ADVERTISEMENT

Cuan 8 juta per bulan dari kerja sampingan jadi micro influencer bikin UMR Jogja yang tiarap itu full minder

Cuan 8 juta per bulan jadi micro influencer, UMR Jogja full minder MOJOK.CO

MOJOK.COSecara hitungan kasar, per bulan, kamu bisa dapat Rp8 juta dari profesi micro influencer! Bikin UMR jogja full minder.  

Sejak bekerja sebagai marketing di sebuah coffee shop, salah satu pekerjaan yang cukup sering saya lakukan adalah mencari micro influencer. Setiap bulan pasti selalu ada kebutuhan untuk mendatangkan orang baru, membuat konten baru, dan mengenalkan coffee shop kepada calon pengunjung. 

Biasanya saya mencari mereka lewat TikTok. Saya melihat konten-kontennya, memperhatikan niche dan engagement-nya, lalu menghubungi mereka untuk menawarkan kerja sama.

Dari pekerjaan itu, saya jadi bertemu cukup banyak micro influencer. Ada yang baru mulai, ada yang sudah lumayan sering menerima tawaran visit, banyak juga yang ternyata jadwalnya sudah cukup padat. 

Dari orang-orang yang saya temui ini, saya justru melihat satu hal yang menurut saya menarik. Menjadi micro influencer ternyata bisa menjadi pekerjaan yang lumayan menghasilkan.

Cuan dari karier sebagai micro influencer

Saya pernah bertanya kepada salah satu micro influencer yang datang ke coffee shop. “Kenapa setelah selesai membuat konten dia terkesan buru-buru ingin segera pergi? Apakah dia tidak nyaman dan tidak puas dengan coffee shop kami?” 

Ternyata dia masih punya jadwal visit di tempat lain. Oh. Berarti setelah dari coffee shop kami, dia masih harus pergi ke tempat berikutnya untuk membuat konten lagi.

Dari situ saya baru melihat aktivitas micro influencer ini sebagai pekerjaan, bahkan karier. Ia bukan sekadar kegiatan sampingan yang masuk dalam kategori kesenangan ketika sedang ingin nongkrong atau mencoba tempat baru. 

Kalau satu visit mendapat bayaran Rp200 ribu dan dalam sehari ada dua visit, berarti ada Rp400 ribu dalam sehari. Kalau pola seperti ini dia lakukan lima hari dalam seminggu, sudah Rp2 juta. 

Kalau empat minggu, secara hitungan kasar bisa mencapai Rp8 juta. Nyaris 3 kali lipat UMR Jogja! Wow! Saya juga tergiur kalau begini. 

Rata-rata rate card para micro influencer yang saya temui dengan engagement yang sebetulnya nggak begitu besar itu antara Rp100 sampai Rp300 ribu. Menurut hemat saya, angka ini lumayan.

Namun, tentu saja angka itu bukan pendapatan pasti. Barangkali tidak semua visit mendapat bayaran. Ada beberapa konten yang dapat bayaran dengan metode barter produk, tidak setiap hari ada dua jadwal, dan masih ada ongkos transportasi, waktu mengambil footage, editing, revisi, sampai waktu untuk berkomunikasi dengan brand

Tetapi, angka itu tetap membuat saya tergugah: Wow! Ternyata pekerjaan yang berangkat dari kesenangan dan bermodal utama akun dengan followers yang tidak terlalu banyak, tetapi kalau dikerjakan dengan serius bisa menghasilkan uang yang lumayan.

Kenapa banyak brand lebih suka micro influencer?

Di lain hal, saya sebenarnya juga paham betul kenapa bisnis F&B cukup banyak menggunakan jasa KOL micro influencer ketimbang macro. Sebagai marketing secara perseorangan, saya tentu merasa senang kalau bisa membayar influencer besar dengan potensi winning kontennya ramai lebih besar. 

Masalahnya, budget marketing tidak otomatis ikut membesar hanya karena kita ingin bekerja sama dengan influencer. Yang punya followers besar itu juga punya rate card yang besar pula. 

Bahkan akun dengan followers di bawah 100 ribu saja bisa memiliki rate card sampai sekitar Rp1 juta bahkan lebih. Semua tergantung performa akun dan jenis pekerjaan. 

Untuk bisnis F&B skala kecil sampai menengah, mengeluarkan uang sebanyak itu untuk satu orang tentu perlu pertimbangan berkali-kali. Sedangkan dengan budget yang sama, saya bisa memilih bekerja sama dengan beberapa micro influencer. Misalnya Rp200 ribu untuk lima orang. 

Hasilnya memang tidak selalu pasti. Bisa saja dari lima orang tersebut tidak ada satu pun yang kontennya benar-benar ramai. Bisa juga justru ada satu video yang performanya jauh lebih bagus daripada yang lain. 

Namun, bagi bisnis dengan budget terbatas, membagi risiko ke beberapa micro influencer kadang terasa lebih masuk akal. Yah, mempertaruhkan seluruh budget kepada satu akun itu berisiko.

