Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Menghadapi Calon Mertua yang Sangat Menginginkan Menantu PNS

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
22 Februari 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Dear Mas Agus,

Saya wanita, pekerja startup di ibu kota Jawa Tengah yang kerjaannya cuma nulis konten sesuai permintaan client. Penghasilan saya ga gede-gede amat, ga punya uang tunjangan juga. Tapi alhamdulilah selalu hidup berkecukupan. Oke, masuk ke inti cerita ya mas.

Saya punya calon mertua, yang sepertinya bercita-cita menginginkan menantu yang berseragam kantoran alias PNS. Saya selalu saja disindir mengapa saya tidak ikut tes CPNS atau tes-tes lainnya yang bersangkutan dengan PNS. Sebelum saya bekerja sebagai anak startup, saya sudah mencoba tes sana sini BUMN atau kantor-kantor besar lainnya… Tapi, namanya belum rezeki ya saya belum bisa mendapatkan hal tersebut. Dengan cara lain saya mencari cara agar bisa mendekatkan diri dengan mertua, saya penuhi keinginan mereka yaitu merantau ke Semarang tempat pacar dan mertua saya tinggal. Saya berfikir dengan begini saya sudah bisa mengambil hati mereka, tetapi masih saja…. Saya dipandang sebelah mata.

Hiks, sedih. Aku yo kudu piye…

Padahal pacar saya yaa sama seperti saya, pegawai startup bedanya dia sudah status Leader. Padahal orang tua saya yaa sudah terima-terima saja saya kerja dimanapun asal halal dan bisa bertaggung jawab dengan diri sendiri. Karna embel-embel PNS tersebut saya dan pasangan saya semacam takut untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, karna saya takut mertua saya belum bisa menerima saya yang belum ada apa-apanya ini.

Segitu dulu curhatnya mas, panjang ya… iya saya soalnya suka yang panjang-panjang ceritanya… Menurut mas Agus saya harus gimana ya? Saya jadi pesimis gitu mas….

~Des

 

Jawab

Dear, Des.

Begini. Saya meyakini bahwa setiap pekerjaan itu sejatinya memang sawang-sinawang. Apa pun itu. Pekerjaan setinggi apa pun, serendah apa pun.

Setiap pekerjaan punya sisi lebih dan kurangnya. Tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Sayangnya, banyak orang yang hanya memandang dari hanya satu sisi saja. Kita semua mungkin mengira bahwa bekerja di pertambangan minyak lepas laut adalah pekerjaan yang keren dan menjanjikan banyak uang, tapi kita kerap luput bahwa ada konsekuensi atas banyak uang tersebut, misal harus bersedia jauh dari keluarga, tidak bisa mengisi waktu luang sambil ngopi-ngopi santuy di kafe, tidak bisa futsal (lagian di lepas laut, mau futsal sama siapa? satpam istana laut selatan?), dan sederet konsekuensi-konsekuensi lainnya.

Begitu pula dengan pekerjaan lain. Kita mungkin menganggap enak sekali jadi dokter bedah sebab uangnya banyak, tapi kita tak pernah terpikir betapa ia selalu menghadapi pergolakan batin yang dahsyat tiap kali ia gagal menyelamatkan hidup pasien.

Kita bahkan mungkin menganggap enak pekerjaan dukun santet yang tinggal ngirim paku, kawat, dan alat perkakas lainnya doang bisa dapat duit, tanpa kita memperhitungkan bahwa ada risiko paku dan kawan-kawannya itu punya potensi kembali ke perut si dukun kalau ternyata korbannya nggak terima trus order santet ke dukun yang lebih sakti dan punya jam terbang yang lebih tinggi.

Nah, kembali ke pokok kasus ini Sampeyan ini, kita perlu mem-break down, apa sisi lebih dari PNS yang membuat calon mertua Sampeyan itu begitu menginginkan menantu seorang PNS.

Iklan

Caranya gimana? Tentu saja lewat kekasih Sampeyan. Jangan lewat dukun, kasihan, dia baru saja kena santet balik. Suruh kekasih Sampeyan ngobrol sama orangtuanya untuk memancing pembicaraan, kenapa orangtuanya sangat menyukai profesi PNS.

Dari situ, nanti Sampeyan bisa mengambil tindakan lanjut yakni memberi pengertian mertua Sampeyan tentang apa saja sisi kurang PNS, dan apa saja keunggulan pekerjaan Sampeyan saat ini. Kalau perlu, terangkan beberapa sanggahan tentang pandangan mertua Sampeyan akan PNS. Kalau tidak secara langsung, sekali lagi, bisa melalui kekasih Sampeyan.

Misal, mertua Sampeyan ternyata sangat menginginkan menantu PNS karena ada jaminan penghasilan yang lebih meyakinkan, maka mertua Sampeyan harus diberi pengertian bahwa PNS jaman sekarang tidak seperti dulu, misalnya, atau PNS gajinya tidak sebesar seperti yang dipikirkan oleh banyak orang.

Mertua Sampeyan juga perlu diberi pengertian tentang keunggulan pekerjaan Sampeyan, misal pekerjaan Sampeyan menjanjikan waktu luang yang lebih fleksibel, sehingga kalau ada urusan keluarga mendadak, izinnya bisa lebih mudah. Atau pekerjaan Sampeyan mampu menjanjikan kolaborasi proyek dengan kekasih sekaligus calon suami Sampeyan nantinya.

Mertua Sampeyan perlu tahu tentang betapa kerennya pekerjaan Sampeyan. Betapa hebatnya pekerjaan Sampeyan (walau kalau dari deskripsi Sampeyan, kelihatannya nggak ada hebat-hebatnya).

Saya pikir, itu cara terbaik untuk bisa mengubah pandangan mertua Sampeyan akan sebuah pekerjaan.

Saya tak tahu, cara tersebut bisa berhasil atau tidak. Kalau berhasil, Alhamdulillah. Kalau tidak berhasil, ya mau bagaimana lagi. Tugas saya kan memang cuma ngasih nasihat, bukan ngasih solusi.

Lagipula, saya saat ini sudah punya mertua, jadi rasanya nggak elok kalau saya terlalu banyak ngurus mertua orang lain ketimbang mertua sendiri.

~Agus

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2020 oleh

Tags: menantumertuaPNS
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.