ADVERTISEMENT

Rahasia Affiliate TikTok: Mahasiswa UNS modal rebahan di kosan, eh dapat 10 juta per bulan dan kebeli iPhone 16

Duit affiliate TikTok: Modal rebahan, cuan 10 juta, kebeli iPhone 16 MOJOK.CO

MOJOK.CO – Gulir TikTok berjam-jam biasanya cuma bikin kuota habis dan mata lelah. Tapi di tangan satu mahasiswa UNS ini, kebiasaan itu berubah jadi mesin uang: Rp10 juta masuk rekening setiap bulan, dan sebuah iPhone 16 kini nangkring di tangannya. Rahasianya? Affiliate TikTok.

Ada satu jenis pekerjaan yang kalau orang melihatnya dari jauh tampak seperti pengangguran. Tetapi, kalau kita mengecek mutasi rekening pelakunya, hasilnya cukup membuat kita mempertanyakan pilihan hidup. Salah satunya adalah menjadi affiliate TikTok. Saya punya teman yang menjalani pekerjaan tersebut.

Anaknya kalem dan tidak pernah pamer. Tapi suatu hari, saya melihat dia mengganti HP-nya. Bukan HP sembarangan, tapi iPhone 16.

Saya tegaskan dulu, saya tidak iri. Sungguh. Saya cuma heran. Sebagai sesama mahasiswa UNS yang dompetnya sering tinggal receh di akhir bulan, melihat teman tiba-tiba pegang iPhone itu rasanya seperti melihat kucing kampung tiba-tiba pakai kalung emas. Bukan iri, cuma pengin tahu kucingnya habis menemukan harta karun di mana.

Memang teman saya di UNS ini tergolong berkecukupan. Tapi berkecukupan dan bisa membeli iPhone tanpa sebab itu dua hal yang berbeda jauh. Karena penasaran sudah sampai ubun-ubun, saya memberanikan diri bertanya.

“Kok tiba-tiba ganti HP? Tutor dong rahasianya biar bisa ganti HP juga, HP-ku juga perlu ganti nih.”

Jawabannya ternyata sederhana. Selama ini dia bekerja sebagai Affiliate TikTok.

Tetap kudu nyambi ketika kuliah dan Affiliate TikTok jadi opsi yang menarik sebagai sambilan mahasiswa UNS

Menurut teman saya di UNS ini, kuliah sambil kerja di zaman sekarang itu susah. Jadwal kuliah bisa berubah mendadak, tugas datang tanpa permisi, dan praktikum bisa menelan seharian. 

Kerja paruh waktu di kafe atau toko biasanya punya jam yang kaku. Sementara itu, dia tidak mau kuliahnya keteteran cuma demi bisa membeli kopi saset dengan bangga.

Makanya, dia memilih menjadi Affiliate TikTok. Kerjanya cuma dari kosan, jamnya suka-suka, modalnya HP dan kuota. Pekerjaannya cuma satu, yaitu bikin video dan memposting video produk.

Kalau saya pikir-pikir, Affiliate TikTok ini pekerjaan impian anak kos. Kerja sambil rebahan, tapi rebahannya produktif.

Tentu saja saya bertanya lagi. “Cuma posting video, terus duitnya dari mana?”

Dia menjelaskan bahwa dia mem-posting produk milik brand, terutama produk kecantikan seperti skincare, makeup, sampai bodycare. Di setiap video ada keranjang kuning. Kalau ada orang yang menonton, tertarik, lalu checkout lewat keranjang itu, dia mendapat komisi.

Di sinilah saya mulai bingung. Komisi per produk sebagai Affiliate TikTok itu tidak sampai 10%. Kalau satu serum seharga Rp80 ribu laku, komisinya paling cuma Rp6 ribu sampai Rp8 ribu. Duit segitu cuma cukup buat membeli es teh dan dua gorengan. Itu pun kalau gorengannya tidak naik harga.

Tapi dari Affiliate TikTok, dia bisa mengantongi Rp10 juta lebih sebulan

Saya minta dia menghitung. Ini gambaran kasarnya, bukan angka pasti. 

Misalnya komisi rata-rata Rp6.500 per produk. Untuk sampai Rp10 juta, dia perlu menjual sekitar 1.500 produk sebulan, atau kurang lebih 50 per hari sebagai Affiliate TikTok. Kalau saya membayangkannya satu-satu, angkanya bikin jidat berkerut. Tapi kalau ribuan orang menonton videonya, 50 pembelian sehari bukan hal mustahil.

“Nggak apa-apa komisinya dikit, nanti lama-lama jadi bukit,” katanya sambil ketawa.

Saya langsung teringat pedagang ayam potong di pasar yang hidup dari margin tipis asal volumenya besar. Ternyata prinsip bisnisnya sama, hanya lapaknya pindah dari pasar ke layar HP. Kini dia menjajakan serum dan lip tint, bukan ayam. Yang bikin ayam laku itu harga dan jam jualan, yang bikin serum laku itu algoritma.

Rajin upload video TikTok dan jangan bolong

Waktu saya minta tips dai Affiliate TikTok, jawaban teman saya di UNS ini bikin saya lemas. Dia harus rutin upload, bisa sampai 10 video TikTok dalam sehari. Dan tidak boleh bolong.

