Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Racun Pinjol Sangat Mematikan, Gen Z Berani Utang Ratusan Juta di Usia 19 Tahun meski Tanpa Cuan Apalagi Tabungan: Tips Lepas dari Jerat Pinjol

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
3 Februari 2026
A A
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Ilustrasi Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Baca tulisan ini sampai tuntas, supaya kamu tahu bahwa Gen Z Indonesia tanpa cuan sedang dalam bahaya jerat pinjol. Ada tips berguna di akhir tulisan.

Beberapa waktu belakangan, ada satu notifikasi dari teman (lama) yang membuat saya selalu canggung dan bingung. Dia tidak mengajak saya reuni, ngopi, atau main. Isinya satu kalimat yang berefek pada rasa malas membuka pesan tersebut. “Bro, ada uang? Saya pinjam dulu buat nalangin cicilan pinjol. Seminggu lagi saya ganti.”

Mulanya saya memaklumi. Tapi, rasa malas dalam diri saya pun tak terbendung ketika kalimat itu datang berulang kali. Yang berbeda hanya nominal saja. 

Melalui perenungan singkat, saya menyadari, pesan yang berulang kali ini adalah bentuk dari pola dan kebiasaan. Perilaku utang yang mulanya tabu, telah menjadi kebiasaan dan akhirnya membudaya meski mereka ini tidak punya sumber cuan.

Menurut saya ini berbahaya karena banyak yang tidak lagi memandang utang sebagai “krisis”. Ia muncul sebagai serangkaian permintaan kecil yang biasa saja.

Mau beli sesuatu tapi tidak punya cuan, tinggal pake Paylater atau intinya pinjol aja. Persoalan kemampuan finansial pikir belakangan, yang penting hasrat konsumtifnya terpenuhi. Semua itu membuat utang menjadi jebakan yang membelenggu banyak kalangan, khususnya Gen Z.

Baca juga Sudah Blokir 1.139 Pinjol Ilegal, Ini Alasannya Masih Marak di Indonesia

Krisis utang dan pinjol di usia muda

Data dari OJK menunjukan bahwa fenomena ini nyata. Jadi, akun kredit macet (pindar) dari kelompok usia di bawah 19 tahun ternyata melonjak tajam, dari kisaran 2,5 ribu menjadi kisaran 21 sampai 22 ribu akun. Kenaikannya ratusan persen dalam setahun. 

Nominal dari kredit macet dari akun usia tersebut 3,43 miliar. Sementara akun kredit macet pada kelompok usia 19-34 tahun juga naik dari 279 ribu menjadi sekitar 438 ribu akun dengan nominal mencapai Rp786,25 miliar.

Data dari kredit “Buy Now Pay Later” (BNPL) di perbankan juga menunjukkan hal senada. OJK mencatat per Juli 2025, saldo debet kredit BNPL (yang tercatat di SLIK) mencapai Rp24,05 triliun dengan 28,25 juta rekening. Tumbuh 33,56% secara tahunan.

Data tersebut memperlihatkan utang telah menjebak banyak generasi, khususnya Gen Z, untuk saat ini. Sekaligus, memberikan gambaran bahwa bukan hanya pinjol yang meluas, tetapi budaya menunda bayar. Banyak anak muda menganggapnya normal karena semata “banyak yang melakukannya”.

Data-data di atas juga sedikit menunjukkan bahwa Gen Z mudah sekali mengambil keputusan finansial hanya dengan modal percaya diri. Mereka tidak punya sumber cuan, tapi seakan tidak mau memikirkannya. Hasrat yang menjadi dorongan ini berbahaya.

Kemudahan akses “menjebak” Gen Z

Selain dorongan konsumtif dan fomo, budaya utang dan pinjol muncul dari kemudahan Gen Z mendapatkan akses terhadap berbagai platform utang. Oleh sebab itu, tanpa sadar, pinjol masuk ke kehidupan sehari-hari. 

Notifikasinya muncul saat sedang rebahan. Iklannya nyelip di tiap video yang kita tonton. Ia muncul seolah jadi kenormalan hidup manusia. Limit besar, tenor fleksibel, dan biaya-biaya lainnya yang tak terlihat, membuatnya jadi semacam “madu” saat seseorang menghadapi kondisi sulit. 

Iklan

Lebih jauh, budaya utang memang menguat selaras dengan teori present bias. Teori ini bilang kalau manusia cenderung lebih memilih merasakan kepuasan instan ketimbang menghindari konsekuensi negatif (biaya) di masa depan. Mereka tidak punya sumber cuan, pendapatan bahkan minus, tapi sangat percaya diri bisa melunasi.

Seseorang bisa saja membuat rencana keuangan jangka panjang yang detail dan rapi. Tapi, ketika datang layanan pinjol berupa diskon, limit tinggi, dan penawaran bayar nanti, bisa jadi seseorang tergoda sehingga berubah pikiran. Rencana awal bergeser ke arah “kalau gak sekarang, ya kapan lagi?” Perkara beban pembayaran pikir nanti.

