Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Piala Menpora: Patrich Wanggai di Antara Gairah dan Makian yang Terperam

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
24 Maret 2021
A A
Piala Menpora- Patrich Wanggai di Antara Gairah dan Makian yang Terperam

Piala Menpora- Patrich Wanggai di Antara Gairah dan Makian yang Terperam

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Patrich Wanggai hanya satu korban, di mana saya yakin korban lainnya akan segera muncul dan Piala Menpora hanya salah satu pendengung saja.

Miftakhul Mifta, jurnalis senior dan penulis buku Mencintai Sepak bola Indonesia Meski Kusut menyampaikan keprihatinannya lewat akun Twitter pribadi ketika Piala Menpora bergulir. Mas Fim, biasa kami para juniornya menyapa, mengingatkan kita untuk menjaga gelaran sepak bola yang mulai menggelinding lagi.

Iklan

“Tidak ada kompetisi sepak bola marah-marah. Giliran ada pertandingan, tapi tidak menjaganya. Hembok bersama-sama menjaga situasi. Bola yang sudah menggelinding ini jangan sampat berhenti lagi. Hembok bersama-sama membuktikan kalau sepak bola layak diberi kesempatan beradaptasi.” Demikian Mas Fim menulis.

Saya tidak tahu cuitan ini ditujukan kepada siapa. Namun, jika diizinkan menafsir, petuah itu dialamatkan kepada kita semua. Kepada suporter yang terlalu terbiasa berekspektasi terlalu tinggi. Kepada supoter yang terjebak di antara kegairahan dan ingatan akan makian. Kalau sudah urusan makian, tentu kita sedang membicarakan serangan rasial kepada Patrich Wanggai di tengah gelaran Piala Menpora.

Sepak bola Indonesia dan Piala Menpora akan selalu bergairah. Terlepas dari PSSI yang waras atau tidak, kompetisi yang profesional atau tidak, atau suporter bersumbu pendek atau lebih bijak. Sepak bola Indonesia bukan sekadar tontotan, tetapi sudah masuk dalam ranah cinta. Dan di dalam cinta, terperam kebencian kepada pihak berlawanan. Selalu begitu.

Sejarah sepak bola Indonesia adalah sejarah akan “kekerasan”, bukan prestasi. Tolong dipahami bahwa saya menyematkan tanda kutip di antara kata kekerasan. Dan stadion menjadi semacam sasana di mana kebencian itu dipupuk secara masif. Dan di antara kebencian itu, ada makian yang menjadi katarsis.

Yoga Cholanda, dalam tulisannya di Fandom berjudul “Patrich Wanggai dan Tak Ada Ruang Debat dalam Melawan Rasisme” menegaskan bahwa serangan rasial sudah terjadi sejak dulu.

“Hal-hal semacam ini sudah tertanam jauh di alam bawah sadar sampai-sampai kita tak lagi menyadari bahwa itu tak bisa dibenarkan. Inilah mengapa rasisme itu berbahaya. Efeknya tidak akan langsung muncul (slow burn). Ketika kita mengajari anak-anak kita untuk tidak menyukai golongan tertentu, mereka tidak akan langsung berbuat sesuatu,” tulis Yoga.

“Mulanya anak-anak kita akan memandang dari kejauhan seraya mencari bukti dan pembenaran dari apa yang kita ajarkan. Lalu ketika mereka telah dewasa, segalanya sudah terlambat. Mereka akan menjadi pembenci yang bakal menormalisasi kebencian dan kekerasan. Ketika rasisme tertanam dalam diri seseorang, mendehumanisasi para liyan akan jadi sesuatu yang sangat mudah. Para liyan itu akan dipandang sebagai manusia-manusia yang “levelnya” ada di bawah kita, dan dengan demikian, kita berhak menindas mereka. Apa ini yang ingin kita wariskan ke anak cucu?” Lanjutnya.

Kalimat Yoga tepat sasaran. Namun, di satu sisi, dia membuat kesalahan. Mas Yoga, kamu tak perlu mempertanyakan apakah kejahatan yang terjadi di Piala Menpora ini akan kita wariskan ke anak cucu? Karena pada kenyataannya, kebencian itu sudah sukses diwariskan dan akan terus langgeng selama manusia masih ada di muka bumi.

Piala Menpora cuma sebuah “panggung yang lain”. Serangan kepada Patrich Wanggai “yang lain” akan terus terjadi. Saya yakin kita punya kesadaran yang sama bahwa ketika kasus serangan rasial kepada Patrich Wanggai, keramaian itu hanya terjadi di media.

Polisi siber, mohon maaf, saya pesimis punya kekuatan untuk turun dan memberikan “semacam keadilan”. PSSI? Sudah sibuk menjaga kewarasan kompetisi Piala Menpora. Jangan bebani federasi yang tunggang-langgang dan susah payah hanya untuk menggelar sebuah kompetisi pra-musim.

