Istilah finansial Gen Z yang sedang populer diantaranya adalah loud budgeting, soft saving, low-buy challenge, dan underconsumption core. Loud budgeting artinya punya keberanian untuk terbuka menyampaikan batas pengeluaran. Soft saving adalah memberi ruang untuk mengambil jeda, menikmati hidup hari ini, dan mengesampingkan sejenak kekhawatiran akan masa depan. Sementara itu, low-buy challenge dan underconsumption core adalah ajakan untuk mengurangi kebiasaan belanja yang tidak perlu.
Inti dari keempat pendekatan tersebut adalah menghemat uang tanpa harus hidup terlampau susah dan masih menyisakan ruang untuk menikmati berbagai hal yang disukai.
Dulu, mengaku bokek di depan teman rasanya tabu. Sekarang, Gen Z punya keberanian untuk bisa menyatakan hal tersebut tanpa beban. Perubahan ini menunjukkan bahwa anak muda mulai mengubah cara pandang mengenai keuangan.
Istilah finansial Gen Z lahir dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harga kos naik, cicilan menumpuk, sementara gaji bulanan tidak sejalan dengan inflasi. Di tengah tekanan tersebut, anak muda mencari cara baru dalam mengelola keuangan tanpa mengorbankan seluruh kesenangan. Mari kita bedah satu-satu istilah finansial Gen Z yang sedang ramai dibicarakan ini.
Loud Budgeting
Loud budgeting adalah kebiasaan menyampaikan batas pengeluaran secara terbuka kepada teman, keluarga, atau lingkungan sosial. Komedian Lukas Battle memopulerkan istilah ini melalui video TikTok yang menarik perhatian jutaan penonton. Jadi cara kerjanya adalah kamu tidak perlu mengarang alasan untuk menolak pengeluaran yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan.
Misalnya seorang teman mengajakmu patungan buat nyewa vila di Puncak untuk menyambut tahun baru. Biaya patungannya sekitar Rp1,5 juta per orang. Kamu sebenarnya ingin ikut, tetapi bulan ini harus membayar cicilan motor dan kebutuhan sehari-hari.
Alih-alih mengarang alasan bahwa kamu memiliki acara keluarga, kamu menjawab dengan jujur, “Bulan ini duit gue kepake buat kebutuhan lain nih, jadi aku skip dulu, ya.”
Tidak perlu sedetil itu mengungkapkan neraca keuangan kepada teman yang mengajak iuran, cukup mengakui batas pengeluaran tanpa merasa minder atau malu sudah cukup.
Di lingkungan kerja, prinsip serupa bisa diterapkan ketika rekan mengadakan patungan kado untuk hadiah ulang tahun atasan. Kamu dapat mengusulkan iuran Rp25 ribu per orang agar pengeluaran tidak memberatkan siapa pun. Dengan begitu, kegiatan sosial tetap berjalan tanpa membuat seseorang merasa harus mengikuti standar pengeluaran kelompok.
Soft Saving
Soft saving adalah pendekatan keuangan yang nilainya berfokus pada pengalaman dan kualitas hidup alih-alih pada sebanyak apa uang yang kamu kumpulkan. Konsekuensinya, neraca tabungan mungkin lebih sedikit. Konsep ini menarik bagi sebagian Gen Z yang menghadapi kenaikan biaya hidup dan merasa berbagai target finansial konvensional semakin sulit dijangkau.
Misalnya gajimu Rp6 juta per bulan. Jika kamu menabung 20 persen dari pendapatan, kamu perlu menyisihkan Rp1,2 juta. Seorang penganut soft saving mungkin memilih menabung Rp600 ribu dan menggunakan sebagian uang lainnya untuk membeli pengalaman, seperti naik gunung, ikut open trip, motoran Jakarta Bandung, atau berburu kuliner viral. Bisa juga sebagai bagian dari self reward supaya tetap waras dalam menjalani rutinitas.
Pilihan tersebut mungkin terdengar salah, tapi menikmati hidup dan mempersiapkan masa depan tidak harus menjadi dua pilihan yang saling bertentangan. Masalahnya muncul ketika keinginan menikmati masa kini membuat kebutuhan masa depan terus-menerus terabaikan.
Karena itu, soft saving sebaiknya tidak diartikan sebagai kebebasan menghabiskan uang tanpa perencanaan. Kamu tetap perlu memperhitungkan biaya tempat tinggal, makan, transportasi, cicilan, dan kebutuhan mendesak. Dana darurat juga penting agar kejadian tak terduga tidak memaksamu meminjam uang.
