Perhiasan Terakhir dan Pintu-Pintu yang Telah Tertutup

Baca cerita sebelumnya di sini.

Sejak otaknya dapat menyimpan memori, tak sekali pun Larasati pernah mengingat bapak dan ibunya memberi pujian padanya. Tidak untuk kepintaran, kepatuhan, apalagi kecantikannya. Larasati tumbuh menjadi gadis yang lebih banyak diabaikan dan dicaci maki.

Tentu saja bukan salah Larasati jika wajahnya sedemikian kelabu. Garis matanya menurun ke tepi, hidungnya membulat, dan bibir tebalnya cenderung melengkung ke bawah. Saat tersenyum pun, wajah Larasati akan tetap terlihat seperti wajah penggerutu.

Garis-garis tak ramah itu ia dapatkan dari perpaduan raut bapak ibunya, tentu saja. Agak mengherankan mengapa yang ia warisi justru lekuk dan garis yang demikian. Padahal adiknya, yang meski tidak amat tampan, terlihat agak mendingan dibanding dirinya.

Bercermin bukanlah kegiatan yang disenanginya lantaran ia sendiri pun enggan memandang wajahnya lama-lama. Ia tidak bersolek, memerah-merahi pipi, atau melukis alis. Bedak dan lipstik tipis saja yang ia pakai tiap hari atas tuntutan pekerjaan. Perawatan yang berkaitan dengan wajahnya hanyalah cuci muka dan mengobati jerawat. Dan itu lebih karena rasa nyaman, bukan kecantikan.

Namun Larasati menyukai tangannya. Jemarinya panjang-panjang dan berkuku oval dengan lengkung yang indah. Meski cenderung gelap, warna itu tidak menimbulkan kesan kotor pada kulit tangannya. Telapak tangannya sedikit kasar dan berotot karena ia gunakan untuk bekerja tiap hari. Tapi, itu tak sampai membuatnya tampak seperti tangan kuli. Pendek kata, Larasati memiliki tangan yang cantik.

Ketika pintu triplek tipis kamarnya tertutup dan Larasati sendirian di kamar, maka saat itu sebuah dunia berbeda tergelar di sana. Larasati akan mengusap-usap tangannya menggunakan krim murahan yang ternyata cukup ampuh melembutkan kulitnya. Ia akan mengikir kukunya yang sengaja ia potong sedikit lebih maju dari garis lepas kuku, tapi tidak tampak mencolok panjangnya. Setelah itu, jemari tangan kirinya akan ia pasangi sebuah cincin. Gelang rantai tipis juga ia kenakan.

Jika kebanyakan perempuan menyukai swafoto wajahnya, Larasati sangat gemar memotret tangan kirinya. Berbagai pose dan sudut pandang tangannya memenuhi galeri penyimpanan gambar di telepon genggamnya.

Pada saat seperti itulah Larasati merasa bahagia.

***

Larasati selalu mengatakan bahwa gajinya tak pernah tersisa tiap bulan. Ia bahkan tak bisa membeli banyak hal untuk memanjakan dirinya. Tapi suatu ketika, ia mendapat bonus gaji tahunan yang jumlahnya lumayan. Entah mengapa, sebuah keinginan berkelebat tiba-tiba. Ia ingin membeli perhiasan emas untuk dikenakan di tangannya. Pilihan pertamanya jatuh pada sebuah cincin kecil bermata cemerlang. Itu adalah perhiasan pertama yang pernah ia miliki selama ini. Sebuah pilihan yang membawa banyak perubahan dalam hidup Larasati.

Sejak punya cincin, Larasati menjadi seorang gadis yang rajin mematut diri meski yang ia patutkan hanyalah tangannya. Saat melihat tangannya, Larasati merasa cantik. Sebuah perasaan yang jarang sekali singgah di benaknya.

Bonus gaji tahun berikutnya ia gunakan lagi untuk membeli gelang rantai tipis dengan hiasan batu warna-warni. Kemudian tahun depannya lagi, ia membeli kalung dan sebuah liontin. Kalung ini sebenarnya tidak begitu ia sukai karena memakainya tak membuat Larasati sebahagia ketika memakai cincin dan gelang. Tapi ia tetap menyimpannya.

Ketiga perhiasan itu menjadi rahasia Larasati. Begitu keluar kamar, ia tak pernah menganggap perhiasan itu ada. Ia menyimpannya sangat rahasia di bagian paling tersembunyi kamarnya. Uang yang ia gunakan untuk membeli perhiasan itu tak pernah lagi ia hitung sebagai miliknya yang bisa digunakan kembali.

