Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Kebimbangan Akan Ketidaknyamanan Bekerja di Perantauan

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
18 Januari 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Mas, Mbak, tolong dengarkan curhat saya~

Sebut saja nama saya Puspa. Umur saya sekarang 22 tahun. Setelah lulus kuliah pada bulan Maret tahun lalu, saya merantau ke Negeri Sakura buat jadi TKW. Pekerjaan saya tidak sangat baik, tapi juga tidak sangat buruk, biasa-biasa saja. Saya bekerja di sebuah hotel di daerah yang kalau untuk wisata memang oke banget. Tapi kalau untuk ditinggali, apa apa jadi repot. Iya, repot, soalnya saya tidak punya kendaraan pribadi jadi harus mengandalkan kedua kaki dan transportasi umum. Supermarket terdekat tutup jam 6 sore. Convenience store terdekat 15 menit jalan kaki. Kalo laper malem-malem pengen jajan takut jalan sendiri soalnya sering ada babi hutan berkeliaran.

Lingkungan tempat tinggal yang terlampau nggunung, jauh dari keluarga dan sahabat, ketiadaan teman sambat yang bisa sering ditemui ini ternyata bikin saya stres. Saya sempat tidak bisa tidur, tidak nafsu makan, bahkan sampai dada sakit beberapa kali saking banyaknya pikiran. Hingga suatu hari saya berpikir, bagaimana kalau saya pindah ke ibu kota (ibu kotanya sini tapi ya bukan Jakarta) saja? Banyak teman-teman saya di sana, kalau stres setidaknya ada teman untuk bersambat ria.

Sekarang saya sedang dalam proses lirik-lirik dan cari lowongan pekerjaan yang bisa bawa saya pindah ke ibu kota. Tapi kemudian saya dilanda kegalauan hebat. Saya tahu yang namanya hidup pasti akan ada masalah, akan ada hal yang nggak srek, lalu saya takut. Bagaimana kalau setelah pindah ternyata sama saja menderitanya? Saya belum pernah tinggal di ibu kota, tapi saya yakin pasti biaya hidup lebih mahal.

Apakah ini quarter life crisis? Apakah saya yang kebanyakan mikir? Apakah ini hanya cobaan sesaat? Susah amat sih jadi orang dewasa.

Tolong bantu saya yang buntu!

~Puspa

 

Jawab

Begini, Puspa. Langsung saja, Ya.

Pepatah barat mengatakan, Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life. Ini pepatah yang tampaknya memang indah, tapi sayangnya, tidak banyak orang yang beruntung untuk bisa mencintai pekerjaannya, atau segala hal yang menyertainya.

Yang namanya bekerja itu kodratnya memang harus ada penderitannya harus ada kepayahannya. Kalau nggak ada penderitaannya, itu namanya bukan bekerja, tapi melakukan hobi dan dibayar. Apalagi kerjanya di perantauan. 

Nah, ukuran penderitaan dalam bekerja ini masing-masing tentu saja berbeda. Dalam kasusmu, penderitaan dalam pekerjaanmu adalah lingkungan tinggal Anda. Kamu merasa tidak betah tinggal di lingkungan yang menurutmu sangat tidak ideal.

Saya nggak tahu berapa gajimu bekerja di hotel di daerah yang kamu anggap nggunung itu, tapi yang jelas, itu adalah nilai yang harus kamu tebus untuk tinggal di lingkungan yang ternyata banyak celengnya itu.

Saran saya, hal yang penting untuk kamu pikirkan adalah menentukan prioritas. Maksudnya gini, kalau niat kamu kerja di Jepang memang untuk mengumpulkan uang untuk kemudian dibawa pulang agar bisa dibikin modal usaha, maka ya betah-betahin saja kerja di nggunung itu. Kamu harus bisa bersiasat. Nggak punya teman, ya carilah teman. Takut laper tengah malam, ya nyetok  ramen instan atau roti atau bahan makanan lain. Sudah transportasi, ya coba beli sepeda. Pokoknya pikirkan bagaimana caranya bersiasat.

Iklan

Jangan-jangan ketidakbetahanmu itu memang karena kamu belum bisa beradaptasi. Lha nyatanya orang-orang sana betah-betah saja kan? Kamu dan penduduk di sana kan yo tinggal di daerah yang sama, dengan bahasa yang sama, bahkan dengan risiko celeng yang sama. Bedanya, mereka lebih dulu beradaptasi dengan baik, sedangkan kamu belum.

Nah, kalau prioritas kamu ternyata adalah mencari pengalaman, atau bahkan ingin melanjutkan hidup di Jepang, atau malah pengin nikah sama orang Jepang sana, maka ya cari lingkungan yang kamu merasa hidupmu nyaman. Di Kota, misalnya.

Kalau ternyata biaya hidupnya jauh lebih mahal, ya wajar tho, itulah harga yang harus kamu tebus untuk kenyamanan itu. Harga yang harus kamu tebus untuk mendapatkan akses transportasi yang lebih mudah. Harga yang harus kamu tebus untuk menurunkan kekhawatiranmu akan dikejar celeng.

“Kalau setelah pindah di kota ternyata sama-sama menderita, gimana?”

Ya, itulah pilihan. Setidaknya Itulah konsekuensinya. Sama-sama menderita, tapi kalau ada temennya, kan lebih enak tho?

Satu hal yang pasti, menyesal karena sudah melakukan satu hal itu jauh lebih melegakan ketimbang menyesal karena tidak melakukan apa-apa.

~Agus Mulyadi

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2020 oleh

Tags: Jepangkerjaperantauan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)
Pojokan

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Makin ke sini pulang merantau dari perantauan makin tak ada ada waktu buat nongkrong. Karena rumah terasa amat sentimentil MOJOK.CO
Ragam

Pulang dari Perantauan: Dulu Habiskan Waktu Nongkrong bareng Teman, Kini Menghindar dan Lebih Banyak di Rumah karena Takut Menyesal

12 Desember 2025
Mitos kerukunan di desa bikin warga desa ingin merantau jauh dan hidup individualistik di perantauan demi hidup tenang MOJOK.CO
Ragam

Mitos Kerukunan dan Hidup Ayem di Desa: Aslinya Penuh Kepalsuan, Baik di Depan tapi Busuk di Belakang

11 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
4 jenis orang/pengendara yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya dan dipersulit bikin SIM. Biang kecelakaan lalu lintas MOJOK.CO

4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang

2 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.