Tanya

Dear Mas Agus.

Begini, Mas Agus. Mas Agus kan tahu sendiri bahwa sejak masuk masa pandemi, masyarakat kita banyak yang berbondong-bondong menggeluti hobi bersepeda. Tua muda pria wanita semuanya bergowes ria.

Nah, seperti yang mas Agus ketahui juga, bahwa seiring dengan makin banyak pesepeda ini, banyak sekali masalah yang muncul yang pada akhirnya melahirkan citra yang buruk bagi para pesepeda. Dari mulai ulah para pesepeda yang membawa sepedanya masuk ke dalam cafe, ulah para pesepeda yang berjajar pararel di jalan, sampai ulah rombongan pesepeda yang sering tak taat aturan.

Sialnya, ulah-ulah para sepeda tadi videonya banyak beredar di sosial media dan ikut menggerakkan gelombang antipati kepada para pesepeda.

Nah, sebagai seorang pemakai sepeda yang sudah sejak lama, entah kenapa, saya merasa cukup terganggu dengan gelombang antipati ini. Sudah satu bulan ini, saya jadi agak malas pakai sepeda karena labeling itu tadi.

Dulu hampir setiap hari minggu saya selalu bersepeda ke tempat-tempat yang bagus di daerah tempat saya tinggal untuk kemudian berfoto dan menguploadnya di sosial media. Namun sejak adanya gelombang labeling tadi, saya jadi enggan melakukan kebiasaan saya itu tadi.

Saya sangat rindu bersepeda seperti dulu, ketika komentar-komentar negatif terhadap para pesepeda belum sebesar dan semasif ini.

Setiap kali buka grup WhatsApp kampung, sering sekali ada postingan tentang ulah-ulah para pesepeda. Hal tersebut hampir selalu bikin saya ilfeel sendiri. Hasrat untuk kembali bersepeda pun makin menguap.

Baca juga:  Buya Syafii Maarif Padahal Cuma Naik Kereta, tapi di Mata Kita Sangat Istimewa

Menurut Mas Agus, gimana cara terbaik untuk menyikapi hal ini?

Suwun.

~Indra.

Jawab

Dear, Indra.

Begini. Tren bersepeda yang kemudian menjadi booming dan melanda orang-orang ini sebenarnya adalah tren positif yang sebenarnya harus disyukuri. Orang-orang banyak yang bersepeda baik sebagai sebuah ritual rekreatif atau sebagai sarana transportasi jarak dekat. Kita semakin dekat dengan kebiasaan bersepeda orang-orang Jepang atau Belanda. Walau memang kebiasaan ini muncul karena efek yang agak “terpaksa” dan insidentil.

Namun demikian, sekali lagi, bersepeda itu baik. Ya baik bagi kesehatan, baik bagi lingkungan. Bukankah kita sering sekali merindukan romantisme masa-masa ketika banyak orang bersepeda, udara masih bersih, belum banyak asap knalpot, dsb? Nah, tren bersepeda ini bisa menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan romantisme tersebut.

Dan kita perlu ingat, bahwa setiap tren, apa pun itu, memang sewajarnya akan menimbulkan masalah tersendiri. Sekali lagi, tren apa pun. Tren naik gunung, misalnya, ia akan menimbulkan masalah lingkungan seperti banyaknya sampah di jalur pendakian atau meningkatnya kasus pendaki yang hilang dan tersesat di di gunung. Atau tren bermain layang-layang di lingkungan perkotaan yang bisa menimbulkan masalah berupa banyaknya lintangan senar tajam yang bisa melukai orang. Sampai tren bermain game online yang bisa membuat anak-anak tak segan mencuri uang orangtuanya demi bisa punya ongkos buat main game online.

Baca juga:  5 Panduan Ampuh Menurunkan Berat Badan dengan Bersepeda Ala Kru Mojok

Dalam kasus tren bersepeda ini, masalahnya adalah munculnya banyak pesepeda-pesepeda kambuhan yang bersikap sembrono dan seenaknya.

Tentu saja ini wajar. Misal ada seribu pesepeda baru yang mulai hobi gowes, masak iya dari seribu itu semuanya orang taat aturan semua, kan nggak mungkin. Nggak mungkin juga seribu orang itu pinter semua, pasti ada beberapa yang bodo.

Nah, dengan menyadari hal tersebut, maka penyikapan Anda yang paling tepat ya jangan terlalu memikirkan apa kata orang. Anggap sentimen negatif dari orang-orang tentang para pesepeda itu sebagai kewajaran belaka. Itu adalah bagian dari dinamika sebuah tren, yang memang sewajarnya disertai oleh masalah.

Saya tak punya saran apa pun selain tetaplah bersepeda walau mulai banyak video pesepeda-pesepeda bodoh dan ngawur beredar di sosial media. Walau banyak komentar-komentar negatif terhadap para pesepeda. Tetaplah bersepeda dengan baik dan taat aturan untuk menandingi jumlah pesepeda bodoh dan ngawur yang jumlahnya semakin banyak saja itu.

Bersepedalah dengan kesadaran karena lingkungan, kesehatan, dan kesenangan diri sendiri. Bukan karena label atau penilaian dari orang-orang.

Sekali lagi, bersepeda itu baik dan akan selalu baik. Jangan berhenti hanya karena takut dengan label yang tak baik.

~Agus