Selain itu, fitur pinjol atau paylater membuat sebuah barang terlihat jadi murah. Sebab, biaya realnya dipecah menjadi beberapa cicilan kecil. Otak manusia kemudian menangkap itu sebagai pengeluaran yang tidak berat. Pada kondisi ini, seseorang merasa dirinya aman.

Naluri manusia kadang menganggap membayar tunai itu terasa menyakitkan karena nominal pengeluarannya besar. Ketika pembayaran dibuat tertunda atau dicicil, beban rasa sakit jadi berkurang. Nggak punya cuan, jadi terlihat biasa saja. Toh banyak yang menjalani “jebakan” itu dengan senang hati.

Efeknya adalah keputusan pinjol menjadi sesuatu yang wajar dan konsumsi meningkat. Jadi, masalah utama utang digital ini bukan hanya soal nominalnya, tapi desain dan sistemnya membuat utang terasa begitu wajar, lumrah, ringan dan seolah tanpa konsekuensi.

Utang sebagai fenomena global yang meresahkan

Nyatanya, kalau kita mengakumulasi cicilan kecil tadi, akhirnya sama memberatkan dengan satu utang besar. Selanjutnya, yang terjadi adalah penumpukan kewajiban yang perlahan membuat kondisi keuangan jadi semakin tercekik. Bagaimana tidak mencekik kalau tidak ada sumber cuan yang memadai, tapi kita terbebani oleh cicilan di luar kemampuan.

Menariknya, budaya utang ini tidak hanya menjebak Gen Z Indonesia, tapi juga negara lainnya. Polanya serupa, yaitu masifnya kredit instan, utang kecil-kecil yang menumpuk, dan anak-anak muda ini tidak menyadari dari bahaya menunda bayar.

Ambil contoh di Inggris, pemerintah setempat menyadari bahwa pinjol dan pindar (legal) sudah digunakan secara masif. Namun, belum ada aturan yang mengaturnya. Misalnya, konsumen asal utang tanpa tahu informasi yang utuh. Akibatnya, konsumen menghadapi cicilan yang tidak terjangkau.

Oleh karena itu, Financial Conduct Authority (FCA) Inggris menyiapkan paket aturan mainnya lewat konsultasi CP25/23 yang terbit 18 Juli 2025. Dalam dokumen itu, FCA memakai istilah hukum Deferred Payment Credit (DPC) untuk pinjol legal, yaitu kredit tanpa bunga yang dibayar maksimal 12 cicilan dalam 12 bulan dan sebelumnya memang bebas regulasi.

Secara garis besar, FCA mendorong agar pemberi pinjaman memberikan informasi yang mudah dipahami oleh konsumen. Sebelumnya, mereka juga harus melakukan penilaian kelayakan sumber cuan supaya konsumen tidak terjerat cicilan di luar kapasitasnya.

Indonesia bisa apa?

Sebetulnya, regulasi seperti di Inggris punya tujuan untuk menciptakan semacam penyaring. Tujuannya supaya proses utang di pinjol jadi lebih transparan. Khususnya untuk Gen Z yang sudah terdeteksi kemampuan bayar dan mendapat perlindungan konsumennya. 

Indonesia bisa meniru langkah ini. Memang, sudah saatnya kita memperluas inklusi keuangan, rutin membuat inovasi dunia finansial, mempermudah akses informasi, dan mendesain mekanisme kredit di mana Gen Z tidak terseret dalam jebakan pinjol berkepanjangan padahal tidak punya sumber cuan memadai.

Indonesia juga bisa memperketat kebijakan credit reporting. Kebijakan ini bisa menjadi rem untuk perilaku pinjol dan impulsif padahal tidak punya sumber cuan. 

Temuan Bank for International Settlements (BIS) 2025 tentang BNPL Huabei di Cina memperlihatkan, ketika layanan BNPL mulai masuk ke sistem pelaporan kredit nasional, penggunaannya turun secara signifikan. Implikasinya paling terasa pada Gen Z dan mereka yang punya riwayat gagal bayar. Tidak hanya itu, setelah masuk laporan, tingkat kedisiplinan membaik.

Kondisi itu masuk akal, sebab setelah tercatat, BNPL tidak lagi terasa seperti utang ringan dan tak terjejak. Hal itu karena keterlambatan atau gagal bayar berpotensi menjadi catatan negatif yang bisa mengganggu akses kredit di masa depan. Sehingga, peminjam cenderung berhati-hati dan mengurangi perilaku pinjol agar tidak memperburuk catatan kreditnya.

Tips bagi Gen Z untuk lepas dari jerat pinjol laknat

Indonesia sebetulnya sudah punya reporting melalui BI Checking atau SLIK OJK. Tinggal memastikan bahwa pinjol, pindar, dan BNPL masuk dan konsisten sebagai dasar penilaian risiko. Tantangannya memang datang dari cakupan dan pemanfaatan pelaporan yang harus benar-benar konsisten. 

Secara aturan, keduanya punya kewajiban menjadi pelapor SLIK. Selain itu, yang paling penting adalah memastikan Gen Z paham konsekuensi rekam jejak kredit yang negatif. 