Hanya satu buah cincin belah rotan sederhana yang ia beli, ia tampakkan tiap hari. Cincin itu sudah beberapa kali diminta ibunya dengan kata “pinjam” dan berakhir di meja pegadaian. Entah berapa uang yang berhasil ibunya bawa pulang dengan selingkar cincin sederhana itu. Setiap kali ibunya memasukkannya ke pegadaian, beberapa bulan berikutnya selalu Larasati yang menebusnya sendiri.

“Ibu perlu menggenapi setoran gamis, Ras. Pinjam cincinmu sebentar, lah…. Bulan depan ibu kembalikan lagi,” pinta ibunya.

Larasati sudah sangat hafal kalimat itu, juga kalimat dan kejadian berikutnya ketika tanggal jatuh tempo gadai tiba.

“Belum ada uang untuk menebusnya. Uang dagangan kemarin sudah habis semua ibu jadikan modal lagi. Kalau kamu punya uang, tebuslah dulu dengan uangmu.”

Selalu begitu.

***

Malam itu, sepulangnya dari rumah Bulik Sarah, Larasati merenung lama sekali. Sampai hampir pagi, ia tak juga memejamkan mata. Perhiasan-perhiasan rahasianya ia keluarkan semua. Ia timang-timang seperti sebuah benda rapuh yang harus diperlakukan dengan sangat lembut. Ia bersihkan satu per satu, lalu ia kenakan dengan sangat hati-hati. Larasati mematut diri di depan cermin, memandang tangannya yang cantik, serta seluruh tubuhnya yang entah kapan terakhir kali ia perhatikan betul lekuk dan detailnya.

Sebetulnya ia tak buruk-buruk amat jika tersenyum lebih lebar dan lama. Ia jarang sekali tersenyum karena hampir tak pernah menemukan alasan apa pun untuk melakukannya. Bercanda dengan Nurin pun sering kali tak membuatnya tersenyum karena candaan mereka sering kali terasa getir.

“Ras, berlatihlah menertawakan diri sendiri. Tidak perlu terlalu merasa kasihan pada nasibmu. Temukan hal lucu dari kemiskinan kita, dari keterbatasan kita, dari kesialan-kesialan kita. Pasti ada!” Nurin pernah berkata demikian saat Larasati mengeluh panjang lebar tentang nasibnya.

Tapi lain waktu, gantian Nurin yang mengeluh dan tak merespons candaan Larasati. Ternyata mereka berdua tidak sedang butuh saling menghibur dan menguatkan. Mereka hanya butuh saling mengeluh dan mendengar.

Larasati mengajak bicara bayangannya di dalam cermin. Pada bayangannya sendiri ia menceritakan semua kegundahan hatinya. Ia meraih cermin seolah mengusap pipinya sendiri untuk menenangkan.

Puas bercermin, Larasati lantas berbaring dan mencopoti semua perhiasannya. Ia letakkan semuanya di atas kertas tisu putih yang lembut. Dipandanginya lama-lama sambil sesekali diusap penuh rasa cinta.

Perhiasan-perhiasan itulah satu-satunya yang membuat dirinya merasa cantik. Meski mereka dingin dan bisu, Larasati mendengar segala pujian untuk dirinya melalui denting lembut saat perhiasan-perhiasan itu saling menyentuh. Pujian yang tak pernah ia dapatkan dari manusia-manusia bermulut, ia dapatkan dari logam-logam berkilau.

Sampai jauh malam, ia masih terus menatap semuanya. Sehancur apa pun hatinya oleh perlakuan bapak dan ibunya, Larasati tetap menyisakan cinta untuk mereka. Perhiasan itu adalah kecintaannya. Ia akan menyerahkannya pada Gayatri.

Penyerahan itu bukan bentuk rasa percaya. Larasati sama sekali tidak percaya Gayatri akan mengembalikannya. Bahkan niat pun mungkin tak ada. Saat perhiasannya dilepas, maka Larasati sudah menganggap semuanya hilang.

Setelah ini, entah akan bagaimana lagi ia menjalani hidupnya. Semuanya makin memburuk. Keluarganya sudah terlalu dalam masuk dalam belitan masalah. Pintu-pintu sudah tertutup. Kesempatan dan kepercayaan dari orang lain sudah hampir mustahil bisa mereka dapatkan lagi.

Hidup mereka di ujung tanduk.

Baca cerita berikutnya di sini.

Exit mobile version