Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Arsenal Berhati Nyaman: Tapa Online untuk Sultan DIY yang Sedang Gelisah

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
22 September 2020
A A
Arsenal Berhati Nyaman: Tapa Online untuk Sultan DIY yang Sedang Gelisah MOJOK.CO

Arsenal Berhati Nyaman: Tapa Online untuk Sultan DIY yang Sedang Gelisah MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pak Sultan, di antara kita belum ada rasa victoria concordia crescit. Kalau ada waktu, mari mendengarkan saya mendongeng tentang Arsenal yang berhati nyaman.

Lima tahun lalu, kalimat “Arsenal berhati nyaman” mengawali dua judul tulisan saya yang tayang di Fandom. Kalimat tersebut menjadi pengantar sebuah kritikan untuk Yogjakarta. Kritikan untuk pembangunan hotel dan mal yang tidak dibutuhkan, serta tingginya intoleransi di Yogjakarta.

Iklan

Kata “Arsenal” di dalam judul menjadi sebuah pembanding saja. Ketika seorang fans Arsenal justru menemukan hati yang nyaman dari sebuah klub, alih-alih kota kelahirannya. Lima tahun berselang, saya merasa keadaan tidak berubah. Bahkan, jika boleh jujur, di tengah pandemi ini, keadaan menjadi lebih memprihatinkan. Bukan hanya Jogja, tetapi Indonesia.

Kalau memasukkan kata kunci “Covid-19 DIY” di mesin pencarian, kamu akan menemukan keseragaman di sana. Selalu ada kata “penambahan” dan “lonjakan”. Salah satu biangnya adalah kedatangan wisatawan. Sebetulnya tidak mengejutkan ketika Gubernur DIY, Pak Sultan, tidak pernah tegas mencegah kedatangan wisatawan.

Pernah suatu kali Pak Sultan mengancam akan menutup Malioboro ketika pesepeda memadati kawasan wisata itu. Namun, ancaman hanya sekadar angin lalu. Tidak ada bukti nyata. Hingga akhirnya terjadi klaster baru di Malioboro. Warga memang susah sekali diajak disiplin. Namun, di sisi lain, pemerintah DIY tak pernah dengan tegas “mengajari” kedisiplinan kepada warganya sendiri.

Ketika kasus Covid-19 terus bertambah, Pak Sultan mengeluarkan dua pernyataan yang menggelisahkan.

Pertama: “Lonjakan yo ra popo (lonjakan ya tidak apa-apa), njuk piye (terus bagaimana). Semuanya tergantung masyarakat aku enggak iso opo-opo (aku enggak bisa apa-apa),” kata Pak Sultan.

Kedua: “Misalnya dengan “Kidung Rumekso ing Wengi” atau doa tolak bala anggitan Sunan Kalijaga, yang dilafalkan bakda salat malam dalam suasana hening dan hati bening sebagai kidung pengusir pagebluk. Seraya bersimpuh, berpasrah diri dalam keheningan atas keberadaan-Nya, suwung hamengku ana, agar kita terbebas dari pageblug.”

Terkait pernyataan kedua, menurut Pak Sultan, selain pengobatan medis dan perjuangan, Covid-19 dapat dilawan dengan jalan perenungan kebudayaan sebagai akar hening. Sejuk sekali.

Fans Arsenal tentu sudah tidak asing dengan “perenungan diri sebagai akar hening”. Tidak asing juga dengan usaha mengejar kebahagiaan dengan menemukan kedamaian di dalam diri. Fans Arsenal mengenalnya dalam kalimat victoria concordia crescit atau kemenangan berawal dari keharmonisan.

Oleh sebab itu, saya tidak akan mengkritik soal imbauan Pak Sultan untuk melakukan “perenungan diri sebagai akar hening”. Toh banyak dari kita, terutama orang Jawa, sudah lupa akan identitasnya. Padahal, di dalam identitas itu, banyak petuah leluhur untuk menghadapi masalah seperti pageblug Covid-19 ini. Ketika orang sudah lupa akan warian leluhur, dia akan tersesat dalam kesombongan dan ketidakpedulian.