Sepuluh video. Sehari. Saya sendiri kadang mau mengunggah satu Story saja sudah malas. Mikir dulu, ganti filter, hapus lagi, akhirnya tidak jadi.

Menurut dia, algoritma TikTok menyukai akun yang aktif. Semakin sering Affiliate TikTok mengunggah video, semakin besar peluang satu videonya nyantol di FYP. Kalau bolong beberapa hari, performa akun bisa turun dan dia harus membangun ritmenya dari awal lagi. Algoritma itu ternyata mirip mantan. Sekali kita cuekin, susah kembali lagi.

Logikanya sama seperti pedagang pasar. Video adalah dagangan, dan pedagang yang tidak memajang dagangannya tidak akan mendapat pembeli. Masa iya orang membeli ayam di lapak yang tutup.

Menunggu berkah FYP dan iklan dari seller

Dia bilang, penghasilannya bisa melonjak kalau videonya masuk FYP. Penontonnya meluas, penjualannya ikut naik.

Ada satu lagi yang menurutnya sering menjadi berkah buat Affiliate TikTok, yaitu seller atau pemilik brand mengiklankan videonya. Kalau seller melihat video itu berpotensi menjual, mereka bisa memakainya sebagai iklan. 

Jumlah penonton melonjak, pembelian ikut naik, dan komisinya tetap masuk ke akun dia. Kerja sekali, rezeki datang dari mana-mana. Persis seperti ketiban durian, tapi durian yang sudah matang dan siap santap.

Jadi, meski Affiliate TikTok kelihatannya santai, dia menyusun strategi membuat konten yang menarik supaya penjual meliriknya.

Affiliate TikTok kayak cuma goyang-goyang produk, tapi hook-nya sakti

Ini bagian yang bikin saya ketawa sekaligus terkagum-kagum. Jadi, saya sempat melihat video-video teman UNS saya ini sebagai Affiliate TikTok. Isinya sederhana sekali. Dia hanya menggoyang-goyangkan produk di depan kamera. 

Nggak ada akting dramatis,  nggak ada editing ala sinematografer festival. Yang membuat orang berhenti di layar adalah tulisan di atasnya, atau biasa orang menyebutnya hook.

Kalau menurut saya, itu semacam copywriting, yaitu kalimat pendek yang bikin orang berhenti menggulir layar. Biasanya kalimat itu menyentuh persoalan khas penonton. Misal, kulit kusam, jerawat, atau badan yang mulai bau lewat jam dua siang. Penonton langsung merasa, “Lho, ini aku banget.”

Ternyata orang di TikTok tidak selalu membeli karena produknya bagus. Mereka membeli karena kalimatnya membuat mereka merasa butuh. Videonya goyang-goyang doang, tapi dia memikirkan kalimat pembukanya matang-matang. Skripsi saja belum tentu semikir itu.

Tapi, apakah semudah itu?

Setelah mendengar semua ini, godaan untuk bilang “wah gampang ya jadi Affiliate TikTok” memang besar. Saya hampir langsung membuka aplikasi, memegang botol sabun di kamar mandi, dan mulai merekam.

Tapi saya harus jujur. Yang kelihatan gampang ini sebenarnya melelahkan. Bayangkan, dia membuat konten tiap hari, sampai 10 video, sambil mengerjakan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa UNS, dan mengejar dosen pembimbing.

Belum lagi tidak semua videonya laku. Ada video yang cuma meraih belasan penonton, dan salah satunya pasti akun dia sendiri. Angka Rp10 juta itu juga bukan gaji tetap. Penghasilannya bisa naik saat tanggal kembar atau tanggal gajian, dan bisa anjlok saat pasar sepi.

Dan angka itu masih omzet komisi kotor. Dia belum menghitung biaya paket data, ring light, tripod, sampai waktu dan tenaga yang tidak kecil. Jadi, ya, bukan sulap. Ini kerja, hanya saja kerjanya memakai kamera.

Tips buat yang mau ikut jalan Affiliate TikTok

Dari cerita teman saya, ada beberapa pegangan awal.

Pertama, pilih niche yang dekat dengan diri sendiri. Teman saya memilih niche kecantikan karena pasarnya besar dan pembelinya rutin belanja, bukan karena kebetulan dia jago dandan.

Kedua, rutin mengunggah video dan jangan bolong. Konsistensi adalah modal utama.

Ketiga, belajar bikin hook. Satu kalimat pembuka bisa menentukan orang menonton videonya atau melewatkannya begitu saja.

Keempat, jangan patah semangat kalau komisi terasa receh. Bisnis Affiliate TikTok bermain di volume, bukan di nominal per produk.

Setelah mendengar semuanya, saya sadar bahwa iPhone 16 di tangan teman UNS saya itu bukan hasil keberuntungan semata. Itu buah dari ribuan kali menggoyangkan produk di depan kamera, dari ratusan kali memutar otak demi satu kalimat hook, dan dari konsistensi yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.

Saya lalu punya satu kesimpulan. Rezeki memang bisa datang dari mana saja, asal kita mau mengunggah video duluan. Dan mungkin, asal kita tidak terlalu malas bikin satu Story saja.

BACA JUGA Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2026 oleh .

Alifia Putri Nur Rochmah

Mahasiswa Ekonomi Pembangunan yang percaya hidup terlalu aneh untuk tidak dituliskan.