didi Kempot lahir dari keluarga seniman. Ayahnya, Ranto Edi Gudel, adalah pelawak legendaris di Solo. Ibunya, Umiyati Siti Nurjanah, seorang penyanyi keroncong. Sedangkan kakaknya, Mamiek “Srimulat” Prakoso, adalah awak grup teater Srimulat yang dulu mondar-mandir di televisi.

“Intinya, biar kita itu satu rumah ada yang beda ya. Mbah Ranto (ayah Didi Kempot), itu pemain ketoprak juga pelawak yang termasuk wiwiti dagelan dan wayang kulit. Mas Mamiek panggungnya beda, dia agak gebyar lampunya, jelas di Srimulat, ibu kota. Saya tetep dengan gaya-gaya ndeso campursarian. Biar komplet. Satu rumah itu biar komplet,” kata Mas Didi tentang mengapa ia tak ikut jalan pelawak yang dilalui ayah dan kakaknya.

Tak terasa take gambar itu harus diakhiri karena Mas Didi harus tampil. Akan tetapi karena itu pula kami jadi dapat kesampatan langka, menyaksikan sosok fenomenal Didi Kempot dari belakang panggung ketika menyanyikan “Banyu Langit” dan lagu legendaris “Sewu Kuto”.

Kapan lagi bisa menyaksikan lagu yang bikin nangis sekaligus joget-able dari belakang panggung—bahkan dinyanyikan langsung oleh penyanyi aslinya? Air mata boleh netes, Lur, tapi bokong tetep goyang.

Dua lagu yang sebenarnya mewakili jawaban Mas Didi usai gladi resik di take gambar kedua ketika ditanya, “Mas Didi gimana caranya kalau kita disakiti banyak perempuan dan kita bisa tetap tegar?”

Yo dijogeti wae,” kata Godfather of Broken Heart ini. Benar-benar nasihat patah hati yang paripurna.

BACA JUGA Puja-Puji untuk Lord Didi Kempot, Bapak Patah Hati Nasional



Tirto.ID
Loading...

No more articles