Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Tak Perlu Menjadi Indigo Untuk Meraba 5 Mitos Piala Dunia Ini

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
9 Mei 2018
A A
Tak Perlu Menjadi Indigo Untuk Meraba 5 Mitos Piala Dunia Ini
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Meraba mitos Piala Dunia bisa menjadi pekerjaan yang berat, tapi juga ringan. Tak perlu menjadi anak indigo untuk melakukannya.

Personel Mojok Institute duduk bersila dengan tenang di sebuah ruangan. Agak remang karena lampu ruangan itu sudah hampir mati. Dua matanya setengah menutup, seperti tengah bersemadi dengan khusyuk. Sebuah laptop berlogo apel kroak, masih baru, kredit belum lunas, tengah menyala di atas pangkuannya.

Tiba-tiba. Sebuah ide datang berkelabat. Ide ini membawa 5 mitos Piala Dunia yang perlu untuk dituliskan. Personel Mojok Institute ini perawakannya kurus kering seperti anak cacingan, gigi agak maju dengan peta-peta calon behel yang sudah terlihat, janggut yang cuma beberapa helai itu menjuntai manja, dan sepiring jengkol mentah, camilan kesukaannya, yang ada di sebelahnya, belum ia sentuh.

Ternyata, tak perlu menjadi indigo untuk merangkum 5 mitos Piala Dunia ini. Ia berbekal sebuah laptop dan mesin pencarian.

Ketika ide ini datang, badannya bergetar seperti kerasukan. “Saya izin memanggil embah,” gumamnya. “Silakan!” kata temannya si tukang gambar Fansuri, stuntman Wiro Sableng, menyahut. Personel Mojok Institute ini kembali bergetar. Ia memanggil si embah. Embah Google.

Ia bukan anak indigo. Ia anak perkusi dan kendang. Yang tega melantunkan “Suket Teki” di jam 3 pagi menjelang sahur ketika teman-temannya tengah lembur. Tapi ia bisa meraba mitos-mitos ini. Sungguh pemandangan yang mengerakan. Inilah 5 mitos yang dirangkum oleh si bukan anak indigo ini.

1. Juara Piala Konfederasi selalu gagal di Piala Dunia.

Piala Konfederasi adalah turnamen pemanasan yang digelar satu tahu sebelum Piala Dunia sepak mula. Pesertanya adalah negara-negara yang menyandang gelar juara di kompetisi masing-masing benua. Mulai dari juara Piala Asia, Piala Afrika, Piala Eropa, juara Piala Emas CONCACAF, juara Copa America, juara Piala Oseania, Juara Piala Dunia, dan tuan rumah Piala Dunia.

Ada satu mitos terkait negara yang menjadi juara Piala Konfederasi yaitu ia yang menjadi juara, biasanya bakal gagal total di Piala Dunia satu tahun kemudian.

Personel Mojok Institue, “si bukan anak indigo” ini, membuat catatan bahwa Brasil dan Prancis pernah gagal total di Piala Dunia setelah menjuarai Piala Konfederasi. Prancis memenangi piala ini pada tahun 2001, untuk kemudian menderita di Piala Dunia 2002.

Sementara itu, Brasil lebih mengenaskan. Tim Samba ini memenangi 4 gelaran Piala Konfederasi (1997, 2005, 2009, dan 2013), untuk kemudian gagal berprestasi di 4 Piala Dunia (1998, 2006, 2010, dan 2014). Bahkan, pada tahun 2014, sebagai tuan rumah, Brasil dibantai Jerman dengan skor 1-7. Sungguh mengerikan.

2. Inggris tak akan pernah juara Piala Dunia lagi.

Personel Mojok Institue “si bukan anak indigo” ini agak sedih ketika meraba mitos bahwa Inggris, tim favoritnya, tidak akan pernah menjadi juara Piala Dunia lagi. Mengapa?

Ketika menjadi juara pada tahun 1966, Inggris dituduh curang. Ketika itu partai final melawan Jerman Barat. Sebuah serangan dari tim Inggris berujung gol yang dicetak atas nama Geoff Hurst. Ketika wasit meniup sangkakala, ah maaf, maksud saya, peluit, pemain-pemain Jerman Barat melakukan protes. Tenang, mereka tidak turun ke jalan-jalan sambil membakar ban bekas dan pos polisi.

Tim Jerman Barat melakukan protes karena bola belum melewati garis gawang. Protes itu tidak digubris oleh wasit. Konon, dukun dari Jerman Barat yang tak terima timnya kalah menjatuhkan kutukan bahwa Inggris tidak akan pernah juara Piala Dunia lagi. Dan hingga Piala Dunia 2014, Inggris tak pernah lolos ke babak final.