Apakah PSSI berani menjatuhkan sanksi kepada suporter yang menyerang Patrich Wanggai di tengah gelaran Piala Menpora ini? Chelsea pernah menjatuhkan sanksi kepada suporternya yang terbukti rasis. PSSI berani?

Keraguan di dalam hati saya bukan tanpa alasan. Dulu, ketika masih kanak, ujaran kebencian dan makian rasis sudah menjadi “barang yang biasa” saja ketika mengunjungi stadion. Sebuah sanctuary di mana sepak bola seharusnya dirayakan dengan gembira itu.

Mereka yang lebih tua tidak memberikan pelajaran yang baik kepada generasi muda. Mereka menirukan suara monyet ketika pemain dari Papua tengah menggiring bola. Bukan hanya tiruan suara, beberapa orang tua malah menjadikan mereka bahan olokan. “Wah, ada monyet main bola.”

Situasi jahat itu terus berdengung di kepala saja yang masih penuh oleh film kartun dan kebahagiaan yang meluap karena bisa datang ke stadion. Saya menelan kalimat jahat itu sebagai sebuah olok-olok belaka. Sesuatu yang terperam lama itu berubah menjadi kebiasaan.

Kini, generasi muda yang sejak kanak dijejali makian dan kebencian terhadap liyan menggaungkan kejahatan yang sama di Piala Menpora ini. Mereka memberikan contoh kepada generasi selanjutnya. Persis seperti ketika belajar membenci tanpa mereka sadari.

Awalnya belajar memaki, membenci, lalu menyerap segala dendam menjemukan itu. Terjadilah aksi baku hantam dan saling membunuh di antara suporter. Sama seperti kekerasan, di tengah suporter, terjadi juga aksi mewariskan dendam. Masalah ini belum terurai dan kita semua cenderung malas untuk mengurainya.

Iklan

Siapa yang mau bekerja keras membuka jalan damai atau mengajarkan bahwa memelihara dendam itu tidak sehat? Omong kosong. Toh lebih enak membenci ketimbang mengasihi. Membenci tidak menuntutmu untuk berpikir terlalu keras, sementara mengasihi menuntut jiwa-jiwa dewasa yang didapat dari proses berpikir. Terkadang, lebih mudah untuk membunuh daripada berpikir.

Ini kenyataan dan tantangan kita bersama. Bukan tanggung jawab federasi dan polisi siber saja. Hanya edukasi secara masif di akar rumput yang bisa perlahan mengikis ingatan akan makian dan dendam itu. Patrich Wanggai “yang lain” masih akan terjadi dan Piala Menpora hanya salah satu pendengung saja.

Kamu merasa terganggu dengan tulisan ini? Bagus. Karena dengan begitu, kamu sadar bahwa kejahatan di sepak bola memang ada. Meski terkadang tidak kamu malas mengakuinya.

BACA JUGA Piala Menpora, Kabar Baik dengan Tumbal Nyawa? dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 24 Maret 2021 oleh

Tags: kasus rasialPatrich WanggaiPersijapiala menporapiala menpora 2021PSM Makassarrasis
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Anies Baswedan, Jangan Anggap Enteng Ambruknya Pagar Tribun Utara JIS MOJOK.CO

Anies Baswedan, Jangan Anggap Enteng Ambruknya Pagar Tribun Utara JIS

27 Juli 2022
Match Fixing Terjadi di Liga 1? Sejumlah Wasit Diperiksa MOJOK.CO

Match Fixing Terjadi di Liga 1? Sejumlah Wasit Diperiksa

22 Oktober 2021
Sleman Fans Diserang Buzzer: Usaha Menjauhkan PSS Sleman dari Rumahnya MOJOK.CO

Sleman Fans Diserang Buzzer: Usaha Menjauhkan PSS Sleman dari Rumahnya

20 Oktober 2021
Bayang Gegeran PSS Sleman di Tengah Gairah Hambar Persib dan Persija MOJOK.CO

Bayang Gegeran PSS Sleman di Tengah Gairah Hambar Persib dan Persija

3 Oktober 2021
Surat Marcus Rashford Mengingatkan Kita Bahwa Plesetin Manchester United Jadi ‘Munyuk’ Itu Rasis, Bego! MOJOK.CO

Surat Marcus Rashford Mengingatkan Kita Bahwa Plesetin Manchester United Jadi ‘Munyuk’ Itu Rasis, Bego!

13 Juli 2021
Marc Klok Tinggalkan Persija, MoneyKlok, dan Kecerdikan Persib Bandung

Marc Klok Tinggalkan Persija, MoneyKlok, dan Kecerdikan Persib Bandung

30 Juni 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki MOJOK.CO

Jok motor Honda Verza tua itu sudah sobek, tangki penyok, spion patah diserempet truk, tapi menolak pensiun menemani saya 12 tahun mengejar rezeki menembus pegunungan Banjarnegara

27 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Gus Yahya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU: Nahdlatul Ulama harus bersinergi dengan pemerintah untuk kemaslahatan rakyat MOJOK.CO

Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata

27 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.