“Kidung Rumekso ing Wengi” karya Sunan Kalijaga memang bisa menjadi semacam panduan.

Teguh hayu luputa ing lara

luputa bilahi kabeh

jim setan datan purun

paneluhan tan ana wani

niwah panggawe ala

gunaning wong luput

Iklan

geni atemahan tirta

maling adoh tan ana ngarah ing mami

guna duduk pan sirno

artinya: ‘Ada lagu yang dikumandangkan tengah malam / Yang menjadikan kuat selamat / terbebas dari semua penyakit / Terbebas dari segala petaka / Jin dan setan tidak menggangu / Segala jenis sihir tidak berani / Apalagi perbuatan jahat / Guna-guna tersingkir / Api menjadi air / Pencuri menjauhi dariku / Segala bahaya akan lenyap.’

Doa memang bentuk sebuah usaha. Namun, doa tanpa usaha tidak akan “bermakna”. Ketika Pak Sultan menyerahkan nasib ke warga sendiri, lantas apa guna adanya Raja untuk menjadi petunjuk?

Ada frasa “Suryaning Mataram” di dalam gelar “Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati-ing-Ngalaga Langgeng ing Bawana, Langgeng, Langgeng ing Tata Panatagama.”

Menjadi matahari Mataram punya banyak arti. Salah satunya adalah menjadi petunjuk arah bagi rakyatnya. Kalau Raja sudah nglokro, bagaimana nasib rakyat? Nuwun sewu, ngapunten, Sinuhun. Sebagai rakyat, kami, saya punya hak untuk tapa pepe. Namun, karena Jogja sedang mendung, izinkan saya untuk tapa online saja.

Sebagai fans Arsenal, terutama di paruh akhir musim 2019/2020 dan paruh awal 2020/2021, saya menyaksikan kerja Mikel Arteta sebagai “patron”. Seorang pelatih, sekaligus penuntun bagi pemainnya yang tengah berada dalam kesusahan.

Arsenal pernah dibuat menderita oleh payahnya Granit Xhaka. Namun, Arteta “merangkul” Xhaka dan memperbaiki performanya. Ainsley Maitland-Niles pernah hampir mbalelo tidak mau bermain sebagai bek sayap. Namun, pelatih Arsenal memberinya pengertian bahwa Ainsley punya kemampuan menjadi pemain kelas dunia di banyak posisi.

Pelatih Arsenal itu tidak berujar: “…njuk piye (terus bagaimana). Semuanya tergantung Xhaka dan Ainsley. Aku enggak iso opo-opo.” Pelatih Arsenal itu menegaskan kalau Xhaka dan Ainsley itu iso. Mereka bisa untuk menjadi pemain yang lebih baik lagi. Arteta memang menyerahkan semuanya kepada kerja keras pemain. Namun, dia mengayomi, memberi contoh konkret.

Oleh sebab itu, dengan segala kekurangan yang ada di skuat Arsenal, saya tetap “merasa nyaman”. Ada keyakinan di tengah situasi sulit. Terkadang, rakyat tidak butuh janji muluk, tetapi sebuah hati yang optimis dan nyata.

Penyatuan antara rakyat dan raja akan melahirkan kehidupan yang lebih baik. Melahirkan victoria concordia crescit bagi DIY yang semakin gelisah dilanda corona. Keharmonisan itu, Pak Sultan, tidak terlihat di tengah hubungan rajo kalian kawula. Nyuwun sewu, ngapunten, Sinuhun, matur nuwun.

BACA JUGA Nggak Usah Terbeli oleh Romantisasi Jogja. Asline Biasa Wae, Lur dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2020 oleh

Tags: Arsenalcovid-19 DIYDIYgubernur diyJogjamikel artetasri sultanYogyakarta
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Romo Pitoyo dalam acara peresmian Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto Yogyakarta. MOJOK.CO

Laboratorium Alam De Britto: Pondok Perenungan Manusia agar Tak Kehilangan Hati Nurani di Tengah “Bahaya” AI

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.