Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
2 April 2026
A A
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Ilustrasi Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hidup layak di Jakarta tidak dibatasi oleh angka itu sendiri

Ketika sudah tahu gambaran hidup yang layak di Jakarta, kita akan sadar bahwa nominal angka, apakah Rp8 atau Rp9 juta itu cukup atau tidak, terasa terlalu sederhana. Sebab, yang terpenting adalah apakah angka itu memungkinkan seseorang untuk sesuatu yang disebut Sen sebagai capability, yaitu ruang hidup yang manusiawi.

Masalahnya, prinsip ini tidak terlihat secara konkret dalam kebijakan. Sebab, Indonesia menafsirkan standar konsep Kebutuhan Hidup Layak (KHL) secara dangkal. Secara definisi, KHL adalah kebutuhan pekerja untuk hidup layak secara fisik dalam kurun waktu sebulan. Kata kuncinya adalah “fisik”.

Iklan

Komposisinya meliputi, makanan, makanan (dengan standar kalori tertentu), tempat tinggal, kesehatan, transportasi, dan beberapa kebutuhan dasar lainnya. Ingat, di sini kita sedang membicarakan Jakarta.

KHL hanya mengakomodasi kebutuhan layak secara fisik, tapi tidak otomatis mengakomodir layak secara manusiawi. Individu pekerja Jakarta bisa jadi memenuhi kebutuhan kalorinya, tapi apakah kalorinya berkualitas? Kemudian, secara kualitas finansial, apakah orang tersebut terbebas dari kecemasan soal masa depan ketika tidak punya tabungan dan ruang untuk berkembang?

Inilah yang saya maksud bahwa Jakarta tidak hanya menuntut penghuninya terpenuhi hanya dari segi fisik. Tapi juga dari sisi manusiawi, meliputi emosi atau mental.

Jakarta bukan hanya kota yang mahal 

Jakarta adalah wujud dari kompleksitas peradaban yang struktur biaya hidupnya bisa dibilang tidak seimbang. Pengeluaran untuk tempat tinggal bisa menelan lebih dari seperempat pendapatan, mobilitas juga memakan banyak waktu dan energi, serta biaya sosial yang tinggi. Semua Itu memang tidak bisa diam-diam menguras habis pendapatan.

Ditambah lagi, KHL yang dikonversikan ke dalam angka berbentuk Upah Minimum Kota, sering ditafsirkan sebagai upah maksimum. Sehingga, banyak dari individu pekerja yang justru mendapatkan pendapatan di bawah standar.

Sekarang kita coba masuk ke dalam persoalan untuk memahami secara lebih konkret bagaimana untuk hidup layak. Saya coba membaginya ke dalam beberapa bagian.

Bertahan hidup di Jakarta

Bagian pertama adalah bertahan hidup. Bagian ini mencakup segala kebutuhan yang kaitannya dengan sesuatu yang mendasar, mulai dari makan, tempat tinggal, dan transportasi. Di Jakarta, komponen ini begitu besar. Biaya kos sederhana saja sudah di atas Rp1 juta hingga Rp3 juta per bulan.

Makan dengan standar hemat bisa menyentuh Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per bulan. Transportasi, baik itu KRL, ojek online, atau bensin, dan biaya perawatan kendaraan pribadi, setidaknya menggerus pendapatan Rp500 hingga Rp1 juta per bulan. Bisa kamu lihat, hanya untuk bertahan hidup, seseorang setidaknya menghabiskan bisa lebih dari Rp4 juta per bulan.

Tentang stabilitas 

Bagian ini adalah tentang menjamin bantalan keuangan yang bisa membuat seseorang jadi lebih tenang di Jakarta. Mulai dari punya tabungan, asuransi kesehatan, dan dana darurat. Sederhananya, seorang pekerja idealnya menyisihkan minimal 10 sampai 20% dari pendapatannya untuk bantalan keuangan ini.

Tapi realitanya, banyak pekerja di Jakarta, terlebih perantau sulit untuk menjangkau bagian ini. Sebab, mayoritas dari mereka gajinya sudah habis sebelum akhir bulan. Penyebabnya bisa karena hal yang tidak terduga seperti sakit, motor rusak, keluarga butuh uang, dan lain sebagainya.

Kehidupan sosial di Jakarta

Masih banyak yang menganggap hal ini kurang penting ketika kamu tinggal di Jakarta. Padahal, pengeluaran ini yang bikin seseorang tidak terjebak pada kondisi teralienisasi karena hanya bekerja dan pulang. 

