MOJOK.COAda banyak gerakan besar-besaran yang diinisiasi oleh remaja. Greta Thunberg dengan ajakan penyelematan lingkungan. Atau remaja Hong Kong dengan demonstrasi besar-besarannya, misalnya.

Kita mengenal Greta Thunberg, seorang remaja berusia 16 tahun yang begitu getol berusaha berjuang menghentikan perubahan iklim. Di usia 8 tahun, Greta pertama kali mendengar soal perubahan iklim atau pemanasan global. Suatu hal yang membuatnya bingung. Karena istilah baru ini, ia diminta untuk menghemat energi dengan mematikan lampu. Ataupun mendaur ulang kertas untuk menghemat daya. Ia tidak habis pikir, bagaimana manusia sebagai salah satu spesies makhluk hidup bisa berperilaku sampai mengubah iklim bumi?

Greta syok. Tidak mau makan dan hanya berbicara jika ia merasa perlu. Ia divonis mengidap depresi, sindrom aspenger atau autisme, gangguan selective mutism—berbicara hanya jika merasa perlu—, dan gangguan obsesif kompulsif. Tapi yang jelas, ia memang merasa begitu sedih dan patah hati. Ia tidak terlalu berminat sekolah dan memilih fokus belajar soal perubahan iklim.

Banyak orang bilang, seharusnya ia bersekolah dan menjadi ilmuwan iklim di masa depan lantas bisa membuat penemuan demi sebuah perubahan. Namun, pikiran semacam itu, sama sekali tidak masuk akal bagi Greta.

Untuk apa ia sekolah dan repot-repot belajar untuk bisa membuat perubahan? Toh, semua solusi dan fakta itu sudah jelas-jelas ada saat ini. Semua tahu apa yang harus dilakukan. Tapi ternyata, yang punya “kuasa” juga tidak berusaha merealisasikan solusi itu. Lagipula, soal menjadi ilmuwan iklim di masa depan, ia tidak begitu yakin, apa betul bumi ini masih punya masa depan?

Bagi Greta ini aneh. Masalah sudah jelas-jelas ada saat ini, tapi ia justru diminta menunggu untuk melakukan sesuatu di masa depan. Kalau memang ingin mengubah masa depannya, bukankah ia harus melakukannya saat ini? Dan tidak menunggu nanti?

Baca juga:  Polda Metro Jaya Akan Somasi Ananda Badudu yang Diduga Beri Pernyataan Hoaks

Hingga pada Agustus 2018, ia melakukan demontrasi di depan gedung parlemen Swedia. Setiap hari Jumat dari pagi hingga sore dengan papan tuntutan untuk menanggulangi perubahan iklim. Ia bertekad melakukan aksi itu sampai anggota parlemen Swedia menetapkan aturan baru terkait perubahan iklim.

Aksi Greta menjadi sorotan. Baiknya, memotivasi remaja di negara lain untuk melakukan hal serupa. Dilansir dari BBC, pertengahan Maret lalu, 1,6 juta siswa dari 125 negara melakukan hal serupa. Mereka melakukan demonstrasi menuntut tindakan nyata terkait perubahan iklim.

Suara kegelisahan itu menyebar. Semakin banyak anak muda di dunia yang bergabung dan mendukung Global Climate Strike. Mereka bersama-sama menularkan semangat untuk memberi pemahaman bahwa ada satu hal yang harus dilakukan dan tidak bisa menunggu untuk masa depan mereka kelak.

Demonstrasi di Hong Kong pun demikian. Ternyata juga digerakkan oleh anak-anak muda berusia 20 tahunan. Mereka turun ke jalan dan menuntut perubahan besar bagi Hong Kong ke depan. Demonstrasi tersebut dipicu dengan rencana pemberlakuan RUU Ekstradisi para pelaku kriminal ke China.

Dalam RUU tersebut, memungkinkan para kriminal Hong Kong akan dikirim dan diadili ke China. Hal ini memunculkan anggapan bahwa para kriminal akan menerima perlakuan tidak manusiawi jika diekstradisi ke China dan mengikuti aturan hukumnya. Meski RUU tersebut telah ditangguhkan, tapi momentum tersebut tetap dilanjutkan untuk mengadvokasi kebebasan demokrasi yang lebih luas. Khususnya dengan kondisi ketimpangan yang tinggi di Hong Kong meskipun menjadi salah satu pusat ekonomi dunia.

Baca juga:  Ideologi Didi Kempot di Demo Mahasiswa: Bersedih, Tertawa, dan Melawan Bersama

Anak muda yang memiliki peran besar dalam demo tersebut di antaranya, Joshua Wong dan Agnes Chow yang berusia 22 tahun, serta Nathan Law yang berusia 26 tahun. Mereka adalah tiga dari beberapa pemimpin Demosisto, sebuah kelompok aktivis pemuda pro-demokrasi di Hongkong yang pro-demo.

Meski Wong dan Law merupakan dua dari beberapa orang yang pernah dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2017 karena tergabung dalam kelompok Umbrella Movement, kelompok pro-demokrasi yang sebagian besar dipimpin mahasiswa, mereka tidak jera dan tetap berusaha untuk sebuah perubahan.

Mereka adalah gambaran anak muda yang punya keberanian menentang status quo dan menjaga harapan dengan menuntut perubahan besar bagi kehidupan yang lebih baik.

Mungkin, mereka adalah contoh yang dapat menguatkan keberanian anak muda kita. Anak muda memang sering dianggap anak-anak dan tidak tahu apa-apa. Tapi, dengan keadaan negara yang tampak semakin tidak karu-karuan, apa betul kita tidak tahu apa-apa bahkan tidak bisa melakukan apa-apa?

Kita mungkin akan kesulitan punya kesempatan untuk menggaungkan dengan dekat kepada mereka yang lagi asyik ngubah-ngubah aturan, untuk bikin aturan dengan logika, bukan dengan nafsu. Tapi, bagaimanapun, bukankah anak muda juga sama-sama manusia? Yang punya hak dan kebebasan yang sama untuk berpendapat, untuk ngasih tahu kebobrokan berpikir para wakil-wakilnya.

Seperti yang dikatakan Greta, kalau kondisi yang nggak karu-karuan itu terjadi saat ini, apa masih relevan jika ada komentar semacam ini?

BACA JUGA Sudahlah, Pergerakan Mahasiswa Itu Enggak Penting Lagi atau artikel Audian Laili lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles