ADVERTISEMENT

Memahami Asal Usul dan Makna Gaya Hidup Slow Living, Soft Living, dan Frugal Living

Asal Usul dan Makna Gaya Hidup Slow Living, Soft Living, dan Frugal Living

Istilah gaya hidup slow living, soft living, dan frugal living masih sering muncul di media sosial. Ketiga gaya hidup itu masih menjadi perbincangan, dan banyak orang yang menganut salah satunya. Orang-orang juga kerap dengan mudahnya melabeli kehidupan orang lain dengan istilah tersebut. Sayangnya, mereka juga kerap keliru memahaminya.

Secara istilah, ketiganya memang berbeda, namun memiliki satu benang merah yaitu menawarkan kehidupan yang lebih sederhana dan lebih seimbang. Secara umum, slow living memiliki penekanan pada hidup yang lebih sadar dan nggak terburu buru. Kalau soft living, fokusnya ada di kenyamanan dan ketenangan. Sedangkan frugal living, berfokus pada bagaimana cara mengelola uang dan sumber daya secara bijak.

Apa itu slow living?

Slow living boleh jadi merupakan gaya hidup yang kerap orang salah pahami. Mereka kerap mengira bahwa gaya hidup ini sama dengan hidup di desa, punya rumah di tengah sawah. Ini pemahaman yang keliru. Slow living itu mengajak orang untuk memperlambat ritme kehidupan, mengajak untuk nggak terburu-buru. Gaya hidup ini justru mengajak kita memilih aktivitas yang benar-benar penting.

Konsep slow living muncul pertama kali di Italia pada tahun 1980-an. Gerakan ini awalnya hadir dengan nama “slow food” sebagai respons terhadap budaya makanan cepat saji. Carlo Petrini, pemrakarsa gerakan ini, saat itu memprotes adanya McDonald’s di Roma. Petrini melakukan protes ini juga sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi kuliner lokal Italia.

Seiring berjalannya waktu, konsep atau gerakan ini berkembang menjadi lebih besar. Slow food yang awalnya hanya fokus pada persoalan makanan, berkembang di banyak aspek. Lalu muncullah istilah slow fashion, slow travel, dan lain sebagainya. Puncaknya adalah ketika Carl Honoré, jurnalis asal Kanada, merilis buku berjudul “In Praise of Slowness” pada 2004 yang menjadikan istilah slow living semakin dikenal secara global.

Dalam praktiknya, slow living bisa berarti mengurangi jadwal yang terlalu padat, menikmati makanan tanpa terburu-buru, membatasi notifikasi, atau menyediakan waktu untuk keluarga. Intinya adalah bagaimana hidup dengan lebih seimbang, dengan masing-masing aspek mendapatkan porsinya yang cukup. Fokusnya bukan sekadar melakukan aktivitas dengan pelan, tapi juga menjalani aktivitas dengan lebih sadar.

Jadi, slow living nggak sesederhana kabur dari kota untuk hidup di desa dengan harapan bahwa hidup akan lebih enak. Tekanan hidup di desa itu nggak kalah besar ketimhang hidup di kota. Sebagai orang desa, saya bahkan ragu bahwa orang kota akan kuat hidup di desa, apalagi kalau niatnya untuk slow living.

Apa itu soft living?

Soft living dan slow living sebenarnya memiliki banyak kemiripan. Keduanya sama-sama berakar pada konsep slow food pada tahun 1980-an di Italia. Namun, konsep soft living ini baru tenar nyaris tiga dekade setelahnya, tepatnya pada tahun 2020-an. Konsep ini berkembang melalui para konten kreator di Nigeria.

Konsep soft living menitikberatkan pada kehidupan yang tenang, nyaman, dan minim tekanan. Konsep ini mencoba untuk melawan budaya hustle, yang kerap berakibat stress karena terlalu fokus kerja sampai lupa menikmati hidup. Soft living juga hadir sebagai bentuk perlawanan psikologis terhadap tekanan ekonomi, krisis global, serta tingginya tingkat burnout.