Konten yang natural itu punya daya tarik

Ada alasan lain kenapa micro influencer menarik untuk bisnis F&B. Konten mereka terasa lebih natural. Mereka datang, mencoba makanan atau minuman, mengambil video, kemudian mengunggahnya dengan gaya konten yang memang sudah biasa mereka buat. Tidak selalu terasa seperti sedang melihat materi iklan dari sebuah brand.

Oleh karena itu, followers yang belum mendapatkan angka K atau M di belakang jumlah followers-nya tidak otomatis membuat sebuah akun tidak punya nilai jual. Selama niche-nya jelas, kontennya konsisten, engagement-nya masuk akal, dan audiens-nya relevan, akun tersebut sudah bisa menarik perhatian brand.

Mengenal metode barter 

Nah, kalau setelah ini kamu tertarik untuk mencoba hal ini dan muncul pertanyaan: “Lalu bagaimana kalau belum pernah mendapatkan paid campaign?” Salah satu pintu masuknya bisa dari barter. 

Banyak coffee shop, konser, atau bahkan penerbit buku yang justru secara terang-terangan mencari orang untuk sedia ngontenin produk/jasa mereka yang dibayar dengan produk/jasa gratis. Itu yang namanya barter.

Kamu tinggal datang ke coffee shop, mendapatkan makanan atau minuman gratis, lalu membuat konten. Mendapat tiket konser, membuat konten. Mendapat buku, membuat ulasan. Datang ke galeri atau tempat wisata, kemudian membuat konten. 

Lewat kerja sama seperti itu, lama-lama kita punya portofolio. Dari sini kamu bisa mulai menawarkan portofolio kepada brand yang sesuai dengan ciri khas akunmu. 

Hal ini juga kerap saya temui di coffee shop yang saya kelola. Sering micro influencer menawarkan jasa mereka dengan melampirkan portofolio langsung di DM Instagram. Baik itu yang sudah punya rate card, maupun yang belum.

Brand lain yang melihat akun tersebut juga punya alasan untuk percaya bahwa pemiliknya memang bisa membuat konten. Setelah beberapa kali barter, bukan tidak mungkin mulai ada tawaran berbayar. Rate-nya mungkin masih Rp100 ribu, kemudian Rp200 ribu, lalu meningkat lagi tergantung akun dan jenis pekerjaan.

Micro influencer bisa jadi sampingan yang menguntungkan

Saya rasa bagian paling menarik dari menjadi micro influencer justru ada di sini. Kita tidak harus langsung menjadikannya pekerjaan utama. 

Kalau memang suka membuat konten dan punya satu bidang yang sering dibahas, aktivitas yang awalnya cuma dilakukan karena hobi bisa pelan-pelan bisa menjadi portofolio. 

Suka makanan, bikin konten makanan. Cinta buku, bikin konten buku. Hobi datang ke konser, bikin konten konser. Suka jalan-jalan, bikin konten tempat. Tidak harus menunggu punya puluhan ribu followers terlebih dahulu.

Toh, dari sisi saya sebagai marketing F&B, setiap bulan memang ada kebutuhan untuk mencari orang-orang seperti itu. Begitu pula dengan brand lainnya. 

Saya yakin betul, pasar untuk jasa semacam ini selalu ada. Selama masih ada coffee shop, restoran, hotel, konser, penerbit, galeri, tempat wisata, dan berbagai bisnis lain yang membutuhkan orang untuk memperkenalkan produknya kepada audiens tertentu, akan selalu ada kebutuhan terhadap micro influencer.

Jadi kalau sekarang ada yang punya akun dengan followers beberapa ribu, mungkin tidak ada salahnya mulai melihatnya sebagai salah satu kemungkinan cuan. Barangkali dari satu konten barter, kemudian satu paid visit, lalu dua visit dalam sehari, langkah tersebut perlahan bisa berubah menjadi sesuatu yang menghasilkan. Apalagi apabila kontenmu adalah sesuatu yang kamu senangi. 

Quotes yang pernah saya dengar dari abang saya ini jadi bisa relate: “Sebaik-baiknya pekerjaan adalah hobi yang menghasilkan uang.”

Saya sendiri akan tetap membuka TikTok bulan depan dan mencari micro influencer lagi. Dan mungkin saja, orang yang saya cari berikutnya adalah seseorang yang hari ini masih merasa akunnya terlalu kecil untuk menghasilkan uang, atau kamu yang justru kepikiran buat ngontenin kafe langganan WFC-mu setelah ini.

BACA JUGA 4 Pekerjaan Sampingan Paling Cuan di Jogja yang Wajib Mahasiswa Tahu dan artikel inspiratif lainnya di rubrik CUAN.

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Lailatul Fadhilah Jamil

Perempuan umur 20 tahunan yang suka seni dan sastra. Sembari mencari jati diri, berkeseharian di Laman Coffee, Art, and Books sebagai sosok penglaris.