3. Mitos kutukan peringkat ketiga Piala Dunia.

Selain juara Piala Konfederasi, sebuah mitos kutukan juga menghinggapi negara yang berhasil menjadi peringkat ketiga di Piala Dunia. Sudah juara ketiga, kena mitos pula. Mending kayak Indonesia, enggak pernah kena mitos. Kebal? Ya embuh.

Iklan

Daftar negara yang kena kutukan peringkat ketiga ini cukup panjang dan penuh dengan drama. Beruntung, “si bukan anak indigo” ini merangkumnya untuk kita semua.

Dimulai dari Italia tahun 1990, gagal ketika adu penalti di partai final melawan Brasil di 1994. Masih ingat tendangan penalti Roberto Baggio yang melambung tinggi? Ditengarai bola hasil sepakan Baggio itu belum mendarat kembali ke bumi.

Lalu, Turki yang membuat kejutan di 2002 ketika hanya kalah dari Brasil di babak semifinal, justru gagal lolos ke Piala Dunia 2006. Yang paling menyedihkan adalah Belanda. Berhasil menjadi juara tiga pada tahun 2014, Belanda gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Dosa menjajah Indonesia? Ya embuh.

4. Mick Jagger yang membawa sial.

Begini bunyi mitosnya: negara yang didukung oleh Mick Jagger, pasti akan kalah. Mitos menarik yang bisa dijadikan pembaca Mojok untuk taruhan bola nanti ketika Piala Dunia. Ingat, dosa ditanggung masing-masing.

Semuanya dimulai pada Piala Dunia 2010 ketika Mick Jagger diajak Bill Clinton menonton pertandingan Amerika Serikat melawan Ghana. Apa yang terjadi? Amerika Serikat justru kalah meski diunggulkan. Masih di Piala Dunia 2010, vokalis The Rolling Stones itu mendukung Brasil ketika melawan Belanda? Apa yang terjadi? Brasil gulung tikar.

Masih di kompetisi yang sama, Jagger juga datang ke stadion ketika Inggris melawan Jerman. Tentu, ia mendukung Inggris, negara kelahirannya. Hasilnya? Inggris dibantai Jerman dengan skor 1-4. Sudah kena kutukan tak akan juara lagi, Inggris mendapat dukungan Mick Jagger pula. Kalau main Mobile Legend, mungkin ini namanya double kill. Mati dua kali. Berat.

Kutukan Jagger masih berlanjut ketika ia mendukung Brasil di 2014. Hasilnya? Brasil dibantai Jerman 1-7. Yang menarik adalah ada dua suporter Brasil yang membuat poster Mick Jagger mengenakan seragam Jerman. Harapannya, kutukan ini bisa ditangkal dan justru melukai Jerman. Tapi ada daya, kutukan Jagger lebih kuat ketimbang doa pendukung Brasil.

5. Indonesia lolos ke Piala Dunia.

Bukan bermaksud tidak nasionalis. Namun, melihat situasi Liga Indonesia yang “seperti ini”, bahkan “si bukan anak indigo” bisa meraba bahwa Indonesia tidak akan pernah bisa lolos ke Piala Dunia.

Lha wong jadwal pertandingan saja bisa “diubah semau saya” kok. Masih ditambah kekerasan terhadap wasit, gaji pemain yang terlambat dibayarkan, pejabat teras yang absen memimpin demi ambisi politik, mafia berkuasa, dan lain sebagainya. Liga Indonesia tidak dirancang untuk Piala Dunia, namun seperti sebatas alat untuk memutar uang haram.

Itulah 5 mitos yang berhasil dirangkum personel Mojok Institute, si bukan anak indigo itu. Masih banyak mitos yang lain, namun personel Mojok sudah tak punya energi lagi untuk meraba. Si embah pun kehabisan energi. Baterai laptopnya ternyata ngedrop. Ya sudah, kita kembalikan kepada Robby Purba.

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2018 oleh

Tags: BrasilindigoInggrisjermanjuara ketigakutukanmitosPiala duniapiala konfederasiprancisRobby PurbaRoy Kiyoshi
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO
Urban

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Ironi kerja di Jerman lewat program Au Pair, nyaris gagal kuliah S2. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi Kejar Mimpi Kuliah S2 di Jerman: Bisa Kerja sambil Numpang Gratis di Rumah Warga, tapi Diremehkan sampai Diusir Majikan

4 Maret 2026
bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
kerja sama indonesia prancis.MOJOK.CO
Sosial

Indonesia-Prancis Teken Kerja Sama Perfilman di Candi Borobudur, Angin Segar Industri Sinema Tanah Air

29 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.