Low-Buy, No-Buy, dan Underconsumption Core
Ketiga istilah ini sama-sama mendorong konsumsi yang lebih terkendali. Perbedaannya terletak pada seberapa ketat seseorang membatasi kebiasaan belanja dan bagaimana ia memandang penggunaan barang sehari-hari.
Low-Buy dan No-Buy Challenge
Low-buy challenge adalah tantangan untuk mengurangi pembelian barang yang tidak penting, tetapi tetap memperbolehkan pengeluaran tertentu sesuai kebutuhan dan anggaran. Sementara itu, no-buy challenge menerapkan pembatasan yang lebih ketat dengan menghentikan pembelian dalam kategori tertentu selama periode yang telah ditentukan.
Contohnya, kamu memutuskan tidak membeli pakaian baru selama satu bulan karena lemari sudah penuh. Kamu masih boleh membeli kebutuhan pokok atau mengganti sepatu yang benar-benar rusak. Dalam no-buy challenge, kamu juga bisa menetapkan aturan tidak membeli es kopi gula aren atau melakukan checkout barang di keranjang kuning selama 30 hari.
Kamu bisa memulai dengan aturan sederhana. Tetapkan anggaran jajan Rp300 ribu per bulan. Setelah batas itu tercapai, hentikan pembelian tambahan yang tidak mendesak. Jika ingin membeli sesuatu, masukkan barang tersebut ke daftar keinginan dan tunggu beberapa hari sebelum memutuskan.
Survei Credit Karma di Amerika Serikat pernah melaporkan bahwa 47 persen responden Gen Z mengikuti atau mempertimbangkan no-buy challenge. Angka tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap pengendalian belanja, meskipun hasil survei di Amerika Serikat tidak otomatis menggambarkan perilaku seluruh anak muda Indonesia.
Underconsumption Core
Underconsumption core mengajak orang membeli lebih sedikit, memaksimalkan penggunaan barang yang sudah dimiliki, memperbaiki barang rusak, dan mempertimbangkan barang bekas sebelum membeli produk baru. Tren ini juga mengkritik kebiasaan mengganti barang hanya karena muncul model atau tren terbaru.
Orang Indonesia tidak asing dengan gaya hidup ini. Kita sudah terbiasa menggunakan barang sampai benar-benar tidak bisa diperbaiki. Beberapa jasa seperti tukang tambal ban, tukang sol sepatu, dan tukang permak pakaian bisa memaksimalkan prinsip underconsumption core.
Namun, underconsumption core bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling sedikit membeli barang. Beberapa barang yang fungsinya krusial tetap harus diganti jika sudah rusak. Misalnya helm yang sudah retak ada baiknya segera diganti karena fungsinya amat krusial untuk keselamatan.
Cara Memulai Tanpa Drama
Kamu tidak perlu menerapkan keempat tren tersebut sekaligus. Mulailah dari kebiasaan yang paling sesuai dengan persoalan keuanganmu saat ini.
Pertama, catat pengeluaran selama seminggu kemudian pisahkan kebutuhan pokok, kewajiban finansial, hiburan, dan pengeluaran senang-senang. Catatan ini membantu menunjukkan bagian mana yang paling banyak menghabiskan uang.
Kedua, pilih satu kebiasaan yang ingin diubah. Jika sering mengeluarkan uang karena sungkan menolak ajakan teman, cobalah loud budgeting. Jika pengeluaran kecil terus menumpuk, terapkan low-buy challenge. Sementara itu, underconsumption core cocok untuk kamu yang sering membeli barang baru meskipun barang lama masih berfungsi.
Ketiga, tetapkan batas yang masuk akal. Jangan langsung melarang semua hiburan jika kamu belum terbiasa mengatur anggaran. Terakhir, evaluasi hasilnya setiap akhir bulan. Periksa apakah tabungan bertambah, utang berkurang, atau pengeluaran lebih terkendali.
Istilah finansial Gen Z di atas merupakan alat bantu yang bisa kamu manfaatkan untuk mengatur keuangan. Kamu boleh memilih satu, mencobanya selama sebulan, lalu menilai sendiri hasilnya. Kalau dompetmu bernapas lebih lega, teruskan. Kalau terasa menyiksa, ganti caranya.