MOJOK.CO – Dulu, kalau sedang cari kerja, saya akan membuka LinkedIn, Jobstreet, atau platform pencari kerja lainnya. Sekarang, saya malah membuka Threads.
Aneh memang. Threads bahkan bukan platform pencari kerja. Tidak ada fitur khusus untuk memasang CV, tidak ada tombol Apply, apalagi kolom yang meminta kita memasukkan pengalaman kerja selama lima tahun terakhir. Tapi beberapa pekerjaan justru saya dapat dari sana.
Salah satunya proyek yang saya dapatkan dari berkah scrolling Threads adalah menulis dan mengilustrasikan buku anak. Berawal dari sebuah unggahan seseorang yang sedang mencari orang untuk mengerjakan proyek tersebut. Tidak ada poster we’re hiring, tidak ada formulir pendaftaran, apalagi proses kirim CV ke HR.
Saya melihat unggahannya, tertarik, lalu menghubungi orang tersebut. Dari situ, obrolan di Threads berlanjut menjadi obrolan soal pekerjaan dan, tentu saja, pekerjaan yang menghasilkan.
Belakangan, saya juga mulai berada di sisi lain: menjadi orang yang mencari pekerja.
Ketika membutuhkan berbagai kebutuhan pekerja untuk bisnis coffee shop yang saya kelola (seperti barista, kitchen crew, hingga social media specialist), saya lebih dulu menawarkan via Threads. Setelah itu, saya baru membayar akun-akun seperti info loker untuk mengunggah informasi tersebut.
Dari situ saya mulai berpikir. Sepertinya saya bukan satu-satunya orang yang sekarang lebih sering mencari kerja di Threads daripada LinkedIn.
Lowongan kerja yang terasa seperti obrolan
Ada sesuatu yang berbeda dari cara orang menawarkan pekerjaan di Threads. Kalau di LinkedIn, saya sering menemukan lowongan kerja dengan bahasa yang cukup formal dan syarat yang bikin pusing.
Misalnya, we are looking for a passionate, highly motivated, dynamic individual to join our team. Sementara di Threads, formatnya bisa sesederhana, “Lagi cari barista nih buat coffee shop, yang punya pengalaman boleh DM. Drop CV kalian, ya.”
Tidak ada yang salah dengan bahasa profesional. Cuma, rasanya memang berbeda.
Threads membuat pencarian kerja terasa seperti percakapan antarmanusia. Antara si pencari kerja dengan penawar kerja terjalin komunikasi yang jauh lebih luwes ketimbang LinkedIn.
Orang bisa bertanya langsung di kolom komentar lalu merekomendasikan teman. Bisa juga me-repost unggahan lowongan ke orang lain yang dianggap cocok. Bahkan kadang lowongan tidak perlu dibuat oleh akun perusahaan. Cukup seseorang mengunggah, “Tempatku lagi buka posisi ini,” lalu informasi tersebut beredar sendiri.
Seperti hal yang dilakukan oleh orang yang menawarkan pekerjaan buku anak kepada saya. Sama juga kayak ketika saya mencari pekerja untuk coffee shop saya. Kami mengunggahnya di akun pribadi masing-masing.
Mungkin justru karena tidak terasa seperti sedang melakukan rekrutmen, orang jadi lebih berani merespons. Dan kalau bicara dari perspektif saya sebagai Gen Z, jujur saja saya merasa jauh lebih nyaman dengan cara ini ketimbang LinkedIn yang mengedepankan formalitas dan profesionalitas.
Di Threads, yang dicari bukan cuma CV
Mungkin, salah satu alasan orang lebih nyaman cari kerja lewat Threads alih-alih LinkedIn adalah karena mereka bisa melihat sisi personal dari orangnya. Jadi bukan cuma riwayat pengalaman kerja seperti yang tercantum dalam CV pada umumnya.
CV bukannya tidak penting. Tapi, CV pada dasarnya adalah dokumen yang berisi versi paling rapi dari seseorang: pendidikan, pengalaman kerja, kemampuan, dan hal-hal yang memang ingin ditampilkan. Sementara di media sosial, seseorang bisa terlihat sedikit lebih utuh secara manusia, bukan sebagai tenaga kerja sahaja.
Misalnya, cara dia berkomunikasi, topik yang sering dibicarakan, cara merespons orang lain, sampai hal-hal yang dia kerjakan sehari-hari bisa ikut terbaca. LinkedIn kurang bisa kayak gini.
Apalagi sekarang media sosial juga semakin sering berfungsi sebagai auto-portofolio. Beberapa orang bahkan ketika diminta mengirim CV dan portofolio justru mengarahkan perekrut untuk melihat akun media sosial mereka. “Portonya boleh lihat akun Instagram aku di @blabla, Kak.”
