ADVERTISEMENT

Pengertian Mindfulness Menurut Para Ahli, Bukan Semata Mengosongkan Pikiran

Pengertian Mindfulness Menurut Para Ahli, Bukan Semata Mengosongkan Pikiran

Istilah mindfulness kembali populer di tengah masyarakat beberapa waktu terakhir ini. Video Maudy Ayunda tentang “mengambil jarak dari berita buruk dan situasi kacau” dengan dalih mindfulness jadi salah satu penyebabnya. Setelah itu Maudy Ayunda memang dihujat habis-habisan, dibilang tone deaf, tapi kalau bukan karena videonya, kesadaran dan pemahaman publik akan mindfulness tidak akan sebanyak dan sebesar sekarang.

Pengertian mindfulness bukan sekadar tentang duduk diam, memejamkan mata, lalu bermeditasi. Psikologi modern mengaitkannya dengan kemampuan memberikan perhatian secara sadar terhadap pengalaman yang sedang berlangsung, tanpa buru-buru menilai atau bereaksi terhadapnya. Konsep ini sebenarnya memiliki akar panjang dalam tradisi Buddhis. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, mindfulness berkembang menjadi topik penelitian psikologi dan kesehatan mental.

Apa itu mindfulness?

Sederhananya, mindfulness sebagai sebuah ide dapat dipahami sebagai kesadaran penuh terhadap apa yang sedang terjadi saat ini. Mindfulness juga bisa dimaknai sebagai kemampuan sadar untuk memfokuskan perhatian sepenuhnya pada pengalaman saat ini secara sengaja dan tanpa menghakimi. Mindfulness berasal dari salah satu praktik meditasi dalam tradisi orang Buddhis di Burma (sekarang Myanmar) pada akhir abad ke-19. Secara perlahan, ide dan praktik ini berkembang dan menyebar ke seluruh dunia.

Definisi Mindfulness paling asyik muncul dari Jon Kabat-Zinn, seorang profesor kedokteran dari University of Massachusetts Medical School. Beliau mengembangkan program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), dan mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang diberikan secara sengaja pada saat ini dan tanpa menghakimi. Definisi tersebut kemudian menjadi salah satu rumusan yang paling banyak digunakan dalam pembahasan mindfulness modern.

Maksudnya, mindfulness bukan berarti mengosongkan pikiran dan berlaku tak acuh. Kita hanya perlu fokus akan apa yang terjadi sekarang, tanpa perlu memikirkan apa-apa yang terjadi di luar sana. Selain itu, kita juga dituntut untuk lebih bijak dalam merespons sesuatu, tidak mudah terbawa, dan tidak reaksional.

Mindfulness menurut para ahli

Selain Jon Kabat-Zinn, ada beberapa ahli yang memiliki pendapat mengenai konsep mindfulness. Kirk Warren Brown, psikolog dari Carnegie Mellon University dan Richard M. Ryan, profesor psikologi dari Australian Catholic University, memandang mindfulness sebagai kualitas kesadaran yang berkaitan dengan perhatian dan kesadaran terhadap pengalaman saat ini.

Brown dan Ryan memaparkan bahwa perhatian terhadap apa yang sedang terjadi pada saat ini menjadi bagian mendasar dari mindfulness. Presence secara fisik saja tidak cukup, sebab harus ada kesadaran penuh dan pengalaman yang nyata.

Ada pula Scott R. Bishop, seorang pengajar dan psikolog di Toronto University, yang membagi mindfulness dalam dua model. Pertama, seseorang mengatur perhatian (fokus) agar tetap tertuju pada pengalaman yang sedang berlangsung. Kedua, orang tersebut mempertahankan sikap terbuka (tanpa penghakiman), penuh rasa ingin tahu, dan menerima pengalaman yang muncul.

Melalui dua model ini, Bishop ingin mengatakan bahwa mindfulness bukan sekadar fokus saja. Seseorang bisa saja fokus mengerjakan sesuatu tetapi berada dalam tekanan atau penghakiman. Dalam konsep mindfulness, perhatian tersebut berjalan beriringan dengan sikap terbuka terhadap apa yang sedang dialami.

Thích Nhất Hạnh, bapak mindfulness dunia

Thích Nhất Hạnh bukan hanya sekadar biksu saja. Thích adalah seorang aktivis perdamaian asal Vietnam, penulis, dan sosok yang berjasa dalam mengenalkan konsep mindfulness kepada dunia. Ajaran-ajarannya mengenai mindfulness dalam tradisi Buddhis terpusat di Plum Village, sebuah pusat pelatihan meditasi Zen Buddhism.

Melalui Plum Village, Thích Nhất Hạnh menggambarkan mindfulness sebagai kondisi ketika hati kembali ke saat ini, atau momen sekarang. Thích juga mengajarkan bahwa kesadaran tersebut dapat dilatih melalui aktivitas sederhana dan sehari-hari. Mulai dari melatih nafas dengan baik, berjalan dengan tidak terburu-buru, hingga makan dengan penuh perhatian.