Nongkrong dengan teman, pulang kampung, menikmati makanan enak dan sehat, atau sekadar punya ruang untuk berekspresi agar punya kualitas hidup yang ideal. Kehidupan sosial yang baik juga memberi manfaat membuka pertemanan dan kesempatan baru. Jadi, hal ini sebenarnya penting untuk membangun jejaring.

Iklan

Pengembangan diri sebaiknya ada budget-nya

Mulai dari kursus keterampilan, pelatihan, membeli buku, menikmati hobi, sekadar mengikuti komunitas. Bagian ini membuat seorang pekerja di Jakarta punya hidup yang lebih berwarna dan bergairah.

Tersedianya ruang untuk menyiapkan masa depan

Bagian ini erat kaitannya dengan berinvestasi. Baik itu di instrumen pasar modal, emas, atau bahkan membeli aset tidak bergerak seperti tanah atau rumah. Bagian ini menjadi penting untuk memastikan seseorang punya masa depan yang sudah terencana. Tidak abu-abu dan hanya hidup dari hari ke hari.

Setelah kita tahu bagian apa saja yang membuat kehidupan jadi layak di Jakarta, selanjutnya adalah berapa gaji yang memungkinkan seorang pekerja dapat memenuhi semua bagian di atas?

Gaji yang “layak” untuk hidup di Jakarta

Ilustrasinya, jika seseorang lajang, pengeluaran perbulan untuk sewa kos layak Rp2,5 juta, makanan sekitar Rp2 juta, transportasi Rp800 ribu, dan kebutuhan harian seperti listrik, pulsa/kuota, dan lain-lain di angka Rp700 ribu. Total, untuk bertahan hidup saja Rp6 juta.

Kemudian, tambahkan tabungan/dana darurat sekitar Rp1,5 juta, sosial dan hiburan Rp1 juta, dan pengembangan diri Rp500 ribu. Total keseluruhan adalah kurang lebih Rp10 juta.

Ini adalah perhitungan hidup layak minimal. Belum cicilan kendaraan atau tanggungan keluarga. Sebab, kalau sudah berkeluarga dan punya tanggungan orang tua, angka ini bisa melonjak hingga Rp12 juta atau lebih.

Dari perhitungan di atas saja kita sudah bisa melihat bahwa gaji Rp8 juta itu beneran terasa nanggung. Karena bisa jadi kamu harus mengorbankan pengeluaran ideal. Bisa jadi tidak punya tabungan, tidak punya biaya untuk rekreasi atau hiburan, dan hidup dari bulan ke bulan.

BACA JUGA: Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

Memperjuangkan hidup layak

Sampai di sini, kita seharusnya tahu kalau upah minimum hanya sebagai jaring pengaman, bukan jadi patokan pendapatan untuk standar hidup yang layak. Jadi akan makin apes ketika ada yang menerima gaji di bawah upah minimum.

Maka, dari hitung-hitungan di atas, berapa gaji yang ideal untuk hidup layak di Jakarta? Jawabannya hanya bisa berdasarkan estimasi, yaitu sekitar Rp10 juta untuk hidup layak bagi seorang lajang. Dan, jauh lebih tinggi untuk seseorang yang sudah berkeluarga dan menuntut hidup yang benar-benar stabil.

Di bawah nominal itu mungkin seseorang bisa hidup, tapi belum tentu benar-benar menjalani dan menikmati kehidupan. Sayangnya nominal Rp10 juta di Jakarta adalah pendapatan yang dianggap sudah sangat besar dan sulit didapatkan oleh banyak perantau yang ada di sana.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin dan analisis finansial lainnya di rubrik CUAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: gajigaji 12 jutagaji 8 jutagaji jakartahidup layak di jakartajakartakhl jakartamerantau di jakartaUMR Jakarta
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6 MOJOK.CO

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6

27 Juli 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
cut off pertemanan. MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
Tren selebrasi di panggung wisuda seperti minta difotoin rektor ala wisudawati UINSA: mengejar atensi maya hingga pergeseran batas hierarki formal MOJOK.CO

Difotoin Rektor: Selebrasi Wisuda biar Berkesan, Atensi Maya, dan Pergeseran Batas Hierarki Formal

30 Juli 2026
jadi bridesmaid usai cut off di pernikahan mantan sahabat. MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.