Buat pekerjaan kreatif, media, marketing, atau pekerjaan yang banyak berhubungan dengan komunikasi, hal seperti ini tentu bisa menjadi pertimbangan. Dan sepertinya, percakapan semacam ini tidak atau jarang sekali kita temukan di LinkedIn yang menjunjung tinggi percakapan formal dan profesionalitas. Entahlah, setidaknya saya sendiri belum pernah melakukannya kepada pelamar coffee shop saya.
Tapi kesimpulan pendek seperti media sosial otomatis membuat kita mengenal seseorang secara utuh juga tidak bisa kita ambil. Orang tentu tetap bisa membangun citra di internet, atau khususnya, LinkedIn.
Bedanya, di Threads orang tidak selalu datang dengan niat sedang cari kerja atau membangun profil profesional. Mereka juga datang untuk ngobrol, bercanda, gosip, mengeluh soal kerjaan, atau membagikan sesuatu yang sedang mereka kerjakan. Karena basic-nya, platform ini adalah media sosial yang bahkan orang COD-an ban pun tetap ada di sini. Tapi justru karena itulah, kesan yang muncul kadang terasa lebih natural.
Barangkali inilah yang membuat proses mencari orang lewat Threads terasa berbeda. Di LinkedIn, seseorang datang membawa identitas profesionalnya. Di Threads, identitas profesional itu bercampur dengan kepribadian sehari-hari.
Dan buat orang yang sedang mencari pekerja, melihat kemampuan saja kadang belum cukup. Mereka juga ingin tahu, “Ini orang kira-kira seperti apa, ya?”
Threads memberikan kesempatan untuk melihat sedikit jawabannya sebelum seseorang mengirim CV.
Pekerjaan bisa datang ketika kita tidak sedang mencarinya
Hal yang paling menarik dari cari kerja lewat Threads justru karena kita tidak harus sedang mencari kerja. Ketika membuka LinkedIn atau Jobstreet, biasanya kita memang sudah punya niat cari kerja. Kita memasukkan kata kunci, memilih lokasi, melihat gaji, kemudian mengirim lamaran. Di Threads, mekanismenya bisa sebaliknya.
Kita sedang scroll, melihat orang bercerita tentang pekerjaannya, lalu tiba-tiba muncul unggahan, “Lagi cari freelance writer.” Padahal lima menit sebelumnya kita justru sedang mengirimkan utas sambatan hidup.
Saya kira pengalaman mendapatkan proyek buku anak dari Threads kurang lebih seperti itu. Saya tidak sedang duduk mencari lowongan “penulis buku anak”. Pekerjaan itu muncul di ruang yang memang sudah saya gunakan sehari-hari.
Hal yang sama juga terjadi ketika saya mencari orang untuk bekerja. Saya tidak selalu membutuhkan proses rekrutmen yang panjang. Kadang saya hanya membutuhkan seseorang yang punya kemampuan tertentu dan kebetulan sedang tersedia. Dari hiring melalui utas, berlanjut ke obrolan santai, bisa langsung melakukan interview.
Akhirnya, Threads menjadi semacam papan pengumuman kerja yang tidak pernah mengaku sebagai papan pengumuman kerja.
Apakah LinkedIn sudah tidak berguna?
Tidak juga. LinkedIn tetap punya fungsi sendiri, terutama untuk pekerjaan yang proses rekrutmennya lebih formal dan membutuhkan profil profesional yang lengkap. Namun, saya merasa cara orang mencari kerja semakin tidak bergantung pada satu tempat.
Apalagi untuk pekerjaan kreatif, freelance, proyek, F&B, atau pekerjaan yang sangat bergantung pada jaringan. Kadang yang kita butuhkan bukan ribuan pelamar, melainkan satu orang yang tepat dan kebetulan dikenal oleh seseorang di jaringan kita. Threads membuat proses tersebut terasa lebih dekat.
Ada pencari kerja yang bisa langsung berbicara dengan orang yang membuka pekerjaan. Ada orang yang bisa merekomendasikan temannya. Banyak pula orang yang awalnya tidak sedang mencari kerja, tetapi akhirnya mendapat pekerjaan karena melihat unggahan di timeline.
Mungkin itu sebabnya saya sekarang lebih sering membuka Threads ketika sedang mencari orang untuk bekerja maupun ketika sedang melihat peluang pekerjaan.
Platform yang awalnya saya kira sebagai cloning Twitter dengan versi lebih minim iklan afiliator yang menjadi tempat orang mengeluh soal hidup, menghina pemerintah, dan berdebat soal hal-hal receh itu malah perlahan menjadi tempat saya menemukan pekerjaan dan menemukan pekerja. Jadi, maaf LinkedIn. Kamu emang cool, tapi Threads bikin nyaman, hehehe.
BACA JUGA 4 Contoh Pertanyaan Cerdas yang HRD Tidak Ingin Kamu Tanyakan Balik Saat Interview Kerja dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.