Itulah mengapa konsep dan praktik mindfulness menurut Thích Nhất Hạnh tidak sebatas meditasi belaka. Aktivitas sehari-hari pun dapat menjadi latihan selama seseorang benar-benar hadir dan menyadari apa yang sedang dilakukan. Thích benar-benar mencoba melebarkan mindfulness sebagai sebuah jalan hidup yang praktiknya nyata, bukan sebatas ritus belaka.

Empat landasan mindfulness ala Dalai Lama

Dalai Lama, pemimpin spiritual tertinggi Buddhisme Tibet, memaparkan pandangannya mengenai mindfulness dalam konteks latihan batin tradisi Buddhis. Pandangan Dalai Lama mengenai mindfulness terdapat pada khutbah agung Maha-Satipatthana Sutta.

Dalai Lama menyebut ada empat landasan mindfulness, yaitu perhatian terhadap tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena atau objek pikiran. Lebih lanjut, Dalai Lama menjelaskan mindfulness sebagai bagian penting dari latihan untuk mengembangkan kesadaran dan pemahaman. Ini memperlihatkan bahwa mindfulness dalam konteks Buddhisme tidak hanya berkaitan dengan relaksasi, melainkan pengembangan kesadaran dan latihan batin.

Beberapa Tokoh Dunia yang Menganut Mindfulness

Popularitas mindfulness menjadikan konsep ini tidak hanya berada dalam pagar Buddhisme saja. Mindfulness sudah berhasil menembus batas-batas agama dan tradisi. Sudah banyak orang atau tokoh dunia yang menganut konsep ini. Salah satunya adalah penulis Yuval Noah Harari, yang mempraktikkan meditasi vipassana sebagai latihan mindfulness.

Ada juga mendiang Steve Jobs, yang selama hidupnya pernah mempraktikkan meditasi zen dengan cara praktik duduk dan mengamati pikirannya dengan seksama. Hasilnya, pikiran yang awalnya gelisah bisa menjadi lebih tenang, sekaligus bisa memunculkan kejernihan dalam memandang sesuatu. Bill Gates juga melakukan hal yang sama dengan Steve Jobs, yaitu meditasi dengan praktik duduk yang nyaman.

Di dunia hiburan, ada nama Oprah Winfrey yang tidak hanya menganut mindfulness, tapi juga membuat program meditasi bersama Deepak Chopra, seorang praktisi meditasi terkenal. Selain itu, Keanu Reeves juga kerap diasosiasikan dengan mindfulness, terlebih pasca bermain di film Little Buddha dan pembawaannya yang sederhana.

Kesalahan dalam Memahami Mindfulness

Salah paham paling umum adalah menganggap mindfulness sama dengan mengosongkan pikiran atau menghilangkan seluruh pikiran negatif. Pada kenyataannya, mindfulness bukan tentang mematikan otak atau memaksa pikiran menjadi sepenuhnya hening, melainkan melatih kesadaran untuk mengamati pikiran dan perasaan yang muncul tanpa memberikan penilaian (non-judgmental awareness). Ketika pikiran yang kacau datang, mindfulness mengajarkan seseorang untuk hanya menyadarinya dan membiarkannya lewat, bukannya menekan atau melawannya.

Kekeliruan lainnya adalah mengaitkan mindfulness semata-mata dengan meditasi duduk diam, dupa, atau praktik keagamaan tertentu. Padahal, mindfulness adalah teknik psikologis berbasis kesadaran yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, seperti saat makan, berjalan, hingga mendengarkan orang lain berbicara.

Mindfulness juga sering disalahartikan sebagai solusi instan untuk langsung merasa bahagia dan tenang seketika. Mitos ini membuat banyak orang merasa gagal ketika mereka tetap merasa cemas saat berlatih, padahal mindfulness adalah proses melatih respons kita terhadap rasa tidak nyaman, bukan alat untuk melarikan diri darinya.

Mindfulness bukan sekadar meditasi, juga bukan sikap tak acuh dan tone deaf

Jika menengok berbagai pandangan dan bagaimana orang-orang menganutnya, pemaknaan dan pengertian mindfulness tidak hanya sebatas meditasi saja. Mindfulness juga bukan alasan untuk orang-orang bersikap tak acuh dengan situasi sekitar atau bahkan sampai di level tone deaf seperti Maudy Ayunda.

Mindfulness mengajarkan manusia untuk tetap berada dalam kesadaran penuh. Mindfulness juga mengajarkan untuk menyadari pikiran, emosi, dan sensasi, tanpa otomatis mengikuti setiap hasrat yang muncul. Sederhananya, semua yang terjadi harus dicerna terlebih dahulu dan usahakan tidak reaksioner. Itulah mengapa meditasi jadi cara yang tepat untuk melatih mindfulness, meskipun mindfulness juga bukan sekadar meditasi belaka.

Sekarang, sudah jelas, kan, mindfulness itu seperti apa? Kalau sudah jelas, semoga setelah ini tidak ada salah paham akan hal ini lagi.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.