MOJOK.CO – Selama ini Pondok Pesantren dikenal sebagai tempat untuk mendidik para santri nakal. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, apalagi jika merunut pengalaman Kiai Kholil.

Gus Mut berdiri di atas mimbar. Malam itu, atas undangan panitia khataman sebuah pondok pesantren yang diasuh Kiai Rizki, Gus Mut didapuk mengisi tausiyah.

Dalam sela-sela tausiyahnya, Gus Mut menerangkan soal fungsi pondok pesantren di masyarakat. Karena dianggap relevan, Gus Mut lalu menceritakan pengalaman di pesantren yang diasuh oleh bapaknya.

“Ketika bapak saya, Kiai Kholil, masih muda dan masih aktif mengasuh pesantren—saya belum lahir saat itu—Bapak pernah memanggil keamanan pondok untuk mencatat nama-nama santri-santri paling nakal di pesantren tersebut,” kata Gus Mut.

Diceritakan oleh Gus Mut kemudian, Kiai Kholil memanggil Kang Maula, salah satu pengurus keamanan pondok.

“Kang Maula, tolong catat nama-nama santri yang nakal ya? Tolong urutkan dari bawah, yang agak nakal, cukup nakal, nakal banget, sampai yang paling atas santri yang kenakalannya bikin bagian keamanan pondok repot,” kata Kiai Kholil ke Kang Maula.

“Oh, baik, Pak Kiai,” jawab Kang Maula bungah luar biasa mendengarnya.

Dalam hati Kang Maula girang bukan kepalang, “Kuapokmu kapan, nama-nama kalian bakal aku catat besar-besar biar Kiai Kholil tahu siapa santri-santri yang bikin repot keamanan pondok.”

Dengan semangat yang meluap-luap, Kang Maula segera mencari kertas dan spidol. Dicatatnya nama-nama santri itu besar-besar. Tak sampai hitungan jam, Kang Maula sudah berhasil membuat daftar itu. Tentu saja yang paling atas merupakan santri yang nakalnya naudzubillah.

Masih dengan hati yang gembira, Kang Maula langsung ke kediaman Kiai Kholil, memberikan daftar nama-nama santri yang diminta.

“Lho, cepet sekali, Kang?” tanya Kiai Kholil agak terkejut.

“Hehehe, ya cuma mencatat santri nakal, Pak Kiai. Ya cepet dong, kan saya sudah hafal,” kata Kang Maula tersenyum.

“Kalau nyatet santri yang bagus, kayaknya bakal nggak secepat ini ya, Kang?” tanya Kiai Kholil lagi.

Kang Maula cuma tersenyum, “Kayaknya sih begitu, Pak Kiai.”

“Soalnya kita sebagai manusia itu memang mudah untuk cari kelemahan orang lain ketimbang kelebihannya,” kata Kiai Kholil.

Kang Maula yang mendengarnya sedikit tersentil. “Iya, sih, Pak Kiai,” kata Kang Maula cuma garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Ya sudah, terima kasih ya Kang Maula,” kata Kiai Kholil lalu kembali ke dalam rumah.

Kang Maula tak bisa menyembunyikan kegembiraannya hari itu. Dalam bayangan Kang Maula, santri-santri yang namanya sudah dicatat itu sebentar lagi akan dipanggil oleh Kiai Kholil. Kemungkinan paling buruk si santri akan dikeluarkan dari pondok pesantren, kemungkinan terkecil paling Kiai Kholil akan menghukum santri-santri itu.

Hari kemudian berganti. Seminggu, dua minggu, tiga minggu. Santri-santri yang dicatat oleh Kang Maula dan diberikan ke Kiai Kholil masih ada di pondok pesantren. Tak ada tanda-tanda santri-santri nakal itu akan dikeluarkan. Jangankan dikeluarkan, dipanggil ke kediaman Kiai Kholil saja tidak.

Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Kang Maula kemudian memberanikan diri untuk bertanya ke Kiai Kholil.

“Assalamualaikum, Kiai Kholil,” salam Kang Maula.

“Waalaikumsalam, Kang Maula. Ada apa ya?” tanya Kiai Kholil.

“Anu, saya mau tanya. Soal daftar nama santri yang saya berikan beberapa waktu lalu,” kata Kang Maula.

Kiai Kholil agak bingung mendengarnya.

“Oh, nama yang tiga minggu kemarin itu ya?” tanya Kiai Kholil mendadak ingat.

“Iya, Pak Kiai. Kok tidak ada yang dikeluarkan dari pondok pesantren ya? Atau minimal dipanggil Pak Kiai gitu?” tanya Kang Maula.

Mendadak Kiai Kholil terkekeh mendengarnya. Melihat hal itu Kang Maula kebingungan.

“Lho? Kenapa dikeluarkan?” tanya Kiai Kholil.

“Ya kan mereka anak-anak nakal, Pak Kiai. Anak-anak yang suka melanggar peraturan pondok,” jawab Kang Maula.

“Justru mereka disekolahkan di sini, dipondokkan di sini biar nggak jadi anak nakal. Orang tua mereka ikhlas memasukkan mereka ke sini, biar anak-anak itu jadi orang-orang bener. Lah kalau anak nakal kita keluarkan, mereka bakalan jadi tambah nakal dong, Kang Maula,” jelas Kiai Kholil.

“Lha terus, daftar itu untuk apa, Pak Kiai?” tanya Kang Maula.

Kiai Kholil tersenyum mendengarnya.

“Ya untuk aku doakan. Agar setiap malam aku bisa doakan khusus kepada santri-santri dalam daftar itu jadi santri yang baik, santri yang bener, santri yang nanti ketika lulus dari sini jadi orang yang bermanfaat,” kata Kiai Kholil.

Kang Maula gemetaran mendengarnya. Ternyata selama ini dia telah salah sangka. Dipikirnya urusannya akan beres, ternyata justru tugasnya sebagai keamanan pondok sama saja. Meski begitu ada pelajaran berharga yang didapat oleh Kang Maula saat itu.

Roda waktu lalu berganti sampai masa ketika Gus Mut menceritakan pengalaman itu pada jamaah acara khataman pondok pesantren yang diasuh Kiai Rizki. Hadirin mendengarnya dengan seksama dan sesekali tertawa.

Usai acara Gus Mut turun dari panggung. Sebelum sempat duduk di kursi yang sudah disediakan panitia, mendadak Gus Mut dirangkul oleh Kiai Rizki. Pelukan yang sangat dalam, sangat erat. Gus Mut sebenarnya agak terkejut mendapati kelakuan tuan rumah yang aneh seperti itu.

“Alhamdulillah, Gus Mut. Alhamdulillah,” kata Kiai Rizki masih memeluk Gus Mut.

Gus Mut yang kebingungan tak kuasa melepas pelukan itu.

“Ada apa ya, Kiai Rizki?” tanya Gus Mut heran.

Sambil berbisik ke telinga Gus Mut, Kiai Rizki berkata, “Untung Gus Mut nggak menyebut nama.”

“Lah, memang kenapa, Kiai Rizki?” tanya Gus Mut lagi.

Sambil semakin erat memeluk Gus Mut, Kiai Rizki menjelaskan, “Saya adalah santri yang dicatat paling atas dalam cerita itu.”


*) Diinspirasi dari kisah nyata Kiai Umar Abdul Manan, Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad, Solo, seperti yang pernah diceritakan Gus Mus. Dalam kisahnya, usai Gus Mus bercerita di sebuah acara pengajian, beliau langsung dipeluk oleh seorang kiai.

Loading...



No more articles