Soft living mengajarkan untuk menjaga energi, menentukan batasan, dan nggak memaksakan diri berada dalam tekanan. Bentuknya bisa sangat sederhana, seperti istirahat yang cukup, nggak memaksa ambil kerjaan kalau merasa nggak mampu, dan menghabiskan waktu di rumah. Intinya cari kegiatan atau keputusan yang bikin pikiran tenang dan nyaman, lah. Nggak harus mewah juga, kok.

Apa itu frugal living?

Orang-orang kerap menyalahartikan frugal living sebagai konsep hidup yang pelit. Ini jelas salah besar. Frugal living adalah konsep hidup hemat dan sadar finansial. Frugal living itu fokusnya tentang bagaimana kesederhanaan dan sikap bijak dalam pengelolaan sumber daya, khususnya uang. Tujuannya agar alokasi uang kita itu tepat sasaran, dan agar kita bisa hidup aman (secara finansial) di masa tua.

Jika menengok ke belakang, frugal living punya sejarah yang lebih jauh dan lebih kompleks. Konsep ini mengakar pada banyak sekali kejadian dalam sejarah peradaban manusia. Mulai dari The Great Depression, berbagai macam krisis dunia, hingga pandemi menjadi dasar munculnya konsep hidup ini. Rentetan kejadian dalam sejarah peradaban manusia membuat orang mau nggak mau untuk bersikap lebih bijak, termasuk dalam mengelola uang mereka.

Orang yang menerapkan frugal living akan mempertimbangkan manfaat sebelum membeli sesuatu. Nggak harus memilih barang termurah, tapi pilih barang yang paling sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Frugal living lebih menekankan pilihan sadar untuk mengurangi konsumsi berlebihan dan memberi ruang bagi hal-hal yang lebih bermakna. Biar nggak impulsif, lah.

Perbedaan mendasar ketiga gaya hidup

Dari ketiga gaya atau konsep hidup di atas, ada perbedaan mendasar yang memecah ketiganya. Perbedaan mendasarnya adalah tentang aspek apa yang ingin kita perbaiki. Laku hidup slow living fokusnya untuk memperbaiki ritme hidup. Soft living fokusnya untuk memperbaiki cara kita memperlakukan diri sendiri. Sedangkan frugal living fokus untuk memperbaiki hubungan kita dengan uang dan pola konsumsi.

Apakah ketiganya bisa berjalan bersamaan? Tentu saja bisa. Kita bisa menerapkan slow living dengan mulai mengurangi aktivitas yang nggak penting. Kita juga bisa menerapkan soft living dengan menyediakan waktu untuk istirahat. Di waktu yang sama, kita juga bisa sekalian mengatur keuangan dan pengeluaran dengan lebih bijak. Sebagian dari kita mungkin tanpa sadar sudah menerapkan ketiganya secara bersamaan.

Terapkan sesuai kemampuan

Slow living, soft living, dan frugal living memang bukan sebuah keharusan. Ketiganya bukan konsep hidup yang wajib kita terapkan. Ketiganya adalah pilihan. Kita bisa memilih semuanya, salah satu, bahkan kita juga bisa untuk nggak memilih semuanya. Balik lagi, ini soal kemampuan masing-masing orang. Nggak semua orang mampu menerapkan salah satu atau bahkan ketiga konsep hidup tersebut.

Terlepas mampu atau nggaknya kita menerapkan, minimal kita sudah paham tentang ketiga konsep hidup itu. Kita sudah paham bahwa ketiganya punya dasar yang kuat, dan bukan sekadar tren media sosial. Dengan pemahaman itu, kita juga berharap nggak akan menemukan lagi orang yang menganggap slow living itu hidup di desa dan punya rumah di tengah sawah.

Terakhir diperbarui pada 11 September 2026 oleh .

Admin

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version