OJK juga menegaskan batas usia minimum borrower 18 tahun (atau sudah menikah) serta cuan minimum Rp3 juta per bulan. Ini langkah yang bagus, tapi itu hanya jadi semacam pagar. Yang benar dibutuhkan adalah ekosistem keuangan yang melahirkan keputusan finansial yang sehat.

Sebagai Gen Z sendiri, saya sadar kalau “rem untuk tidak utang” itu perlu datang dari diri sendiri. Nah, berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan supaya pinjol laknat itu nggak menang.

Pertama, jangan sungkan menunda keinginan. Tunda seminggu, lah. Sebab kalau nggak mendesak, keinginan untuk utang atau pake paylater bisa memudar. 

Kedua, biasakan mencatat pengeluaran dan cicilan bulanan. Mencatat pengeluaran membuat kita tahu seberapa boros di waktu tertentu. Secara psikologis, ini membuat seseorang jadi lebih berhati-hati mengambil keputusan finansial. 

Catat juga jumlah cicilan. Supaya kita jadi sadar bahwa masih ada beban utang, yang meski kecil, tapi sudah jadi tanggung jawab. Utang, meski nominalnya kecil, kalau nggak dicatat, bisa menumpuk dan diam-diam membuat kita tertimbun oleh rasa takut dan stres. 

Ketiga, matikan, hapus, atau nggak perlu instal segala platform yang berhubungan dengan pinjol. Bikin jangkauan segala layanan jebakan itu menjauh. Saya pernah sekali download aplikasi pinjol, dan setelahnya mereka terus menggoda dengan menghubungi secara berkala. Selain mengganggu, itu juga bisa menggoyahkan iman. 

Keempat, mulai sisihkan cuan untuk menabung dan dana darurat. Dua aksi ini bisa mengurangi keinginan untuk utang. Yah, ngapain utang, kan dana tabungan atau darurat sudah ada.

Baca juga Sulitnya Pegawai Pinjol Menjelaskan ke Orang Tua soal Pekerjaannya: Ngaku Kerja di Bank hingga Jadi Sasaran Pinjam Uang Tetangga

Negara wajib berperan

Peran negara juga sangat penting. Jika negara ingin Gen Z keluar dari jebakan pinjol, maka perlu menambah friction di awal. Misalnya seperti uji kemampuan bayar, peringatan total biaya di layar checkout, dan jeda 24 jam untuk limit baru. 

Kemudian, memperkuat infrastructure (pelaporan kredit yang konsisten), dan membangun habit melalui literasi dan kebiasaan anggaran yang relevan. Misalnya, kampanye menyisihkan cuan untuk menabung dan berinvestasi.

Karena sekali lagi, budaya utang ini tidak berhenti hanya pada persoalan individu. Jerat pinjol laknat juga terjadi karena ada benturan antara perilaku manusia dengan inovasi utang yang makin licin dan semua orang mudah menjangkaunya.

Kalau negara membiarkan situasi ini terus terjadi, angka-angka OJK di atas hanya jadi permulaan dari kisah yang lebih pelik. Jangan sampai Indonesia berisi Gen Z yang tumbuh dewasa tidak dengan cuan atau investasi, tapi dengan utang dan cicilan.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Mahasiswa KIP Kuliah yang Nekat Pinjol: Awalnya Merasa Butuh tapi Malah Kecanduan dan Berakhir Menderita dan analisis menarik lainnya di rubrik CUAN.

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: apa itu pinjolcara lepas dari pinjolcuanGen ZInvestasiOJKpaylaterpindarPINJOLpinjol ilegalpinjol ilegal 2025pinjol legalpinjol legal 2025tabungan
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi MOJOK.CO
Tajuk

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi

2 Februari 2026
celengan investasi, ai.MOJOK.CO
Aktual

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
Tabungan likuid untuk jaga-jaga pas kehilangan pekerjaan (PHK) memang penting. Tapi banyak pekerja Indonesia tak mampu MOJOK.CO
Mendalam

Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup

29 Januari 2026
Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja.MOJOK.CO
Catatan

Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja.MOJOK.CO

Jangan Cuma Beli Emas, Perak Juga Bisa Jadi “Senjata Rahasia” Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

29 Januari 2026
Users kereta api ekonomi Sri Tanjung kaget saat pertama kali naik KA Jaka Tingkir New Generation dalam perjalanan Jogja-Jakarta MOJOK.CO

Users Sri Tanjung Kaget saat Pertama Kali Naik KA Jaka Tingkir: Kereta Api Ekonomi Nggak Kayak Ekonomi, Malu karena Jadi Kampungan

27 Januari 2026
mahasiswa psikologi UGM kuliah sambil ngojol di Jogja. MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
main gim daring.MOJOK.CO

Saat Healing Malah Jadi Toxic: Kecanduan Gim Bisa Bikin Mental dan Fisik Anak Muda Awut-awutan

28 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026

Video Terbaru

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026
Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.