MOJOK.COApa kalau perempuan gundul itu kewajiban pakai jilbab juga ikut gugur? Kan auratnya dah ilang? Jadi boleh dong seharusnya lepas jilbab?

“Edan ini, Gus, orang-orang kok demen amat ya nyinyirin artis yang lepas jilbab,” kata Fanshuri menunjukkan layar hapenya ke Gus Mut.

Gus Mut yang sedang leyeh-leyeh di teras rumah Fanshuri melirik sebentar membaca sepintas komentar netizen di kolom komentar medsos si artis. Isinya tentu kejam-kejam. Ada sumpah serapah segala.

“Kamu itu kayak nggak punya kehidupan sendiri. Hidup orang yang nggak kenal kok diurusin,” kata Gus Mut sambil menyalakan rokok lalu bersandar di kursi bambu.

“Lah, ya lucu aja, Gus. Apa mereka pikir dengan komen-komen begitu si artis yang lepas jilbab ini bakal balik pakai jilbab lagi? Kan malah tambah nggak mau jadinya kalau cara ngasih tahunya sekejam ini,” kata Fanshuri sambil mengambil rokok Gus Mut.

“Tapi ya itu risiko dari si artisnya juga sih, Fan. Namanya juga publik figur, apa aja yang berkaitan sama dia pasti dikomentarin lah. Jangankan lepas jilbab, kalau lagi kentut kerekam dan keupload di medsos juga pasti dikomentarin lah,” kata Gus Mut.

Fanshuri cuma tertegun, sambil menyesap dalam-dalam rokoknya, memikirkan soal aurat-aurat ini.

“Gus,” kata Fanshuri tiba-tiba.

“Heh,” jawab Gus Mut.

“Pernah kepikiran gini nggak?”

“Gini gimana?”

“Gini. Aurat perempuan itu rambut juga termasuk kan?” tanya Fanshuri.

“Iya, betul. Mayoritas ulama di sini sih tafsirnya iya,” jawab Gus Mut.

“Nah, kalau perempuan itu rambutnya dipapras habis, terus gundul, si perempuan ini boleh dong lepas jilbab… kan auratnya sudah nggak ada?” tanya Fanshuri.

Gus Mut sedikit terkejut Fanshuri tanya begitu. Lalu tertawa kencang sekali. Seolah pertanyaan Fanshuri ini adalah komedi warung kopi yang lucu sekali.

Diketawain begitu Fanshuri ikut mesem.

“Gimana? Menarik kan, Gus? Ini apa perlu dibahas di ngaji besok?” kata Fanshuri.

Gus Mut masih tertawa sambil memegangi perutnya.

“Howalaaah, Faaan, Faaan. Hayaaa nggak perlu nunggu ngaji besok,” kata Gus Mut.

“Lah emang Gus Mut udah tahu jawabannya?” tanya Fanshuri.

“Sekarang aku tanya balik dulu, sebelum menjawab,” kata Gus Mut.

“Oke,” kata Fanshuri.

“Jembutmu itu termasuk aurat apa nggak?” tanya Gus Mut.

“Hah?” Fanshuri kaget, “Ya iya lah, Gus. Edan apa.”

“Kalau jembutmu kamu papras habis, sampai gundul, apa itu artinya kamu boleh nggak pakai celana?” tanya Gus Mut.

Fanshuri mikir sejenak.

“Gus Mut ini gimana, ya nggak boleh lah,” kata Fanshuri.

“Lah kan auratmu udah nggak ada?” tanya Gus Mut membalikkan pertanyaan Fanshuri soal lepas jilbab tadi.

Fanshuri diam sejenak, lalu ketika menyadari maksud Gus Mut, gantian Fanshuri yang tertawa ngakak menyadari kebodohannya.

“Howalah, jadi, jadi,” kata Fanshuri di tengah-tengah ketawanya, “aurat yang dimaskud di sini itu bukan soal tumbuh atau tidaknya rambut to, tapi lebih ke area tubuh ya, Gus?”

Gus Mut cuma bersandar lagi di kursi bambu sambil menikmati sisa rokoknya.

“Nah, itu kamu tahu.”

BACA JUGA Benarkah Anak Perempuan Pakai Jilbab itu Selalu karena Paksaan Orang Tuanya? dan kisah Gus Mut lainnya.